Eksorsisme

Untuk pertama kalinya di Indonesia akan dilakukan Konferensi Eksorsisme guna memperdalam pelayanan eksorsisme dalam tradisi Gereja Katolik kepada Imam secara khusus dan umat gerejani secara umum sehingga umat memiliki pengetahuan dan pemahaman yang tepat dan benar mengenai pelayanan itu dari segi ajaran iman, Kitab suci, liturgi, hukum Gereja, dan moralitas.

Pastor Mingdry Hanafi Tjipto OP, seorang imam Dominikan dari Indonesia yang berkarya di Pontianak mengatakan itu kepada PEN@ Katolik, 25 April 2019. “Tujuan khusus konferensi itu adalah mengajar khalayak publik gerejani secara umum yang berkeinginan untuk sekedar tahu atau mau belajar lebih dalam mengenai pelayanan eksorsisme,” tegasnya.

Dikatakan, selain memberikan pemahaman dasar teologis kepada pemimpin umat, pemimpin kelompok kategorial, intelektual Katolik dan pewarta umat tentang esensi pelayanan eksorsisme dalam Gereja Katolik, “kami berharap pelayanan eksorsisme diperluas  kepada para Imam dan kaum religius sehingga mereka bersedia terlibat dan mendapat pembekalan pelayanan eksorsisme ini atas ijin uskup di tempat mereka bertugas.”

Menurut Hukum Kanonik 1172  § 1, “Tak seorang pun dapat dengan legitim melakukan eksorsisme terhadap orang yang kerasukan, kecuali telah memperoleh izin khusus dan jelas dari Ordinaris wilayah.” Eksorsisme berasal exorcizare (Latin) yang berarti mengusir atau menghalau setan.

Menurut Pastor Mingdry, konferensi eksorsisme sangat didukung oleh Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus dan bersedia menjadikan Pontianak sebagai tuan rumah. “Kami harapkan konferensi ini dihadiri oleh para imam, biarawan-biarawati, pemimpin umat awam seperti ketua lingkungan dan ketua wilayah, ketua kelompok kategorial seperti Perdhuki, Pukat, ME, Choice, Karismatik, Legio Maria dan ISKA, serta semua umat Katolik,” kata imam itu.

Dijelaskan oleh Pastor Mingdry yang kini bertugas sebagai anggota Yayasan Landak Bersatu yang menjalankan STKIP Pamane Talino di Ngabang, Kalimantan Barat, konferensi itu akan menghadirkan dua pembicara utama dari Kantor Eksorsisme Keuskupan Agung Manila, Filipina, yakni Ketua Eksorsis Keuskupan Agung Manila Pastor Jose  Francisco Syquia  dan Eksorsis Keuskupan Agung Manila Pastor Winston Cabading OP.

Pastor Syquia  adalah putra tertua kedua dari lima putra pasangan yang kaya almarhum Duta Besar Enrique Syquia dan Letica. Ia dibesarkan di North Forbes Park, Makati City, memasuki seminari tahun 1989 dan menyelesaikan pembinaan Seminari Tinggi San Carlos dan Seminari Pusat Universitas Santo Tomas (UST) tempat dia meraih gelar Sarjana Filsafat dan Magister Psikologi. Sarjana Teologi Suci dari Fakultas Eklesiastikal UST itu meraih Lisensiat Teologi Spiritual dari Angelicum di Roma. Keduanya diselesaikan dengan pujian magna cum laude.

Pastor Syquia bertugas sebagai konsultan di Komisi Visi dan Fenomena Keuskupan Agung Manila. Saat ini, ia menjadi Direktur Kantor Eksorsisme Keuskupan Agung Manila. Formator dan direktur rohani serta profesor di Seminari Tinggi San Carlos itu adalah penulis buku “Exorcism: Encounters with the Paranormal and the Occult.”

Selain Pastor Mingdry sendiri, imam-imam lain yang juga akan menjadi pembicara konferensi itu adalah Pastor Anton Silvanus sebagai Ketua Kantor Eksorsisme Keuskupan Agung Pontianak, Pastor Johanes Robini Marianto OP sebagai anggota Kantor Eksorsisme Keuskupan Agung Pontianak, Pastor Valentinus Bayu OP, Pastor Bernadus Boli Ujan SVD sebagai professor liturgi dari STFK Ledalero, dan Pastor Yohanes Driyanto sebagai Vikaris Yudisial Keuskupan Bogor.

Menurut Pastor Robini, eksorsis Keuskupan Agung Pontianak, eksorsisme adalah pelayanan Gereja yang sangat mulia dan merupakan tradisi pelayanan yang terintegral di dalam penginjilan. “Penebusan Kristus menghapus dosa asal dan membuat manusia lepas dari cengkeraman setan. Namun, akibat dosa asal ada luka dosa dan kecenderungan berbuat dosa dan inilah tempat si jahat gampang menggoda dan memainkan peranan,” jelas imam itu. (PEN@ Katolik/paul c pati)

Poster Eksorsisme

Tinggalkan Pesan