Patung Maria yang pendek dengan rambut hitam dan keriting di Gua Maria Sandurun, di Kampung Sanggaria, Arso, Papua. (PEN@ Katolik/FrBastian)
Patung Maria yang pendek dengan rambut hitam dan keriting di Gua Maria Sandurun, di Kampung Sanggaria, Arso, Papua. (PEN@ Katolik/FrBastian)

Umat sebuah komunitas basis (kombas) di Papua selama bulan Mei berdoa Rosario bergiliran  dari rumah ke rumah sebanyak empat kali seminggu (Senin sampai Kamis). Namun, untuk meningkatkan devosi kepada Bunda Maria dan merayakan perpisahan dengan seorang frater yang sudah empat bulan bersama mereka, mereka mengadakan ziarah rohani dan rekreasi.

Tanggal 26 Mei 2019, umat Kombas Santo Yohanes Pemandi Paroki Gembala Baik Abepura, berziarah ke Gua Maria Sandurun, di Kampung Sanggaria, Arso, yang didandani aneka bunga, ukiran, bangunan dan patung Bunda Maria bergaun biru sambil menggendong Putranya. Patung Maria pendek berambut hitam dan keriting itu menampakkan wajah seorang ibu Papua yang amat mengasihi anak-anaknya.

Ziarah itu juga diikuti para frater dari Keuskupan Timika, termasuk Frater Vincentius Budi Pr yang sudah menyelesaikan praktek kuliah Proyek Umat Basis program pascasarjana STFT Fajar Timur, dan para frater dari Keuskupan Jayapura dan Keuskupan Agats-Asmat.

Rangkaian ziarah yang diikuti ketua Kombas, Enos Kassa, itu dimulai dengan berdoa Rosario dipimpin Frater Laurensius Opeyaya dari Keuskupan Timika, dilanjutkan dengan Misa yang dipimpin Kepala Paroki Arso Pastor Kris Bidi SVD. Dalam homili, Pastor Kris menekankan tiga hal yakni syalom, Roh Kudus, dan kasih.

“Kasih yang sempurna dapat kita diteladani dari cara hidup Bunda Maria. Ia dipanggil oleh Allah untuk berpartisipasi dalam karya keselamatan. Kasih yang sempurna adalah memberi diri seutuhnya dalam kehidupan komunitas atau persekutuan. Hanya dengan kasih itu kita juga dipanggil untuk berpartisipasi dalam karya keselamatan Allah demi kesejahteraan bersama,” demikian homili imam itu tentang kasih.

Gua Maria Sandurun yang diresmikan oleh Uskup Jayapura Mgr Leo Laba Ladjar OFM tanggal 20 Oktober 2003 itu dibangun di atas tanah sebesar dua hektar milik Charles Tafor. Lokasi dan patung itu ditentukan berdasarkan petunjuk dari mimpi isterinya, Petronela.

Menurut Petronela, seperti diceritakan oleh Carolina Dahai kepada PEN@ Katolik, Bunda Maria hadir dalam mimpinya sebanyak 16 kali dengan wajah berubah-ubah. “Pertama wajahnya berkulit kulit hitam dengan rambut keriting, berubah lagi menjadi kulit putih, dan berubah lagi seperti orang Cina,” katanya.

Frater Budi bersyukur mendapat kesempatan belajar bersama umat kombas yang majemuk itu, ada dari Toraja, Manado, Flores, Papua, dan Batak, ada yang PNS, guru, pedagang, wartawan, polisi, tenaga kesehatan, dan swasta. “Mereka kompak dan bersatu padu, misalnya dalam ibadat bersama setiap Rabu dan koor di gereja. Saat banjir melanda Sentani dan lingkungan mereka saling bantu, menolong sesama yang membutuhkan,” kata frater itu.

Frater Budi juga mengamati, umat kombas itu aktif dalam hidup menggereja, seperti dalam ibadat bersama, sharing Kitab Suci, dan pedalaman iman. “Keaktifan mereka sesuai semangat KBG dalam peran awam dan aksi refleksi dan aksi sosial bagi sesama.”

Persatuan dan keaktifan mereka, lanjut Frater Budi, dikuatkan dengan semangat persaudaraan seperti terlihat di akhir ziarah, saat peserta melakukan rekreasi bersama, mengayunkan langkah bersama seirama musik khas orang Kamoro.

Bapa, mama, para frater bersama anak-anak goyang seka bersama. Seka adalah goyang adat orang Kamoro yang mengungkapkan rasa kekeluargaan, kebersamaan dan damai sejahtera yang selalu hadir dalam satu komunitas.(PEN@ Katolik/Frater Sebastianus Ture Liwu)

Umat Kombas dan frater yang berziarah. (PEN@ Katolik/FrBastian)
Umat Kombas dan frater yang berziarah. (PEN@ Katolik/FrBastian)

Tinggalkan Pesan