Baba Akong
Baba Akong, mendapatkan penghargaan Kalpataru Tingkat Nasional Kategori Perintis Lingkungan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ist

“Tuhan ingin manusia mencintai lingkungan dengan menanam pohon dan merawatnya sehingga dapat mengembalikan Firdaus yang hilang,” kata seorang pegiat lingkungan hidup yang telah menanam 40 hektar mangrove dan membangun jembatan bambu sepanjang 300 meter yang kini menjadi destinasi wisata Sikka dan ramai dikunjungi wisatawan.

Namun, pegiat lingkungan bernama Viktor Emanuel Rayon (71) yang akrab disapa Baba Akong itu telah  meninggal dunia 6 Maret 2019 di kediamannya di Desa Reroroja, Kecamatan Magepanda, 30 kilometer utara Maumere.

Dalam sebuah wawancara dengan PEN@ Katolik, putra Belu, Atambua, yang pernah berkarya di Yayasan Karya Sosial (YKS) Maumere itu, mengatakan bahwa dia sungguh mencintai lingkungan khususnya menanam dan merawat bakau di pesisir pantai.

Temannya di YKS, Thomas Aquino membenarkan, setiap pertemuan mereka, Baba Akong “yang sederhana dan rendah hati” hanya omong tentang bakau. “Tekad bulatnya hanya satu yakni hutankan pantai Maumere dengan bakau,” kenang Thomas.

Untuk tekadnya itu, Thomas menyetujui sederetan penghargaan yang diterima Baba Akong. Tahun 2008 dia mendapat penghargaan dari Menteri Negara Lingkungan Hidup Ir Rachmat Witoelar karena masuk salah satu nominasi penerima penghargaan Kalpataru Kategori Perintis Lingkungan. Setahun kemudian ia mendapat piagam penghargaan yang sama dari Menteri Negara Lingkungan Hidup.

Tahun 2009 dia berhasil mendapatkan penghargaan Kalpataru Tingkat Nasional Kategori Perintis Lingkungan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Mama Nona, isteri dari Baba Akong mengatakan, “kami orang kecil tetapi kami sudah bertemu presiden SBY. Ini yang membanggakan.”

Baba Akong juga meraih Juara 1 Film Dokumenter Metro TV Program Presiden “Hijaulah Indonesiaku” dengan judul “Prahara Tsunami Bertabur Bakau” yang diikuti 25 orang dan memperoleh Piala Kick Andi Hero tahun 2009 dalam Lomba Pahlawan Lingkungan Hidup yang diikuti 80 orang se-Indonesia.

“Usia saya sudah tua, tetapi usaha mulia penanaman bakau akan saya wariskan kepada anak cucu demi kebaikan banyak orang,” Baba Akong pernah berkata.(PEN@ Katolik/Yuven Fernandez)

Baba Akong dengan jembatan mambu yang dibuatnya.
Baba Akong dengan jembatan mambu yang dibuatnya di hutan mangrove. detik.com
Baba Akong di tengah hutan mangrove yang ditanamnya. Ist
Baba Akong di tengah hutan mangrove yang ditanamnya. Ist

Tinggalkan Pesan