Paus berbicara kepada peserta konferensi tentang perdagangan manusia  di Vatikan, 11 April 2019.   (Vatican Media)
Paus berbicara kepada peserta konferensi tentang perdagangan manusia di Vatikan, 11 April 2019. (Vatican Media)

Paus Fransiskus mencela perdagangan manusia sebagai salah satu manifestasi paling dramatis dari “komersialisasi orang lain,” kejahatan terhadap kemanusiaan yang menodai baik para korban maupun pelakunya. “Yang melakukan kejahatan ini tidak hanya merugikan orang lain, tapi diri mereka juga.”

Paus berbicara di hadapan peserta konferensi Vatikan yang meneliti pelaksanaan Orientasi Pastoral tentang Perdagangan Manusia yang dilakukan oleh Bagian Migran dan Pengungsi Vatikan, 11 April 2019, seperti dilaporkan oleh Robin Gomes dari Vatican News.

“Dalam banyak bentuk, perdagangan manusia merupakan luka ‘dalam tubuh kemanusiaan kontemporer’,” luka mendalam pada kemanusiaan orang-orang yang menderita dan orang-orang yang melaksanakannya,” kata Paus kepada peserta.

Bapa Suci menyesalkan “pertumbuhan individualisme dan egosentrisitas” di zaman kita, yang cenderung mengamati orang lain dalam perspektif manfaat saja, menilai orang lain sesuai kriteria kenyamanan dan keuntungan pribadi. Pada dasarnya ini persoalan “kecenderungan komersialisasi orang lain,” yang Paus katakan dia berulang kali mengecamnya. Dan “di antara manifestasi paling dramatis dari komersialisasi ini adalah perdagangan manusia,” kata Paus.

Dengan menggunakan kata-kata Yesus dalam Injil Yohanes sebagai tolok ukur misi belas kasihan Gereja – “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yohanes 10:10) – Paus berkata bahwa “perdagangan manusia merusak kemanusiaan korban, menghina kebebasan dan martabat orang itu.” Perdagangan manusia, lanjut Paus, juga merendahkan manusia yang melakukannya, meniadakan akses mereka menuju ‘hidup dalam segala kelimpahan’.”

Paus menjelaskan, perdagangan manusia merupakan pelanggaran yang tidak dapat dibenarkan atas kebebasan dan martabat umat manusia yang dihendaki dan diciptakan Tuhan. Untuk alasan ini, kata Paus, perdagangan manusia harus dianggap sebagai “kejahatan terhadap kemanusiaan.”

Sebaliknya, semua tindakan yang ditujukan untuk memulihkan dan meningkatkan martabat manusia para penyintas perdagangan manusia sejalan dengan misi penyelamatan Kristus dan Gereja-Nya. Ini, kata Paus, bermanfaat bagi kemanusiaan kita sendiri, karena membuka jalan menuju kepenuhan hidup, tujuan akhir keberadaan kita.

Paus kagum kepada orang-orang di Gereja-Gereja lokal dan banyak kongregasi religius yang bekerja termasuk berjejaring guna memerangi momok itu. Paus melihat, sudah banyak yang dilakukan dan sedang dilakukan dalam perang melawan perdagangan manusia, tapi masih banyak harus dilakukan. Paus mendorong koordinasi berbagai prakarsa pastoral, baik di tingkat lokal maupun internasional, dan mendorong agar mereka bergabung untuk mengatasi persoalan di negara asal, negara transit, dan negara tujuan orang-orang yang diperdagangkan. Agar lebih efektif, kata Paus, Gereja perlu bantuan aktor-aktor politik dan sosial lainnya.(PEN@ Katolik/pcp berdasarkan Vatican News)

 

Tinggalkan Pesan