Mgr Edwaldus
Mgr Edwaldus Martinus Sedu Pr/PEN@ Katolik/pcp

Natal adalah perayaan sukacita karena Allah jatuh cinta kepada manusia, tulis Uskup Maumere Mgr Edwaldus Martinus Sedu Pr dalam Surat Gembala Uskup Maumere menyongsong Perayaan Natal 25 Desember 2018, yang dibacakan serentak di 36 paroki dalam wilayah Keuskupan Maumere, Minggu 16 Desember.

Selain berbicara tentang kasih dan solidaritas Allah lewat kelahiran Kristus, surat gembala itu juga mengomentari Gerakan Solidaritas Keuskupan Maumere yang diluncurkan delapan tahun lalu untuk memerangi berbagai persoalan di wilayah keuskupan itu antara lain kemiskinan dan pesta pora.

Menurut Mgr Edwal, Allah yang agung dan perkasa, yang telah menciptakan manusia, sudi lahir dan tinggal di antara kita dalam diri Yesus Putera-Nya terkasih. “Sejak awal karya penciptaan, Allah telah menunjukkan kasih dan solidaritas-Nya kepada manusia. Allah tidak menghendaki manusia binasa melainkan memperoleh keselamatan. Karena itu Allah selalu mencari dan menuntun manusia kembali ke jalan yang benar, kepada terang sejati,” lanjut surat gembala pertama uskup yang baru itu.

Kelahiran Yesus Kristus di kandang hina Betlehem, tegas uskup kelahiran Bajawa itu, adalah ungkapan kasih dan solidaritas Allah yang nyata. “Allah rela mengosongkan dirinya (kenosis) menjadi manusia lemah, sama seperti kita dalam segala hal, kecuali dalam  hal dosa (Ibr 4: 15),” lanjut uskup.

Solidaritas terhadap saudara-saudari yang menderita lahir dari keprihatinan akan situasi dunia yang penuh dengan ketidakadilan, peperangan, ketimpangan dan kemiskinan. Maka, tulis Uskup Maumere, “Gereja dipanggil untuk menjadi garam dan terang dunia tanpa memandang latar belakang suku, agama, ras dan golongan.”

Menurut Mgr Edwal, Paus Leo XIII telah menekankan bahwa “Gereja perlu membangun persaudaraan Kristiani yang berlandaskan pada cinta kasih dalam satu keyakinan bahwa kita memiliki Bapa yang sama yakni Allah Pencipta (Rerum Novarum 24).”

Menyinggung Gerakan Solidaritas Keuskupan Maumere dalam cahaya kelahiran Kristus, mantan Vikjen Keuskupan Maumere itu mengatakan, sejak Keuskupan Maumere didirikan tanggal 14 Desember 2005 atau memisahkan diri dari Keuskupan Agung Ende, keuskupan itu terus berupaya merancang dan melaksanakan reksa pastoral yang dapat menjawab kebutuhan umat dan dunia.

Tidak dapat dipungkiri, jelas mantan Praeses Seminari Tinggi Ritapiret Maumere Flores itu, “banyak tantangan dan kesulitan, antara lain kemiskinan, pesta pora, rendahnya partisipasi dalam kegiatan Gereja khususnya orang muda dan bapak-bapak, kekerasan dalam rumah tangga, lemahnya daya kritis warga dan rendahnya komitmen petugas pastoral.”

Untuk menangani persoalan-persoalan itu, lanjut Mgr Edwal, tanggal 13 Oktober 2010 Uskup Merauke saat itu mencanangkan Gerakan Solidaritas Keuskupan Maumere dan gerakan itu secara resmi dilaksanakan tanggal 1 Januari 2011 dengan dua aksi unggulan yakni Aksi Solidaritas Pembangunan (GESSER/Gerakan Solidaritas Seribu Rupiah) dan Aksi Solidaritas Pendidikan.

Gerakan Solidaritas Keuskupan Maumere telah berjalan kurang lebih delapan tahun. “Kita telah melihat kemajuan dan manfaat gerakan ini. Banyak anak sekolah mendapat bantuan dana pendidikan dan banyak paroki mendapat sokongan dana pembangunan. Inilah nilai positif dari aksi solidaritas yang kita banggakan,” tegas uskup seraya menyayangkan masih banyak umat belum terlibat untuk memberi. “Masih banyak kendala dalam proses sosialisasi,” tegas uskup. (PEN@ Katolik/Yuven Fernandez)

Tinggalkan Pesan