cq5dam.thumbnail.cropped.750.422 (39)
Paus Fransiskus bertemu para superior jenderal kongregasi para suster. (Vatican Media)

Paus Fransiskus bertemu sekitar 850 superior jenderal kongregasi-kongregasi para suster yang mengikuti Sidang Umum XXI Perhimpunan Para Superior Jenderal Sedunia (UISG) yang berlangsung setiap tiga tahun untuk menjawab pertanyaan mereka dan berterima kasih kepada mereka atas pelayanan mereka.

Dalam audiensi di Vatikan, 10 Mei 2019 itu, Paus merenungkan serangkaian topik termasuk persoalan-persoalan terkait pelecehan terhadap suster, diakon wanita, peran wanita dalam Gereja dan kemungkinan perjalanan apostolik ke Sudan Selatan, demikian laporan Linda Bordoni dari Vatican News.

Tetapi pertama-tama, Paus berterima kasih kepada para religius atas pilihan berani mereka untuk berkembang selaras dengan perkembangan dunia yang menunjukkan bahwa jalan baru mereka penuh risiko, “bahkan lebih berisiko kalau takut dan tidak bertumbuh.”

Terkait masalah pelecehan yang dilakukan klerus, Paus menegaskan hal itu tidak dapat diselesaikan dalam semalam. Tetapi Paus menunjuk fakta bahwa proses telah dimulai untuk mengatasi masalah ini. Dengan persoalan itu, kata Paus, “kita menjadi sadar, serta begitu malu, tetapi rasa malu yang diberkati.”

Paus menambahkan, pelecehan terhadap biarawati adalah persoalan yang harus disadari dan dihadapi: “Itu persoalan serius,” kata Paus yang terus-menerus menyebutkan bahwa religius bisa menjadi sasaran penyalahgunaan kekuasaan dan penyalahgunaan hati nurani.

Kaum religius, “harus tidak boleh menjadi pelayan seorang klerus,” kata Paus seraya menambahkan, “Mereka harus menjalankan misinya dalam dimensi pelayanan, bukan dalam misi perbudakan.”

Sejauh menyangkut status diakonat perempuan, Paus mengingatkan bahwa sebuah komisi khusus telah dibentuk atas permintaan kaum religius untuk memeriksa masalah ini secara mendalam. Dijelaskan, belum ada kesepakatan dalam komisi itu dan diperlukan dasar teologis dan historis. Namun. Paus berjanji, pekerjaan itu akan terus berlanjut.

Menurut Paus, adalah keliru kalau berpikir bahwa komitmen para suster dalam Gereja hanyalah fungsional, karena, “Gereja itu feminin.” Paus bersusah payah menggarisbawahi bahwa ini bukan hanya gambaran, melainkan kenyataan.

Seraya mengingatkan fakta dalam Alkitab bahwa Gereja itu perempuan, dia adalah “pengantin Yesus,” Paus mengatakan hal itu perlu ditingkatkan di bidang Teologi Perempuan.

Paus juga setuju dengan salah satu religius yang menyarankan agar dalam Sidang Umum UISG berikutnya, kehadiran laki-laki dapat bermanfaat untuk mendengarkan suara-suara begitu banyak religius di seluruh dunia yang, bersama-sama dengan para suster, melayani Yesus dalam berbagai kapasitas yang tak terbatas.

Paus menegaskan kedekatan dan penghargaannya terhadap para misionaris perempuan yang melayani orang-orang di negara-negara yang sangat membutuhkan seperti Republik Afrika Tengah dan Sudan Selatan, dan mengatakan keinginannya untuk mengunjungi bangsa termuda di dunia itu.

Ini bukan janji, kata Paus, tetapi kemungkinan yang mungkin akan terwujud pada kesempatan apostolik ke Mozambik, Madagaskar dan Mauritius. “Saya ingin pergi. Sudan Selatan ada di hatiku.”(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatican News)

Artikel Terkait:

Persatuan superior jenderal internasional tetap solider dengan semua korban pelecehan

Pastor Lombardi: Paus tak bicara pentahbisan perempuan sebagai imam

cq5dam.thumbnail.cropped.750.422 (41)cq5dam.thumbnail.cropped.750.422 (40)

Tinggalkan Pesan