Direktur Jenderal Tata Ruang Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional RI Abdul Kamarzuki meresmikan Sanggar BISA Sekolah Santa Maria Cirebon. PEN@ Katolik/soni
Direktur Jenderal Tata Ruang Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional RI Abdul Kamarzuki meresmikan Sanggar BISA Sekolah Santa Maria Cirebon. PEN@ Katolik/soni

Mendengar paparan Sanggar BISA (Bersih, Indah, Sejuk, Asri) Sekolah Santa Maria Cirebon, Direktur Jenderal Tata Ruang Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional RI, Abdul Kamarzuki, mengatakan dia punya feeling bahwa Sanggar BISA yang dia resmikan “bisa menjadi cikal bakal semakin baiknya tata ruang dan tata lingkungan Indonesia.”

Abdul Kamarzuki meresmikan Sangar BISA dengan penandatanganan prasasti didampingi para suster OP yang menyelenggarakan Sekolah Santa Maria, termasuk Superior Jenderal Kongregasi Suster-Suster Santo Dominikus di Indonesia Suster Anna Marie OP dan Kepala Kantor Yayasan Sekolah Santo Dominikus Cabang Cirebon Suster Albertine OP, Kepala Sanggar BISA Febi H Atmaprawira, dan perwakilan pemerintah Kota Cirebon dan lima kabupaten sekitarnya, serta para kepala sekolah Santa Maria dan siswa-siswi, 3 Maret 2019.

“Sanggar BISA Sekolah Santa Maria Cirebon” atau “Sanggar Tata Ruang dan Tata Lingkungan” terletak di sebidang tanah di samping Persekolahan Santa Maria Cirebon dan biara para suster Dominikan (OP), Jalan Sisingamangaraja 22 Cirebon. Bekas lapangan olah raga itu menjadi pusat aktivitas dan edukasi “untuk rumah kita bersama.”

Mendorong peran masyarakat dalam penataan ruang, pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah No 68 Tahun 2010 tentang Bentuk dan Tata Cara Peran Masyarakat, bahkan tahun 1918 meluncurkan Sistem Informasi Geografis Tata Ruang (Gistaru) yang memungkinkan setiap orang mengakses rencana tata ruang secara nasional dan daerah.

Peranserta setiap individu dan kelompok sangat diharapkan. “Sanggar BISA Santa Maria adalah salah satu langkah nyata kepedulian terhadap lingkungan. Melalui sanggar ini diharapkan lahir kelompok masyarakat solid yang mendukung penyelenggaraan penataan ruang di daerahnya,” kata dirjen dalam kuliah umum di Pondok Sanggar BISA sesudah peresmian itu. Dia juga mengapresiasi sanggar itu dan mendorong terwujudnya sanggar-sanggar yang sama di kota dan desa di Indonesia.

Dalam pembicaraan dengan PEN@ Katolik, Suster Albertine OP membenarkan “kami rindu seluruh siswa di Indonesia,” datang atau membuat sanggar yang sama, karena BISA hendaknya menjadi pola hidup bukan hanya dengan teori di ruang kelas tapi langsung menginjak tanah itu dalam upaya “membersihkan” dan “menghijaukan” lingkungan, serta “membebaskan tanah, air, dan udara dari pencemaran, dengan mengolah sampah, mengolah limbah cair, dan mereduksi emisi gas.”

Menurut Suster Albertine, sekolah SD Santa Maria Cirebon pernah merebut penghargaan Adiwiyata hingga tingkat provinsi, namun saat ini mereka lebih “ingin membuat BISA menjadi pola hidup, mulai dari para biarawati, para guru dan karyawan serta siswa-siswi Santa Maria.” Bahkan, 21 Februari 2019, bertepatan dengan Hari Peduli Sampah Nasional, persekolahan itu mendeklarasikan diri sebagai “Pelopor Sekolah BISA.”

Maka, jelas suster, semua rumah guru dan karyawan sudah mulai dikunjungi agar mereka ikut program BISA. Di biara pun, selesai makan semua suster memilah sisa makanan dan mengolah air yang dibuang jangan sampai mereka mensuplai air kotor dan mengotori tetangga. “Ratusan AC di sekolah tetap kita gunakan, namun kita imbangi dengan menanam tanaman yang bisa menyerap emisi,” kata Suster Arbertine. “Itu satu langkah kecil untuk bumi yang terinspirasi oleh Laudato Si’,” kata suster.

Kepala SD Santa Maria Cirebon Yakobus Sartam menjelaskan, persekolahan itu sudah mengelola air limbah dan sampah. Sanggar BISA, lanjutnya, sudah dilengkapi peralatan pengelolaan sampah, mesin pengelolaan kompos dan donasi sampah, serta usaha penghijauan dengan menanam 12 tanaman penyerap gas beracun untuk membuat tanah, air, dan udara bersih dan bebas pencemaran, serta kegiatan belajar lingkungan. “Ke depan, wilayah ini akan menjadi laboratorium lingkungan hidup, baik tumbuhan maupun binatang, sehingga siapa pun yang hadir di sini bisa melihat program BISA,” katanya.

Febi Atmaprawira menegaskan bahwa sanggar itu dinamakan juga “Sanggar Tata Ruang dan Tata Lingkungan” karena sanggar itu dibangun bukan hanya untuk siswa-siswi Santa Maria tetapi terbuka untuk semua sekolah di Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Kuningan, Indramayu, Majalengka. “Silakan belajar tata ruang dan tata lingkungan bersama-sama di sini. Tujuannya agar generasi penerus dibekali untuk kelak mewujudkan tata ruang yang menyejahterakan, dan memiliki kecakapan tata lingkungan agar bisa mewujudkan lingkungan bersih, indah, sejuk dan asri.”

Dua program utama saat ini, jelasnya, adalah memfasilitasi semua sekolah untuk menjadi sekolah BISA. 10 indikator sekolah BISA, jelasnya, adalah mengolah sampah, mengolah limbah cair, mereduksi emisi gas buang (menata lingkungan bersih), menata node, menata landmark, menata path dan edge (menata lingkungan indah), menata ruang terbuka hijau privat, menata ruang terbuka hijau publik (menata lingkungan sejuk), dan melestarikan sumber daya alam, melestarikan keragaman hayati (menata lingkungan asri).

Program kedua adalah “Desaku Surgaku” dengan tiga ciri: warganya sehat, ekonominya makmur, tata ruangnya menyejahterakan. “Dua program ini yang akan diselenggarakan di Sanggar BISA,” jelas Febi seraya menambahkan program lainnya berupa kunjungan ke RT dan RW untuk menata lingkungannya sesuai kaidah BISA dan menyelenggarakan semacam kelas alam semesta atau universe class mulai tahun ajaran 2019-2020.

Program “Desaku Surgaku’ dijalankan di Desa Prajawinangun Wetan, Kecamatan Kaliwedi, Cirebon. Seorang wakilnya memperkenalkan keunggulan anak-anak muda desa itu yang sudah mengenal internet marketing dan memasarkan berbagai jenis usaha mereka, antara lain ikan hias dan pakan ikan hias, hasil pertanian organik dan hydroponic serta peternakan organik secara online.

Wakil Walikota Cirebon Eti Herawati hadir dalam kuliah umum. Menjawab pertanyaan peserta, dia mengatakan Kota Cirebon akan mendapat hadiah ‘hutan kota’, dan dalam hal tata ruang dan ruang terbuka hijau, “kalau bersama-sama Dirjen Abdul Kamarzuki dan keluarga Santa Maria saya yakin bisa.”

Namun, tentang usulan pemindahan bongkar-muat batubara di pelabuhan Cirebon yang berdekatan dengan Persekolahan Santa Maria sehingga debunya beterbangan ke persekolahan itu saat bongkar-muat, dia mengatakan bahwa sebenarnya saat ini Kota Cirebon tidak lagi membutuhkan batubara, kecuali Indocement di kabupaten.

“Tentang lingkungan saya sepakat, bongkar-muat batubara yang berpindah ke Pelabuhan Cirebon tahun 1996 itu harus steril dan tidak boleh mengganggu. Tapi, bicara batubara berarti bicara kebutuhan berputar di Jawa Barat, tekstil dan tenaga kerja, menyangkut banyak pihak, dengan efek domino,” kata wakil walikota seraya menambahkan bahwa keluhan tentang batubara dari Persekolahan Santa Maria Cirebon sudah menjadi “buku kecil’ di pemerintahan kota. (PEN@ Katolik/paul c pati)

Foto bersama Dirjen Abdul Kamarzuki, Febi H Atmaprawira, serta para suster OP, para kepala sekolah, Santa Maria dan wakil pemerintahan kabupaten. PEN@ Katolik/soni
Foto bersama Dirjen Abdul Kamarzuki, Febi H Atmaprawira, serta para suster OP, para kepala sekolah, Santa Maria dan wakil pemerintahan kabupaten. PEN@ Katolik/soni
Abdul Kamarzuki memberi kuliah umum tentang tata ruang. PEN@ Katolik/soni
Abdul Kamarzuki memberi kuliah umum tentang tata ruang. PEN@ Katolik/soni
BISA2
Paparan tentang Sangar Bisa oleh Kepala Sanggar BISA Febi H Atmaprawira didampingi bersama Kepala SD Santa Maria Cirebon Yakobus Sartam (paling kiri) dan Nasikin, perwakilan dari Desa Prajawinangun Wetan (bertopi). PEN@ Katolik/soni
Wakil Walikota Cirebon Eti Herawati menanggapi beberapa pertanyaan suster dan guru. PEN@ Katolik/soni
Wakil Walikota Cirebon Eti Herawati menanggapi beberapa pertanyaan suster dan guru. PEN@ Katolik/soni
Superior Jenderal Kongregasi Suster-Suster Santo Dominikus di Indonesia Suster Anna Marie OP bergambar bersama Wakil Walikota Cirebon Eti Herawati bersama Dirjen Abdul Kamarzuki  beserta wakil pemerintah lainnya. PEN@ Katolik/soni
Superior Jenderal Kongregasi Suster-Suster Santo Dominikus di Indonesia Suster Anna Marie OP bergambar bersama Wakil Walikota Cirebon Eti Herawati bersama Dirjen Abdul Kamarzuki beserta wakil pemerintah lainnya. PEN@ Katolik/soni

 

1 komentar

Tinggalkan Pesan