STFT Fajar Timur 2
Para frater bersiap menaiki kendaraan yang akan membawa mereka ke posko bantuan dan rumah pengungsi.(PEN@ Katolik/vincent budi)

Hujan deras yang melanda kota dan kabupaten Jayapura sejak Januari hingga Maret mengakibatkan banjir di Sentani, 16 Maret 2019, yang menghilangkan banyak barang berharga, antara lain surat-surat penting, perlengkapan rumah tangga, alat-alat elektronik, kendaraan roda empat maupun roda dua, bahkan nyawa manusia.

Melihat realitas itu, Civitas Akademika STFT “Fajar Timur” Jayapura dan Seminari Tinggi Interdiosesan Yerusalem Baru Jayapura terdorong untuk berbuat sesuatu bagi pengungsi, maka sejak 22 hingga 29 Maret 2019, mereka menjadi relawan “Peduli Kasih” yang mendatangi posko bantuan dan rumah pengungsi membawa sumbangan berupa uang, bahan makanan dan sejumlah pakaian layak pakai.

Bahkan sejak hari pertama musibah itu, koordinator lapangan, Pastor Wilhelmus Kamamas, sudah turun ke lokasi kejadian dan mengamati beberapa posko dibangun untuk menampung para pengungsi sekaligus bantuan logistik dari berbagai pihak.

“Sejak hari pertama saya sudah turun lapangan. Saya melihat banyak pengungsi sangat membutuhkan uluran tangan dari semua pihak. Dan kita, baik pihak STFT maupun Seminari Tinggi Interdiosesan harus berbuat sesuatu untuk mereka. Kita tidak bisa tinggal diam. Saya sudah berkoordinasi dengan koordinator tiap posko sehingga kita bisa berpartisipasi di dalamnya,” kata Pastor Kamamas kepada PEN@ Katolik.

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STFT Fajar Timur Frater Yohanes Kayame juga mengatakan kepada media ini bahwa aksi kemanusiaan yang mereka lakukan merupakan bentuk partisipasi calon pelayanan pastoral guna menyiapkan diri ketika nantinya  berhadapan dengan realitas dalam konteks yang berbeda pula.

“Sebagai calon pelayan pastoral mestinya kita peka terhadap realitas sosial. Keterlibatan kita akan sangat membantu umat yang membutuhkan uluran tangan kita,” kata Frater Kayame.

Menurut ketua para frater Seminari Tinggi Interdiosesan Yerusalem Baru, Frater Abel Sanam, keterlibatan seminaris pertama-tama bukan untuk dilihat atau dinilai baik oleh orang lain. “Keterlibatan frater pertama-tama merupakan perwujudan nilai-nilai Injil atas realitas. Karena itu, keterlibatan kami untuk meringankan beban para korban mestinya dihayati sebagai bagian tindakan iman, terlepas dari pandangan orang lain terhadap kami. Karena, iman justru terwujud dalam setiap aksi nyata,” katanya.

Frater Yoseph Bunai dari Keuskupan Timika menambahkan, “walaupun kami lelah karena mengangkat lumpur, potongan kayu, pasir dan sampah dari rumah pengungsi, tetapi kami merasa bahagia karena bisa melakukan hal kecil untuk sesama. Inilah bentuk ekspresi iman kami dalam masa Prapaskah ini.”

Jumlah Civitas Akademika beserta karyawan yang terlibat dalam kegiatan ini kira-kira 160 orang. Sementara menurut berita Kompas, 27 Maret 2019, banjir bandang itu menyebabkan sedikitnya 112 jiwa meninggal dunia, 94 jiwa hilang, 107 jiwa luka berat, 808 jiwa luka ringan, dan 138.819 jiwa mengungsi, serta 211 rumah terendam dan 351 rumah rusak berat. (PEN@ Katolik/Frater Aris Yeimo)

STFT Fajar Timur 1

STFT Fajar Timur 6STFT Fajar Timur

Foto-foto di atas memperlihatkan para frater yang lagi membersihkan rumah dan jalan dari sisa-sisa banjir. (Foto PEN@ Katolik/vincent budi)

Tinggalkan Pesan