The Dove symbol of the Holy Spirit in Vatican

(Renungan berdasarkan Bacaan Injil Minggu Pentakosta, 9 Juni 2019: Yohanes 20: 19-23)

Hari ini kita merayakan hari raya Pentakosta, hari raya Roh Kudus yang datang dalam bentuk lidah api dan memenuhi hati para murid. Pertanyaannya yang bisa kita angkat adalah: Mengapa kita menyebut hari ini sebagai Pentakosta? Mengapa Roh Kudus datang hanya 50 hari setelah Yesus bangkit dari kematian?

Iman kita bukan hanya ketaatan yang buta dan bodoh, tetapi iman yang mencari pengertian. Pencarian kita akan jawaban membawa kita kembali ke Perjanjian Lama. Dalam tradisi dan sejarah Yahudi, hari raya Pentakosta atau juga dikenal sebagai hari Tujuh Minggu adalah hari di mana mereka merayakan pemberian Hukum Taurat di Sinai. Lima puluh hari setelah hari Sabat Paskah Yahudi, orang-orang Israel berkumpul dan merayakan hari raya Pentakosta. Dalam Kitab Keluaran, kita akan menemukan bahwa sehari setelah tujuh minggu dari eksodus dari Mesir, Tuhan Allah menampakkan diri di Gunung Sinai, membuat perjanjian dengan Israel dan memberi mereka Hukum Taurat untuk mengatur umat-Nya. Jika Paskah Yahudi memperingati pembebasan mereka, hari raya Tujuh Minggu menunjuk pada hari Tuhan memberikan Hukum-Nya kepada Musa dan Israel di Sinai. Jadi, jika lima puluh hari setelah eksodus dari Mesir, orang Israel menerima Hukum Musa, para murid Yesus, lima puluh hari sejak hari kebangkitan menerima Roh Kudus, Hukum Kristus yang baru, yang tertulis dalam hati dan jiwa kita.

Untuk memahami Pentakosta, kita perlu memahami aspek formatif Hukum. Ketika Tuhan memberikan perjanjian dengan bangsa Israel, Dia menuntut mereka berperilaku seperti umat-Nya dan tidak mengikuti contoh bangsa-bangsa sekitar mereka. Untuk memfasilitasi ini, Allah memberi Israel seperangkat Hukum untuk dipatuhi. Sejatinya, Hukum Taurat adalah untuk membentuk bangsa Israel sebagai umat Allah. Dengan mengingat hal ini, kita sekarang dapat melihat pentingnya Pentakosta bagi para murid Yesus. Roh Kudus turun ke atas dan berdiam di dalam para murid sebagai Hukum Baru, dan sebagaimana Hukum Lama membentuk bangsa Israel yang lama, Hukum Baru adalah untuk membangun Israel Baru, yakni Gereja. Itulah sebabnya Pentakosta juga sebagai hari Gereja terbentuk atau hari lahir Gereja.

Menerima Roh Kudus di dalam hati kita adalah hak istimewa yang sangat besar, namun ini juga berarti kita juga harus hidup dalam Roh. Jika Israel kuno menyebut diri mereka sebagai umat Allah karena mereka mematuhi Hukum, maka kita dapat mengenali diri kita sendiri sebagai Umat Allah ketika kita mengikuti Roh. Namun, hidup dalam Roh bukanlah sekedar tentang bahasa roh atau bergabung dengan kelompok-kelompok Karismatik. Santo Paulus dengan jelas menyatakan untuk hidup dalam Roh berlawanan dengan desakan kedagingan kita. Ketika kita melepaskan diri dari perbuatan kedagingan seperti amoralitas, penyembahan berhala, kebencian, perpecahan, kemarahan dan kecemburuan [Gal 5:19], kita sudah berjalan dalam Roh, dan ini bahkan lebih sulit daripada berbicara dalam bahasa roh. Roh Kudus telah memberikan kepada kita tujuh karunia-Nya, tetapi apakah kita berusaha untuk menjadi bijaksana, pengertian, saleh, tekun, berpengetahuan dalam iman, takut untuk menyinggung Tuhan [lihat Yesaya 11: 1]? Ini akan menjadi kehilangan terbesar kita jika kita merayakan Pentakosta, namun kita hidup seolah-olah kita tidak pernah menerima Roh Kudus.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

 

Tinggalkan Pesan