Mgr Robertus Rubiyatmoko dalam Sapaan Gembala Prapaskah 2019 berjudul “Makin Tergerak untuk Berbagi Berkat” TANGKAPAN GAMBAR oleh PEN@ Katolik/pcp
Mgr Robertus Rubiyatmoko dalam Sapaan Gembala Prapaskah 2019 berjudul “Makin Tergerak untuk Berbagi Berkat” TANGKAPAN GAMBAR oleh PEN@ Katolik/pcp

Uskup Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko (Mgr Rubi) dalam Sapaan Gembala Prapaskah 2019 berjudul “Makin Tergerak untuk Berbagi Berkat” yang dibacakan di gereja-gereja keuskupan itu 2-3 Maret 2019 mengatakan bahwa berbagi berkat sebagai wujud pertobatan dapat kita lakukan dengan “secara positif melihat, menilai, dan bersikap terhadap sesama kita.”

Surat yang ditandatangani oleh Mgr Rubi di Semarang, 2 Februari 2019, pada Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah itu memberikan contoh, agar di tengah maraknya orang yang senang menghujat dan memfitnah sesamanya dengan bahasa-bahasa yang kasar dan menyakitkan, “Marilah kita pergunakan bahasa yang baik dan santun.”

Umat juga diajak untuk bersikap bijak dengan tidak menilai buruk dan menghakimi sesama. Pertanyaan Yesus dalam Injil (Luk 6:41-42) “Mengapakah engkau melihat selumbar dalam mata saudaramu, sedangkan balok dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?” kata Mgr Rubi, menjadi bahan permenungan yang sangat baik di masa Prapaskah ini.

“Kita diingatkan untuk tidak mudah menilai buruk dan menghakimi sesama kita, karena hal ini akan sangat menghambat upaya kita mewujudkan komunitas kasih yang menyatukan dan menyempurnakan,” lanjut Mgr Rubi.

Gerakan berbagi berkat, lanjut uskup agung itu, “juga sangat tepat kita tempatkan dalam usaha bersama mewujudkan kesejahteraan umum atau kesejahteraan bersama (bonum commune) yang menjadi fokus pastoral 2019 di keuskupan kita.”

Dalam masyarakat multikultural, “kita ditantang untuk sebanyak mungkin mengerjakan hal-hal baik bersama dengan siapa saja yang berkehendak baik, agar kesejahteraan bersama yang kita cita-citakan semakin dapat terwujud,” kata Mg Rubi.

Caranya, “dengan menciptakan kondisi-kondisi hidup bersama yang memungkinkan, baik pribadi atau perorangan maupun kelompok atau komunitas masyarakat, dapat mencapai kepenuhan hidup dalam kasih,” kata Mgr Rubi seraya mengusulkan agar semangat srawung dan merengkuh dalam belarasa yang tulus terus dikembangkan.

Gerakan berbagi berkat, menurut Mgr Rubi, bisa juga dilakukan kepada alam lingkungan. “Hal ini dapat kita wujudkan, misalnya dengan ngopèni (merawat) dan melindungi tanah dari pencemaran sampah plastik. Sudah saatnya kita membersihkan tanah dari sampah plastik ini dengan mengurangi penggunaan plastik dan tidak membuang sampah plastik secara sembarangan,” tulis uskup itu.

Dalam peraturan puasa dan pantang 2019, Mgr Rubi juga menambahkan agar umat menentukan wujud gerakan solidaritas, entah yang berupa gerakan karitatif maupun pemberdayaan yang berdampak luas bagi lingkungan alam serta masyarakat sekitar.

Dan diingatkan agar pada hari Jumat dan hari lain yang ditentukan, setiap keluarga atau komunitas mengganti makanan pokok yang disukai dengan makanan pengganti dari bahan makanan lokal dengan satu macam lauk (sebagaimana sudah muncul sebagai gerakan di beberapa paroki atau komunitas selama peringatan Hari Pangan Sedunia – HPS).

Salah satu ungkapan tobat bersama dalam masa Prapaskah, lanjut Mgr Rubi, adalah “Aksi Puasa Pembangunan (APP), yang diharapkan mempunyai nilai dan dampak untuk pembaruan pribadi, serta mempunyai nilai dan dampak bagi peningkatan solidaritas pada tingkat paroki, keuskupan dan nasional.” (PEN@ Katolik/paul c pati)

Tinggalkan Pesan