Paus Fransiskus dalam retret Prapaskah tahunan.  (ANSA)
Paus Fransiskus dalam retret Prapaskah tahunan. (ANSA)

Dalam retret tahunan Prapaskah 10-15 Maret, Paus Fransiskus dan rekan-rekan kerjanya mendengarkan renungan dari seorang kepala biara dari Ordo Benediktin yang merenungkan tentang perlunya mencabut ketidakpedulian yang menyembunyikan kita dari tanggung jawab terhadap sesama dengan mengupayakan keindahan dan keseimbangan antara dicintai Tuhan dan mencintai Dia.

Dalam renungan keempat bertema “Keburukan, aib, dan ketidakpedulian hari ini” itu, Abbas Bernardo Francesco Maria Gianni asal Italia itu mengatakan bahwa kita dipanggil untuk melihat luka-luka kota yang kompleks dan yang ditandai ketidakadilan dari semua jenis. Untuk melakukannya, kita perlu membiarkan kenyataan melampaui gagasan, dan bukan sebaliknya, seperti yang dikatakan Paus Fransiskus.

Abbas itu berbicara tentang ketidakpedulian, salah satu dari tiga tanda kejahatan yang sering melumpuhkan hati kita dengan cara halus dan mengaburkan mata. Ketidakpedulian, katanya, bertindak laksana perisai, menghalangi kita dari tanggung jawab terhadap sesama.” Itu bertentangan dengan semangat evengelis yang Tuhan ingin nyalakan bersama kuasa Roh Kudus dalam hati kita,” katanya.

Tindakan Gereja dan pria dan wanita yang berkehendak baik, jelas kepala biara itu, benar-benar menjadi buah yang dihasilkan oleh orang taat dan bersemangat dengan mendengarkan Injil kehidupan Yesus. “Dengan kekudusan masa kini, bara api itu benar-benar dapat membakar cahaya harapan di malam kota-kota dunia kita,” katanya.

Cobaan ketidakpedulian, yang juga memengaruhi orang-orang Gereja, kata kepala biara itu, dapat diatasi dengan membawa dan menjelmakan Sabda Allah ke kota-kota kita dengan segala cara.

Untuk ini, pengkhotbah itu mengusulkan solusi keindahan dan proporsi. Seseorang perlu mencari keseimbangan antara sesama dengan dirinya sendiri, dan antara manusia dan benda-benda. Ini berarti melepaskan ilusi kita berada di tengah dan membuka mata kita pada kenyataan untuk melihat cahaya dan mendengarkan keheningan sejati.

“Bukanlah kita, melainkan Kristus, yang berada di pusat sejarah dan ruang, kepada Dia kita harus menyesuaikan diri, yang memberikan kesenangan kepada Bapa,” kata abbas itu seraya menambahkan, hasil dari perjalanan Prapaskah yang baik adalah membiarkan tangan Tuhan memulihkan keindahan kita, yang hanyalah tanah liat, yang rapuh dan miskin, yang membutuhkan napas Tuhan. Jika kalian mempercayakan diri kalian sepenuhnya kepada Tuhan, kata Abbas Gianni, “kalian akan menjadi karya seni-Nya yang sempurna.” (PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan laporan Robin Gomes dari Vatican News)

Tinggalkan Pesan