Sekretaris Eksekutif Komisi Kerasulan Awam KWI Pastor Christian Siswantoko Pr. Foto ari mirifica.net
Sekretaris Eksekutif Komisi Kerasulan Awam KWI Pastor Christian Siswantoko Pr. Foto ari mirifica.net

Kami berharap para elit politik, tokoh agama dan masyarakat turut terlibat aktif dalam menciptakan suasana tenang dan damai dengan memberikan pencerahan yang mendorong terwujudnya rekonsiliasi sosial dan seruan-seruan yang menyejukkan sehingga masyarakat tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi oleh ajakan serta hasutan untuk melakukan kekerasan.

Komisi Kerasulan Awam (Kerawam) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) menyatakan harapan itu dalam pernyataan sikapnya berjudul “Mari Menjaga Kerukunan dalam Perbedaan” yang dikeluarkan di Jakarta 23 Mei 2019 untuk menanggapi kehidupan masyarakat yang belum kembali bersatu sebagai dampak dari pilihan politik berbeda serta ketidakpuasan terhadap proses dan hasil rekapitulasi Pemilu.

“Para tokoh tersebut tidak hanya menjadi pemimpin tetapi juga menjadi penjaga nilai-nilai moral, etika, dan jati diri bangsa,” tulis pernyataan yang ditandatangani oleh ketua dan sekretaris eksekutif Komisi Kerawam KWI masing-masing Mgr Vincentius Sensi Potokota dan Pastor Paulus Christian Siswantoko Pr.

Komisi itu mengamati, kehidupan berdemokrasi bangsa ini sudah semakin maju dengan ditandai tingginya partisipasi masyarakat dalam Pemilu, dan proses pemungutan serta perhitungan suara yang relatif berjalan damai.

Namun, komisi itu tetap mengajak semua pihak untuk menghormati dan menaati konstitusi. “Konstitusi sebagai payung bersama dalam hidup bersama berbangsa telah menjamin setiap warga negara untuk mendapatkan keadilan termasuk jika terjadi ketidakpuasan dan persengketaan dalam pemilu,” tegasnya.

Maka, lanjut pernyataan itu, hukum sebagai panglima di negeri ini harus benar-benar dapat memberikan rasa keadilan bagi masyarakat. “Masyarakat juga harus percaya dengan aparat penegak hukum sambil ikut mengawasinya dengan cara-cara yang beradab,” tulisnya.

Komisi Kerawam KWI juga mengajak semua masyarakat untuk tetap bergandengan tangan dan waspada terhadap kekuatan orang-orang atau pihak-pihak yang dengan sengaja ingin memanfaatkan situasi sosial politik saat ini untuk tujuan tertentu yang bertentangan dengan Pancasila dan demokrasi.

“TNI dan Polri dengan sekuat tenaga telah menjaga masyarakat agar tetap merasa damai dan mempertahankan keutuhan NKRI. Sudah semestinya juga, masyarakat secara sukarela ikut menjaga lingkungan dan tempat ibadah masing-masing sehingga dapat mencegah hal-hal yang tidak diinginkan,” tulisnya.

Komisi itu juga mengecam berbagai bentuk kekerasan yang mengarah pada tindakan anarkis dan meminta semua elemen bangsa untuk tetap mengedepankan cara-cara damai dalam menyalurkan aspirasi mengungkapkan kekecewaan, dan menyelesaikan berbagai perselisihan terkait dengan Pemilu.

“Penggunaan kekerasan tidak hanya mencederai nilai-nilai demokrasi tetapi juga bertentangan dengan kepribadian bangsa Indonesia yang selalu menjunjung tinggi kerukunan dan persatuan dalam perbedaan,” tulis komisi itu.

Komisi Kerawam KWI tak lupa berterima kasih dan menghargai Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) yang telah menyelenggarakan dan mengawasi jalannya pesta demokrasi tahun ini, dan turut berduka cita dan prihatin untuk para petugas KPPS yang meninggal dan menderita sakit.

“Mereka adalah pahlawan demokrasi yang mengabdi dengan tulus dan penuh totalitas. Semoga keluarga yang ditinggalkan mendapatkan ketabahan dan mereka yang sakit segera sembuh,” demikian pernyataan sikap Komisi Kerawam KWI menghadapi situasi yang sedang berkembang akhir-akhir ini. (PEN@ Katolik/paul c pati)

Tinggalkan Pesan