Warga Binaan
Pastor Herman Yosef Bataona CMF membasuh dan mencium kaki para warga binaan di LP. Foto Panitia

Dalam Misa Kamis Putih di LP Pemuda Tangerang, kaki-kaki 12 rasul yang diperankan oleh warga binaan dibasuh dan dicium oleh Pastor Herman Yosef Bataona CMF disaksikan oleh sekitar 250 warga binaan lain serta Pembina Rohani Kristen dan Katolik Billy Dwi Agista Endriawan, sejumlah staf LP, sekitar 50 anggota panitia, pegiat komunitas yang biasa melayani di LP, dan Suster Irene OSU yang selalu melakukan pelayanan di LP.

Kegiatan itu diselenggarakan oleh Komunitas Pria Katolik (KPK) Paroki Santa Helena, Curug, Legio Maria Paroki Santo Agustinus Karawaci, dan Komunitas Kasih Tuhan (KKT) KAJ, di Gereja Maranatha,18 April 2019.

Sebelum Misa, Ketua KPK Santa Helena AndiJanto Singgih memutar video tentang kegiatan Paus Fransiskus tahun 2018 saat mengunjungi dan merayakan Misa Kamis Putih, serta membasuh dan mencium kaki 12 narapidana di Roma. Kegiatan Paus itu menjadi inspirasi berbagai komunitas untuk melakukan pelayanan penjara di Indonesia dan kali ini di Tangerang, katanya.

Acara diawali perarakan yang juga diikuti 12 “rasul” itu dari pintu depan gereja. Sementara Injil dibacakan oleh Suster Irene OSU, Pastor Herman memeragakan isi Injil tentang kisah Yesus membasuh  kaki keduabelas rasul dari Yohanes 13:1-15.

Sebelum homili, Pastor Herman berdialog dengan pemeran rasul Petrus dan Filipus. Menurut “Petrus”, pada awalnya ia tidak ingin menjadi ‘rasul’ dalam acara pembasuhan kaki itu, “tapi karena dibujuk saya melakukannya.” Ia berharap semoga dengan peran itu ia menjadi murid beriman tangguh kepada Yesus seperti Simon Petrus.

Sementara itu, “Filipus” yang berasal dari Paroki MBK Tomang Jakarta Barat mengatakan meski tidak mengenal Rasul Filipus secara dekat tapi dia yakin bahwa pemilihan perannya itu oleh Tuhan sehingga “melalui tempat ini saya semakin mengenal Tuhan lebih mendalam.” Meskipun berada di di LP, dia meyakini semakin dekat dengan Tuhan.

Pastor Herman dari Kongregasi Para Misionaris Putra-Putra Hati Tak Bernoda Maria (Latin: Cordis Mariae Filius, CMF) atau Kongregasi Para Misionaris Claretian itu menjelaskan mengapa harus kaki yang dibasuh bukan organ tubuh lain. “Organ kaki itu untuk menginjak tanah, lumpur, banjir dan kotoran lainnya. Ini melambangkan bahwa karya pelayanan manusia tidak hanya di tempat bersih tapi juga di tempat kurang bersih. Artinya dalam pelayanan tidak perlu membedakan orang-orang yang dilayani tetapi justru menyapa mereka dan berdialog dengan mereka dengan penuh persaudaraan.

“Mereka yang ada di tempat ini layak disapa dan didengarkan, karena mereka sering dianggap kotor dan tak layak,” kata imam kelahiran Lamalera, Lembata, itu seraya menjelaskan peristiwa pembasuhan kaki para rasul adalah simbol sikap orang Katolik yang selalu memberi maaf.

Suster Irene terkesan dengan Misa bersama warga binaan di LP Pemuda itu karena homili Pastor Herman sangat menyentuh dan Injil yang dilakukan secara dramatisasi sangat menyentuh hati para hadirin.

Lewat kegiatan itu, kata Billy, warga binaan merasa disapa, disentuh sehingga dapat memiliki sukacita. “Semoga seluruh kelompok kategorial menggunakan kesempatan untuk mengunjungi dan menyapa warga binaan agar mereka bersukacita dalam Tuhan Yesus,” harap Billy.(PEN@ Katolik/Konradus R Mangu)

Warga Binaan 1

Warga Binaan 2Warga Binaan 3

Semua foto di atas adalah milik panitia pelaksana acara Kamis Putih di LP Pemuda Tangerang

2 KOMENTAR

  1. Kepada redaksi, Pastor Herman Bataona, CMF berasal dari “Kongregasi Para Misionaris Putra-putra Hati Tak Bernoda Maria” (Latin: Cordis Mariae Filius – CMF) atau biasa dikenal dengan nama “Kongregasi Para Misionaris Claretian”, bukan “Kongregasi Misionaris Putra Hati Kudus Bunda Perawan Maria” seperti yang tertulis dalam berita ini. Terima kasih.

Tinggalkan Pesan