Vatican Media
Vatican Media

Paus Fransiskus mengatakan bahwa ada orang yang yakin dirinya umat Katolik yang baik tetapi mereka tidak bertindak seperti orang Kristiani yang baik sebagaimana ditunjukkan oleh Sabda Bahagia. Gaya Kristiani adalah gaya Sabda Bahagia yang digambarkan oleh Santo Markus sebagai “anggur yang baru dalam kantong-kantong yang baru.”

Injil, Firman Tuhan, adalah “anggur baru” yang dikaruniai kepada kita, tetapi untuk menjadi umat Kristiani yang baik kita membutuhkan “perilaku baru”, “gaya baru” yang benar-benar “gaya Kristiani”, dan gaya itu ditunjukkan oleh Sabda Bahagia. Inilah arti dari “kata kunci” dari bacaan hari ini dari Injil Markus Mrk. 2:18-22: “Anggur yang baru dalam kantong yang baru.” Paus Fransiskus menjadikannya sebagai tema homili Misa, 21 Januari 2019 pagi, di Casa Santa Marta di Vatikan.

Menurut Paus, kita dapat mempelajari gaya Kristiani dengan terlebih dahulu mengetahui sikap-sikap kita yang bukan merupakan gaya Kristiani. Dalam hal ini, Paus menunjuk tiga gaya: gaya menuduh, gaya duniawi dan gaya egois.

Paus mengatakan, gaya menuduh adalah milik orang yang selalu berusaha dan hidup dengan menuduh orang lain, mendiskualifikasi orang lain, bertindak sebagai pembela-pembela keadilan yang absen. Tetapi mereka tidak menyadari bahwa itu adalah gaya iblis: dalam Kitab Suci, iblis disebut “penuduh besar,” yang selalu menuduh orang lain.

Ini sama dengan zaman Yesus yang dalam beberapa kasus mencela para penuduh: “Daripada melihat selumbar di mata saudaramu, lihatlah balok di matamu,” atau, “Yang tidak berdosa bisa melempar batu yang pertama.” Hidup menuduh orang lain dan mencari kekurangan, kata Paus, bukan “Kristiani,” bukan kantong anggur yang baru.

Berbicara tentang keduniawian, Paus Fransiskus menyebutnya sebagai sikap umat Katolik yang bisa “mengungkapkan Pengakuan Iman atau Aku Percaya,” tetapi hidup dalam “keangkuhan, kesombongan, dan keterikatan pada uang,” dengan keyakinan mereka dapat berdiri sendiri.

Paus mengatakan, Tuhan telah menawarkan anggur baru tetapi kalian tidak mengganti kantong anggur, kalian tidak mengubah diri kalian. Keduniawian inilah yang menghancurkan begitu banyak orang baik dan memasuki semangat kesombongan, kebanggaan, terlihat … Kerendahan hati yang merupakan bagian dari gaya Kristiani, seperti yang dimiliki Bunda Maria dan Santo Joseph, semakin berkurang, kata Paus.

Mengomentari gaya non-Kristiani yang ketiga, Paus mengatakan itulah semangat egois, semangat ketidakpedulian yang umum dalam komunitas-komunitas kita. Seseorang yakin dirinya Katolik yang baik tetapi tidak peduli dengan masalah orang lain – perang, penyakit, dan penderitaan sesama kita. Ini, kata Paus, adalah kemunafikan yang Yesus cela bagi para ahli taurat. Lalu apa gaya Kristiani itu?

Menurut Paus, gaya Kristiani adalah gaya Sabda Bahagia: kelemahlembutan, kerendahan hati, kesabaran dalam penderitaan, cinta akan keadilan, kemampuan untuk menanggung penganiayaan, tidak menghakimi orang lain … Jika seorang Katolik ingin mempelajari gaya Kristiani, agar tidak untuk jatuh dalam gaya menuduh ini, gaya duniawi dan gaya egois, dia harus membaca Sabda Bahagia. Itulah kantong-kantong anggur, langkah yang harus kita ambil. Untuk menjadi orang Kristiani yang baik seseorang harus memiliki kemampuan tidak hanya untuk mengucapkan Pengakuan Iman dengan hati tetapi juga berdoa Bapa Kami dengan hati. (PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan laporan Robin Gomes dari Vatican News)

Tinggalkan Pesan