Pastor Emmanuel Ohoiwutun MSC,  misionaris di Negara Ekuador, Amerika Latin, memberi homili dalam Misa Pesta Perak Imamatnya di Merauke. PEN@ Katolik/ym
Pastor Emmanuel Ohoiwutun MSC, misionaris di Negara Ekuador, Amerika Latin, memberi homili dalam Misa Pesta Perak Imamatnya di Merauke. PEN@ Katolik/ym

Dengan iringan tarian adat Papua, seorang misionaris dijemput di rumah keluarganya dan diarak menuju Gereja Paroki Santo Yoseph Bambu Pemali. Di depan gereja, imam itu disambut dengan tarian adat Kei dan diarak masuk menuju altar bersama uskup dan beberapa imam lainnya.

Pastor Emmanuel Ohoiwutun MSC adalah misionaris di Negara Ekuador, Amerika Latin. Dia berada di kota kelahirannya, Merauke, untuk merayakan Pesta Perak Imamatnya. Sudah 11 tahun imam berdarah Kei yang akrab disapa Pastor Manu, lahir di Merauke, 27 Desember 1958, dan berasal dari Paroki Bambu Pemali, Keuskupan Agung Merauke (MAMe), itu bertugas di Ekuador.

Misa bertema “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya” (Yesaya 42,3a), dirayakan 2 Desember 2018 dan dihadiri ratusan umat serta dipimpin Uskup Agung Merauke Mgr Nicholaus Adi Saputra MSC. Pastor Manu serta beberapa imam MSC dan diosesan menjadi konselebran.

Menurut Pastor Manu, perayaan di Merauke atas permintaan keluarga besarnya dan keinginannya untuk mempromosikan panggilan kepada kaum muda KAMe. “Sebenarnya sudah lama direncanakan. Meskipun saya juga diminta oleh Uskup Riobamba di Ekuador untuk merayakannya di sana, atas izin tarekat saya berada di sini karena keluarga saya meminta saya merayakan di Indonesia, sekaligus saya ingin adakan promosi panggilan di Merauke,” kata imam itu kepada PEN@ Katolik.

Pastor Manu berharap umat Katolik di KAMe selalu memberikan dukungan dan doa untuk dirinya dalam menjalankan tugas perutusan sebagai misionaris di luar negeri. “Harapan saya juga agar orang muda Papua bisa melanjutkan tongkat estafet yang sudah ditanamkan. Kami berharap ada juga anak Papua menjadi misionaris,” kata Pastor Manu.

Ketika ditanya tantangan dan kesulitan misionaris di sana, Pastor Manu menegaskan persoalan pertama adalah bahasa, meskipun dia sudah belajar bahasa Spanyol di seminari kecil dan seminari tinggi, serta kursus dua minggu di Jakarta setelah diminta menjadi misionaris oleh Provincial MSC. Di Spanyol, lanjutnya, dia bersama seorang imam lainnya masih belajar bahasa itu selama 1 bulan lebih dan melakukan adaptasi selama 1 tahun.

“Setelah satu tahun mulai adaptasi dengan budaya dan bahasa, dan sekarang syukurlah kami sudah bisa kuasai secara lisan maupun tulis,” kata imam itu seraya menambahkan budaya setempat juga menjadi tantangan utama, mengingat budaya di sana sangat terbuka dan bebas. “Itu tantangan kami untuk mendalami kehidupan rohani,” lanjutnya.

Pastor Manu mengaku di Ekuador “semuanya harus dikerjakan sendiri, sopir sendiri, masak sendiri, mencuci sendiri serta membersihkan dan merawat rumah sendiri. Itu tantangan-tantangan yang ada,” kata Pastor Manu. Meskipun demikian, lanjutnya, penduduk Ekoador umumnya sangat ramah dan selalu memberikan perhatian khusus kepada para imam.

Pastor Manu adalah anak keenam dan sembilan bersaudara. Kedua orangtuanya, Kanisius Ohoiwutun dan Paskalina Maturbongs sudah meninggal. Setelah SD Santo Agustinus Bambu Pemali dan SD Nasional Katolik (Naskat) di Desa Kolser, Kecamatan Kei Kecil, Maluku Tenggara, dia masuk Seminari Kecil Santo Yudas Tadeus Langgur, Maluku Tenggara dan tamat tahun 1979.

Tahun 1980, Pastor Manu masuk Tarekat MSC. Setelah dua tahun filsafat di Seminari Tinggi Hati Kudus Yesus Pineleng, Sulawesi Utara, dia menjalani novisiat di Karang Anyar Kebumen, Jawa Tengah. Tahun 1983 kembali ke Pineleng, dan ke Merauke tahun 1985 untuk tahun pastoral di Katedral Santo Fransiskus Xaverius Merauke. Setahun kemudian dia melanjutkan pendidikan teologi di Pineleng. Tahun 1990 ia ditugaskan ke Merauke untuk memperdalam kehidupan membiara dan panggilan imamat, dan ke salah satu paroki di daerah Mappi hingga 1991. Dia dipindahkan ke Pulau Kimaam hingga 1993.

Tanggal 28 November 1993, Pastor Manu ditahbiskan imam oleh Uskup Agung Merauke Mgr Jacobus Duivenvoorde MSC di Paroki Bambu Pemali. Setelah tahbisan, ia kembali ke Kimaam, tepatnya Paroki Batu Merah, sebagai Pastor Paroki hingga 2000. Setelah itu, ia jadi Kepala Paroki Santo Yoseph Kumbe. Tahun 2005 ia dipindahkan ke Jakarta kemudian ke Ambon. Tahun 2007, tepatnya 15 April, Tarekat MSC mengutusnya sebagai misionaris di Ekuador.

Di sana dia ditugaskan di Paroki Santo Dominikus de Guzman yang berada di Keuskupan Agung Guayaquil. Setelah kurang lebih 11 tahun, September 2018, Pastor Manu dipindahkan ke Paroki Santo Yoseph di Keuskupan Agung Quito. (PEN@ Katolik/Yakobus Maturbongs)

PEN@ Katolik/ym
PEN@ Katolik/ym
Pastor Emmanuel Ohoiwutun MSC bersama keluarga tiba di halaman gereja. PEN@ Katolik/ym
Pastor Emmanuel Ohoiwutun MSC bersama keluarga tiba di halaman gereja. PEN@ Katolik/ym
Tarian Kei menjemput Pastor Emmanuel Ohoiwutun MSC di depan gereja. PEN@ Katolik/ym
Tarian Kei menjemput Pastor Emmanuel Ohoiwutun MSC di depan gereja. PEN@ Katolik/ym

Tinggalkan Pesan