Paus Fransiskus mendengarkan pengakuan dosa dari dari seorang imam sebelum pertemuan dengan para klerus   (Vatican Media)
Paus Fransiskus mendengarkan pengakuan dosa dari dari seorang imam sebelum pertemuan dengan para klerus (Vatican Media)

Sesuai tradisi awal Masa Prapaskah, Paus Fransiskus tanggal 7 Maret berbicara kepada para klerus Roma seraya merenungkan tentang dosa dan tentang bagaimana dosa menodai Gereja, serta dengan penuh keyakinan memandang ke depan.

Pertemuan tertutup Paus Fransiskus dengan para klerus Keuskupan Roma itu, seperti dilaporkan oleh Linda Bordoni dari Vatican News, berlangsung  setelah perayaan tobat di Basilika Santo Yohanes Lateran.

Paus Fransiskus, yang diapit oleh vikaris Kardinal Angelo De Donatis, memulai pertemuan tahunan itu dengan mendengarkan pengakuan dosa dan mendengarkan meditasi Prapaskah yang disampaikan kardinal itu.

Paus tidak menjawab pertanyaan seperti dalam pertemuan-pertemuan sebelumnya, tetapi berbicara panjang lebar sambil menyelingi wacana yang dipersiapkan dengan banyak komentar spontan yang menyoroti rasa sakit akibat skandal pelecehan seksual yang mengguncang Gereja dilakukan klerus.

Paus mengungkapkan perasaan sedihnya dan mengatakan ikut merasakan “rasa sakit dan hukuman tak tertahankan akibat gelombang skandal di seluruh tubuh gerejawi yang kini memenuhi surat kabar seluruh dunia.”

Paus juga mengungkapkan kata-kata pengharapan dan dorongan kepada para klerus, “Jangan patah semangat, Tuhan menyucikan Mempelai Perempuan-Nya.” Paus mengatakan Dia sedang membuat kita semua mengikuti Dia, Dia sedang menguji kita dan membuat kita mengerti bahwa tanpa Dia kita adalah debu. Dia menyelamatkan kita dari kemunafikan, dari spiritualitas penampilan. Ia meniupkan Rohnya “untuk mengembalikan kecantikan kepada Mempelai Perempuan-Nya.”

Paus percaya bahwa “makna sebenarnya dari apa yang terjadi harus dicari dalam roh jahat, pada musuh yang bertindak dengan kepura-puraan menjadi penguasa dunia.” Paus berbicara tentang dosa sebagai sesuatu yang menodai, dan mengatakan, “dengan kesedihan kita menjalani pengalaman yang memalukan ketika kita sendiri atau salah satu dari saudara imam atau uskup kita jatuh ke dalam jurang maut keburukan, korupsi, atau bahkan yang lebih buruk dari kejahatan yang menghancurkan kehidupan orang lain.”

Sungguh pun demikian, Paus percaya akan masa depan, terutama awal Prapaskah ini yang “merupakan saat rahmat, karena kita menempatkan Tuhan kembali ke pusat.” Tanpa Tuhan kita tidak bisa berbuat apa-apa. Dia adalah pusatnya,” kata Paus yang mendesak para imam untuk berbalik kepada-Nya “berhadapan muka,” karena “Tuhan tahu ketelanjangan kita yang memalukan.”

Paus memberitahukan kepada mereka bahwa Tuhan tahu ketelanjangan kita yang memalukan, namun Dia tidak pernah bosan menggunakan kita untuk memberikan rekonsiliasi kepada orang-orang. “Kita sangat malang, pendosa,” kata Paus, namun Tuhan mengambil kita untuk menjadi perantara bagi saudara dan saudari kita.” Kita banyak memohon pengampunan bagi mereka.

Karena itu Paus meminta para imam, untuk memelihara “dialog yang matang dengan Tuhan” dan untuk memikirkan diri mereka sendiri bersama “umat” mereka sendiri dengan menghindari personalisme seperti “kecenderungan untuk mengatakan: umat saya. Ya, itu umatmu,” tetapi “sebagai wakil,” jelas Paus. “Umat itu bukan umat kita, mereka milik Tuhan.”

Di akhir pertemuan, Paus memandang Yubileum 2025, yang ditandai oleh renungan dari Kitab Keluaran yang dipilih “sebagai paradigma untuk merubah yang bukan umat menjadi umat .”

Paus juga memuji prakarsa Caritas keuskupan setempat yang berjudul “Seperti di surga, demikian pula di jalan,” satu minggu amal untuk orang miskin dan tunawisma yang akan dimulai 31 Maret hingga 6 April. (PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatican News)

Tinggalkan Pesan