Anak-anak Paroki Wedi, Klaten, mengenakan pakaian imam serta biarawan-biarawati dalam Hari Minggu Panggilan. PEN@ Katolik/lat
Anak-anak Paroki Wedi, Klaten, mengenakan pakaian imam serta biarawan-biarawati dalam Hari Minggu Panggilan. PEN@ Katolik/lat

Anak-anak kecil berpakaian imam serta biarawan dan biarawati dari berbagai kongregasi berjalan beriringan memasuki gereja. Wajah mereka tampak gembira dan lucu. Hari itu mereka ikut merayakan Hari Minggu Panggilan.

Namun Suster Indri OSU menginginkan agar panggilan itu dipupuk sejak dalam kandungan dengan hidup doa, karena hidup doa menjadi kekuatan suburnya hidup panggilan. “Saya ingin mengajak Bapak Ibu memupuk panggilan sejak dalam kandungan, ketika anak akan dilahirkan, bahkan pendidikan iman yang berjenjang, supaya mencintai panggilan menjadi suster, romo, atau bruder tertanam sejak kecil. Maka, doa Bapak dan Ibu sangat kami harapkan.”

Suster Indri berbicara dalam sharing Hari Minggu Panggilan di Gereja Santa Perawan Maria Bunda Kristus Wedi, Klaten, yang dirayakan 19 Mei 2019, seminggu setelah hari yang ditetapkan. Sharing beberapa imam dan calon imam serta biarawan dan biarawati menjadi bagian homili Misa itu.

Menurut Suster Indri, menjadi suster itu membahagiakan karena dia bisa berpindah-pindah tempat tugas. “Saya banyak teman, banyak saudara, banyak adik, banyak kakak. Yang awalnya tidak saya kenal, akhirnya seperti menjadi saudara saya sendiri, saudara kandung saya sendiri.”

Selain itu, dengan berpindah-pindah tugas “saya dapat melayani banyak orang dan dengan penuh cinta orang lain yang saya layani pun menerima kehadiran saya di mana saya ada.”

Kepala Paroki Wedi Pastor Aloysius Gonzaga Luhur Prihadi Pr bersyukur atas benih panggilan yang tumbuh di paroki itu. “Sudah begitu banyak imam dan suster dari Paroki Wedi dipersembahkan untuk Gereja dan dunia,” kata Pastor Luhur seraya berharap benih panggilan tumbuh subur sehingga paroki itu tetap memberikan persembahan terbaik bagi Allah.

Menjadi imam mesti siap dengan siapa pun, semua menjadi saudara dan menjadi keluarga, dan menjadi imam mempunyai tantangan yaitu ketika kebijakan keuskupan berbeda dengan kemauan pribadinya, kata Pastor Luhur. “Cara mengatasinya, saya berusaha berpegang pada prinsip, terus berusaha mencintai apa yang harus saya lakukan daripada melakukan apa yang saya senangi.”

Bruder Agustinus OFMCap dari Nias menjadi biarawan karena ingin menjawab panggilan Tuhan yang sudah tertanam sejak SMP, saat dia tinggal di asrama “yang membuat saya kerap bertemu biarawan Kapusin.”

Ketika menjadi bruder, dia merasa bahagia, karena “Saya tidak berusaha memikirkan bagaimana supaya saya kaya dan saya tidak memikirkan bagaimana supaya saya miskin. Saya tidak pernah berpikir sampai ke situ. Tapi yang saya pikirkan bagaimana supaya saya hidup sehari-hari dan menjalani hidup saya sebagai saudara.”

Bruder lain, Bruder Yohanes FIC mengatakan, tantangannya berkaitan dengan keugaharian atau kesederhanaan mengingat penggunaan alat-alat canggih saat ini menggoda dan kadang-kadang kalau tidak sadar bisa menguasai seseorang sehingga orang tidak peduli lagi terhadap lingkungan. “Maka, yang menjadi tantangan besar adalah bagaimana menggunakan alat-alat canggih itu secara bijaksana,” kata bruder itu.

Sementara itu Suster Maria Sitepu SFD mengatakan dia tertarik menjadi biarawati karena kerap melihat suster yang datang ke stasi. “Saya melihat suster itu kok bahagia, gembira. Banyak senyum, ramah,” kata suster itu.

Usai Misa, anak-anak yang tampil dengan pakaian imam serta biarawan-biarawati serta anak-anak lain diajak mengalami kebersamaan dengan para pastor, suster, dan bruder supaya makin mengenal kehidupan mereka. (PEN@ Katolik/Lukas Awi Tristanto)

Tinggalkan Pesan