Kapolda Sulut Irjen Polisi Remigius Sigid Tri Hardjanto berbicara dengan para tokoh Katolik dari berbagai ormas. PEN@ Katolik/af
Kapolda Sulut Irjen Polisi Remigius Sigid Tri Hardjanto berbicara dengan para tokoh Katolik Sulawesi Utara. PEN@ Katolik/af

“Saya tidak ingin meninggalkan keimanan saya hanya karena jabatan. Saya tidak pernah mundur untuk Yesus. Saya 100 persen Katolik, 100 persen Indonesia,” kata Kapolda Sulut Irjen Polisi Remigius Sigid Tri Hardjanto saat tatap muka dengan Komisi Kerasulan Awam Keuskupan Manado (Kerawam Kusuma) di Wisma Lorenso Lotta, Pineleng, Sulawesi Utrara.

Puluhan tokoh umat dari Wanita Katolik RI, PMKRI, Pemuda Katolik, ISKA, Vox Point, FMKI, Legiun Christum (LC), Kaum Bapak Katolik (KBK) dan wartawan Katolik dari Sulawesi Utara menghadiri tatap muka yang diawali dengan Misa yang dipimpin Ketua Komisi Kerawam Kusuma Pastor Kris Ludong Pr, 17 Februari 2019.

Menurut lulusan Akabri tahun 1987 itu, sebenarnya dia tidak suka jadi polisi. “Itu saya tulis dalam buku harian,” kata Sigid seraya menjelaskan bahwa ia memang senang menulis di buku harian. “Saya menjadi polisi karena didaftarkan oleh teman saya. Namun teman saya itu tidak lulus, sementara saya bisa lulus test dan akhirnya menjadi polisi,” ceritanya seraya menjelaskan orang tuanya tidak tahu kalau ia telah lulus test dan menjalani pendidikan.

Maka, ceritanya, orangtuanya kaget ketika mendatangi rumah kost dan tidak menemukan dirinya karena sedang menjalani pendidikan, sesuai pemberitahuan orang di tempat kost itu.

Ketika menjalani karier di kepolisian, hingga menjabat Kapolda Sulut tanggal 4 Januari 2019, Sigid mengaku, “tidak pernah mencari-cari jabatan dan tidak pernah berpikir untuk jadi rektor atau Kepala Sekolah Polisi atau jabatan sekarang sebagai Kapolda Sulut.”

Yang pasti, tegasnya, dia tidak pernah menginginkan jabatan tertentu sampai meninggalkan keyakinan. “Ada teman yang karena ingin karier sampai meninggalkan keyakinannya,” katanya seraya menambahkan bahwa kadang itu jadi kalkulasi pimpinan dalam penempatan jabatan.

Sigid lebih menjadi apa adanya saja. Ia lebih memilih bekerja keras dengan hati dan cinta kasih. “Itu yang menurut saya lebih utama dan menjadi berkat,” tegas pejabat yang suka turun ke lapangan dan senang berada dengan anak buah di lapangan itu.

Saat tatap muka itu, Kapolda Manado lebih suka mendengar masukan dari peserta. Maka, saat diberi kesempatan berbicara, ia hanya memperkenalkan diri dan menjelaskan perjalanan singkat karirnya serta tugasnya sebagai Kapolda Sulut.

Ketua Komisi Kerawam Kusuma Pastor Kris Ludong mengapresiasi perhatian dan kehadiran Irjen Sigid kendati dia sangat sibuk dan kegiatannya padat, termasuk memantau dan mendatangi langsung daerah-daerah untuk melihat kesiapan tahapan Pemilu 2019.

“Kendati baru tiba sore ini di Manado dari kunjungan di Sangihe, namun Pak Kapolda bisa langsung bersama-sama dengan kita di acara tatap muka ini,” tutur Pastor Kris. (PEN@ Katolik/A. Ferka)

Kapolda Sulut bergambar bersama peseta tatap muka. PEN@ Katolik/af
Kapolda Sulut bergambar bersama peseta tatap muka. PEN@ Katolik/af

5 KOMENTAR

  1. Saya tidak memberi saran atau kritik tapi hanya mau katakan bahwa apa yg disampaikan Pak Kapolda tentang adanya orang yg pindah agama hanya karena jabatan itu memang kenyataannya ada dan sebenarnya orang seperti itu sudah bisa dinilai dan penilaian bagi pimpinan untuk diberi jabatan bahwa akan sampai dimana kekuatannya menghadapi masalah duniawi sedangkan imannya saja dia sudah jual apalagi yang lainnya

  2. Sang gembala jangan hanya mengembalakan domba-domba saja tetapi diarahkan agar kaum muda katolik bisa berwiraswata atau berbisnis.

Tinggalkan Pesan