Pastor Moses “Cuirces” Amiset Pr bersama Bernardus Renwarin, seorang dosennya. (PEN@ Katolik/vincent budi)
Pastor Moses “Cuirces” Amiset Pr bersama Bernardus Renwarin, seorang dosennya. (PEN@ Katolik/vincent budi)

“Sejujurnya Moses adalah orang yang tidak dikenal di kalangan masyarakat Asmat. Untuk menjadi imam, ada banyak calon imam yang diunggulkan oleh masyarakat Asmat. Tetapi, dia yang tersembunyi ini menjadi imam. Itulah kehendak Tuhan.”

Pengakuan itu diungkapkan seorang tokoh adat Asmat, Markus Potes, dalam kata sambutan sesudah Misa Perdana Pastor Moses “Cuirces” Amiset Pr, imam pertama asli Asmat, yang dirayakan di aula Seminari Tinggi Interdiosesan Yerusalem Baru (STI YB), Jayapura, Papua, 10 Maret 2019.

Sekitar 300 orang, yang terdiri para civitas academika, dosen, karyawan, mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Fajar Timur (STFT FT), serta undangan dan tokoh masyarakat Asmat di Jayapura, serta mahasiswa-mahasiswi Asmat lain yang kuliah di Jayapura dan teman-teman Pastor Moses hadir dalam Misa itu.

Misa yang dipimpin Pastor Moses dengan konselebran Pastor Izak Resubun MSC, Pastor Agus Alua Pr, Pastor Niko Jumari Pr dan Pastor Wilhelmus Kamamas Pr, itu dimeriahkan dengan tarian dan lagu-lagu khas Asmat. Pastor Cuirces ditahbiskan sebagai imam diosesan Keuskupan Agats-Asmat di Gereja Katedral Salib Suci Agats oleh Uskup Agats-Asmat Mgr Aloysius Murwito OFM, tanggal 2 Februari 2019.

“Cuirces” adalah nama adat yang diberikan kepada imam itu ketika pihak keluarga menyerahkannya kepada uskup sebagai lambang penyerahan keluarga kepada Gereja sampai ajal menjemputnya. “Cuirces berarti cahaya tersembunyi yang memancar keluar,” jelas Pastor Kamamas.

Imam itu mengibaratkan nama itu dengan sistem berburu orang Asmat, “Nama Cuirces itu seperti kebudayaan berburu orang Asmat. Ketika mereka mau berburu buaya, mereka sembunyi-sembunyi sambil mendekati buaya lalu memanahnya. Begitu juga Pastor Moses, dia orang Asmat yang tidak banyak bicara tetapi berhasil memanah panggilannya untuk menjadi imam,” kata Pastor Kamamas.

Bernardus Renwarin, dosen STFT FT membenarkan. “Moses adalah seorang mahasiswa yang pendiam, tetapi tekun saat mengenyam pendidikan di STFT FT. Saya salut atas perjuangan dan ketekunannya dalam hidup doa dan studi,” jelasnya.

Menyadari kelemahannya itu, Pastor Moses berterima kasih kepada kedua lembaga itu serta kepada uskup yang mensponsori dan menahbiskannya. “Saya mengucapkan terima kasih kepada para dosen STFT FT dan kepada para Pembina STI YB, sebab kalian semua telah menjadi malaikat pelindung bagi saya, terutama kepada Yang Mulia Mgr Aloisius Murwito OFM, bapa uskup saya yang telah mentahbiskan saya.”

STFT FT adalah lembaga pendidikan calon-calon imam Regio Papua, yang terdiri dari lima keuskupan dan dua ordo yakni Keuskupan Agung Merauke, Keuskupan Jayapura, Keuskupan Manokwari-Sorong, Keuskupan Agats-Asmat dan Keuskupan Timika, serta Ordo Fransiskan (OFM) dan Ordo Agustinus (OSA). STI YB adalah tempat tinggal dan tempat pembinaan calon-calon imam yang berasal dari lima keuskupan itu.

Ucapan terima kasih itu dilengkapi dengan berkat khusus yang diberikan imam baru itu kepada para pembina dan dosennya sebelum berkat pengutusan secara umum.(PEN@ Katolik/frater silvester dogomo)

Pastor Moses memberkati karyawan-karyawati STIYB dan pembina serta beberapa dosen STFT FT/PEN@ Katolik/sd
Pastor Moses memberkati karyawan-karyawati STIYB dan pembina serta beberapa dosen STFT FT/PEN@ Katolik/sd
Pastor Moses “Cuirces” Amiset Pr sedang memberi homili dalam Misa Perdana di SMI FT (PEN@ Katolik/sd)
Pastor Moses “Cuirces” Amiset Pr sedang memberi homili dalam Misa Perdana di STI FT (PEN@ Katolik/sd)

Tinggalkan Pesan