Pastor Goce Kostov dan keluarganya berbicara dengan  Paus Fransiskus dakam pertemuan dengan para imam dan religius di Skopje  hari terakhir kunjungan apostoliknya ke Bulgaria dan Makedonia Utara (Vatican Media)
Pastor Goce Kostov dan keluarganya berbicara dengan Paus Fransiskus dakam pertemuan dengan para imam dan religius di Skopje hari terakhir kunjungan apostoliknya ke Bulgaria dan Makedonia Utara (Vatican Media)

Kunjungan Paus Fransiskus ke Makedonia Utara “menunjukkan kebesaran Gereja Katolik,” kata seorang imam Katolik ritus Timur yang tanggal 7 Mei 2019 berbicara dengan Paus tentang pengalamannya sebagai seorang imam yang sudah menikah dan tentang betapa pentingnya doa dalam keluarga ketika dia kehilangan putrinya 14 tahun lalu.

Hari itu Paus mengakhiri perjalanan kerasulannya ke Bulgaria dan Makedonia Utara setelah seharian menemui umat Kristiani dan pemimpin agama di Skopje, ibu kota Makedonia Utara. Setelah kunjungan itu, Pastor Goce Kostov, seorang imam Katolik ritus Timur dari Makedonia, berbicara kepada Vatican News pengalamannya tentang kehadiran Bapa Suci dan pertemuannya dengan Paus.

“Ada sekitar 20.000 umat Katolik tersebar di seluruh Makedonia Utara,” kata Pastor Kostov. Negara itu sangat Ortodoks Timur, dan kunjungan kunjungan Bapa Suci ke “komunitas kecil yang hidup seperti itu menunjukkan kebesaran Gereja Katolik, dan kami merasakan persatuan dalam iman yang berasal dari persekutuan dengan Petrus.”

Pastor Kostov juga berterima kasih atas kehadiran umat beriman dan para pemimpin dari denominasi-denominasi dan agama-agama Kristen lainnya dalam Misa Paus di Skopje hari Selasa. “Kehadiran mereka memperkaya keindahan acara itu,” kata pastor itu seraya berharap pertemuan antara umat Kristen dan anggota-anggota agama lain ini akan memberi kekuatan bagi dialog ekumenis dan antaragama lebih lanjut. “Dialog ini sangat penting untuk Makedonia, dan harus terus-menerus.”

“Saya seorang imam dari ritus Bizantium, dan saya menikah dengan empat putra,” kata Pastor Kostov. “Kami juga punya satu anak perempuan, tetapi dia meninggal 14 tahun lalu, hanya hidup selama 14 hari.”

Hari Selasa itu, dia bersama keluarganya mendapat kesempatan berbicara dengan Paus secara pribadi, antara lain berbagi pengalaman dengan Paus tentang pentingnya doa keluarga di saat-saat berkabung.

Doa keluarga itu, “menguatkan dalam iman dan persekutuan kami,” katanya kepada Paus. “Sangatlah istimewa bagi kami bisa berbagi dengan Paus tentang pentingnya kehidupan keluarga bagi pekerjaan pastoral.”

Sebaliknya, Paus berbicara dengan Pastor Kostov dan keluarganya tentang peran yang sangat diperlukan dari gereja domestik. (PEN@ Katolik/pcp berdasarkan laporan Joachim Teigen/Vatican News)

Tinggalkan Pesan