Pator Nico Dumais SJ

Konteks pendidikan di Indonesia di tahun 1965-1995, adalah pembangunan. “Dalam masa pembangunan banyak orang yang tertinggal, menjadi miskin, dan tertindas. Atas nama pembangunan tidak jarang terjadi ketidakadilan dan pelanggaran HAM. Dalam konteks pembangunan ini Pater Krekelberg SJ dan Pater Dumais SJ menggambarkan pendidikan di Loyola sebagai suatu pangkalan pasukan perintis.

SMA Kolese Loyola, Semarang, menulis hal itu dalam situsnya, namun mantan guru bahasa Inggris (1971-1973), pater pamong (1973-1977) dan kepala sekolah (1977-1983) SMA Kolese Loyola Semarang itu, Pastor Nicholas Dumais SJ, sudah meninggal dunia di usia 81 tahun, pada hari Senin, 4 Februari 2019, pukul 15.39, di Rumah Sakit Sint Carolus Jakarta.

Yang pasti, pendidik yang sudah turut mengarahkan pendidikan di SMA Kolese Loyola Semarang itu untuk “membentuk pejuang-pejuang bagi kepentingan rakyat banyak dan tidak hanya mencari kenyamanannya sendiri” dan “untuk membentuk siswa-siswi menjadi mandiri, kreatif, inisiatif, dan berjuang untuk kepentingan rakyat banyak” sudah juga melakukan hal yang sama ketika menjadi Kepala Sekolah SMP Kanisius Jakarta (1985-1988) dan ketika menjadi dosen Bahasa Inggris di STF Driyarkara Jakarta dan pembimbing frater di Kolese Hermanum Jakarta (1988-1998).

Tentu banyak juga keunggulan yang sudah diberikan ketika menjadi moderator mahasiswa di unit Jakarta Selatan dan dosen Mata Kuliah Agama Katolik di Universitas Indonesia Depok (1999-2004), serta Kerasulan Paroki Unit Umat Expatriat Jakarta yang berkantor di Gereja Theresia Jakarta (2005-2013).

Namun, setelah Misa 4 Februari pukul 21.00 di Kanisius Jakarta dan jenazahnya menginap di sana dan Misa 5 Februari pukul 7.00 di tempat yang sama, jenazah diberangkatkan pukul 22.00 malam ke Girisonta Semarang untuk Misa Requiem 6 Februari di Gereja Stanislaus Girisonta (pukul 09:00) dan pemakaman di hari yang sama pukul 12:00.

Nicholas Dumais lahir di Jakarta 5 Desember 1938, anak bungsu dari delapan bersaudara dari pasangan Alfred Dumais, berdarah Manado dan Banten, dan Elisabeth Henriette van Slooten, turunan Belanda dan Cina Betawi. Dumais junior dididik di sekolah berbahasa Belanda dan lulus SD Theresia Jakarta tahun 1950. Dia pun bersekolah di ke SMP Kanisius Jakarta, Van lith Gunung Sahari Jakarta, dan masuk Seminari Santo Pius X di Tangerang dan dilanjutkan di Seminari Santo Petrus Kanisius Metroyudan (1953 sampai 1956).

Pendidikan berikut yang dilaluinya adalah Kolese Santo Stanislaus Girisonta Ungaran, Seminari Tinggi “Papal Athenaeum” di Poona, India, IKIP Sanata Dharma Yogyakarta, Keguruan Bahasa Inggris, dan menjadi frater pembantu pater pamong saat itu Pater van Deinse SJ di SMA Kolese Loyola Semarang.

Setelah Belajar Teologi di Kolese St Ignatius Yogyakarta 1967-1970, dia ditahbiskan imam 18 Desember 1969.(PEN@ Katolik/paul c pati)

Tinggalkan Pesan