Paus Fransiskus di Loreto (Vatican Media)
Paus Fransiskus di Loreto (Vatican Media)

Paus Fransiskus merayakan Misa di Tempat Ziarah Rumah Suci Loreto, hari Senin, 25 Maret 2019, untuk memperingati Hari Raya Kabar Sukacita. Tradisi mengatakan bahwa Perawan Maria tinggal di antara dinding-dinding yang kini dipindahkan ke tempat ziarah itu, dan di sana Maria menerima pesan Kabar Sukacita.

Setelah Misa, Bapa Suci berbicara kepada 10.000 umat beriman yang berkumpul di alun-alun depan Basilika itu. Paus mengatakan bahwa Tempat Suci itu adalah “tempat istimewa untuk merenungkan misteri Inkarnasi Putra Allah,” karena itulah “rumah Maria.”

Banyak peziarah, kata Paus, datang dari seluruh dunia ke “oasis penuh kesunyian dan kesalehan” itu untuk mendapatkan kekuatan dan harapan, dan menyebut Rumah Suci Loreto itu sebagai rumah bagi orang muda, keluarga-keluarga, dan orang sakit.

Paus Fransiskus mengatakan itulah rumah bagi orang muda, karena Perawan Maria “terus berbicara kepada generasi baru, dengan menemani setiap orang dalam pencarian panggilannya.” Karena alasan itu, kata Paus, ia memilih menandatangani Seruan Apostolik Pasca-Sinode tentang kaum muda di Loreto. Dokumen itu berjudul “Christus vivit – Christ Live” (Kristus hidup), dan merupakan puncak dari Sinode Para Uskup tentang Orang Muda, Iman, dan Pencermatan Panggilan yang diadakan Oktober 2018.

“Dalam peristiwa Kabar Sukacita itu, dinamika panggilan bermunculan, dinyatakan dalam tiga momen yang menandai Sinode itu: 1) mendengarkan rancangan Sabda Allah; 2) pencermatan; 3) keputusan,” kata Paus.

Paus mengatakan Rumah Maria di Loreto juga merupakan rumah bagi keluarga. “Dalam situasi sulit di dunia saat ini,” kata Paus, “keluarga yang didirikan berdasarkan pernikahan antara seorang pria dan seorang wanita mengasumsikan misi dan kepentingan esensial.” Paus mengajak umat Katolik untuk menemukan kembali rencana yang ditelusuri Allah untuk keluarga dan untuk menegaskan kembali peran sentralnya dalam masyarakat.

Di dalam tembok-tembok itu, kata Paus, Maria menghayati banyak segi yang menjadi ciri hubungan keluarga, “sebagai anak perempuan, tunangan, dan ibu,” seraya mengatakan bahwa pengalamannya menunjukkan bahwa Gereja harus peduli kepada keluarga-keluarga dan orang-orang muda secara bersama-sama dan tidak secara terpisah.

Akhirnya, Paus Fransiskus mengatakan Rumah Suci Loreto adalah rumah bagi orang sakit. “Di sini orang-orang yang menderita rohani dan jasmani disambut, dan Bunda kita membawa belas kasih Tuhan kepada semua orang dari generasi ke generasi.”

Bapa Suci mengatakan, penyakit melukai keluarga, tetapi keluarga harus menyambut orang sakit dengan mengasihi, mendukung, membesarkan hati, dan merawat mereka. Dan Paus mengirimkan pikiran dan doanya kepada orang-orang di seluruh dunia yang menderita berbagai penyakit. “Penderitaan kalian bisa menjadi kolaborasi yang menentukan untuk datangnya Kerajaan Allah,” kata Paus.

Paus Fransiskus menutup kunjungannya ke Basilika Rumah Suci Loreto dengan doa Malaikat Tuhan, seraya meminta semua orang untuk berdoa bagi orang muda, keluarga-keluarga, dan orang sakit. (PEN@ Katolik/pcp berdasarkan laporan Devin Watkins/Vatican News)

cq5dam.thumbnail.cropped.750.422 (24)cq5dam.thumbnail.cropped.750.422 (25)cq5dam.thumbnail.cropped.750.422 (28)

Tinggalkan Pesan