Uskup Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko membuat simbil cinta perdamaian bersama anak-anak muda Muslim. Foto Romo Wito
Uskup Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko membuat simbo cinta perdamaian bersama anak-anak muda Muslim. Foto Romo Wito

Kami, kaum muda Indonesia, lintas kepercayaan dan agama, melihat kebhinekaan sebagai realita yang kami terima dengan gembira dan siap menanggungnya; Kami, kaum muda Indonesia, lintas kepercayaan dan agama, bersepakat bahwa Indonesia adalah rumah bagi semua dan siap mewujudkannya; Kami, kaum muda Indonesia, lintas kepercayaan dan agama, adalah jalinan sahabat bagi sesama dan siap menghidupinya.

Kesepakatan dengan judul “Langkah Pemuda” itu diserukan di akhir Puncak Srawung Persaudaraan Sejati Orang Muda Lintas Agama Keuskupan Agung Semarang (KAS) yang digelar 26-28 Oktober 2018 di UTC Semarang. Sekitar 1000 orang muda lintas agama dengan komposisi 50 persen orang muda Katolik dan 50 persen orang muda lintas agama (Kristen, Islam, Hindu, Buddha dan Konghucu) dari daerah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta hadir dalam itu.

Dalam pidato penutupan, seperti yang disampaikan panitia srawung itu kepada PEN@ Katolik, Uskup Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko mengungkapkan kegembiraan, karena orang muda dari berbagai latar belakang agama dan kepercayaan dan daerah bisa berkumpul dalam kegembiraan, merayakan kebhinekaan dan meneguhkan persatuan Indonesia.

Mencatat adanya suasana kekerabatan dan kekeluargaan yang penuh suka cita, Mgr Rubi berharap agar “apa yang dialami oleh para peserta dapat diteruskan di tengah kehidupan bersama masyarakat di wilayah masing masing, agar persatuan menjadi nyata dan muncul beragam komunitas yang mampu menjalin persaudaraan, menciptakan harmoni selaku satu bangsa.”

Dikatakan bahwa jejaring penting dirawat untuk menyebarkan kabar baik di antara kita, sekat-sekat akan teretas jika orang muda mampu bersinergi bersikap dan melakukan hal-hal konkret untuk kehidupan bersama. “Orang muda memiliki peran yang sangat luar biasa, orang muda adalah kunci utama karena  daya kritis dan keberaniannya untuk melangkah. Orang muda harus diberi kesempatan untuk mewujudkan cita-cita mulianya,” tegas uskup agung itu.

Dalam konferensi pers seusai acara penutupan, sejumlah peserta mengungkapkan perasaannya. Gita dari SMA Van Lith Muntilan sangat bersyukur dan senang karena dapat berjumpa dengan teman-teman muda dan bersaudara lintas agama. Muhammad Rizal, dari Gusdurian Magelang merasa bangga sebagai orang muda Indonesia karena dapat merasakan kesetaraan, tidak ada mayoritas dan minoritas. Sedang Evi dari Semarang bersyukur karena menemukan banyak pengalaman dan teman.

Sejumlah rencana tindak lanjut dilahirkan dalam acara srawung itu. Mella Kristina dari Wonogiri mengatakan, peserta dari Wonogiri berkomitmen “menjalin interaksi antarmahasiswa dari berbagai sekolah tinggi di Wonogiri, agar dapat melangkah maju bersama.” Sementara peserta dari wilayah Kedu, Magelang, berkomitmen “menghidupi budaya tradisional.”

Gita berkomitmen mengajak teman-temannya untuk lebih berpikiran terbuka, Pastor Joko Lelono mewakili komunitas Jogja akan segera melakukan 10 kegiatan konkret untuk membawa berita baik kepada masyarakat, dan Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan (Kom HAK) KAS Pastor Budi Purnomo Pr, “akan terus mengawal komitmen para peserta dari berbagai komunitas dan daerah.”

Menurut siaran pers yang diterima, Puncak Srawung diselenggarakan atas mandat Dewan Karya Pastoral (DKP) KAS kepada Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan (Kom HAK KAS) serta Komisi Kepemudaan KAS, dan “dalam sinergi dengan Pelita Semarang, Lakpesdam NU Jateng, dan Gusdurian Jateng-DIY.”

Rekrutmen peserta dilakukan melalui jalur paroki, komunitas-komunitas, lembaga pendidikan dan digital open recruitment.

Srawung tiga hari itu ditandai dengan model ekspresi Seni dan Budaya, Edukasi (workshop), Sharing dan Diskusi serta Selebrasi Multikultur. Dalam tiga hari itu, juga dilaksanakan Forum Muda Bercerita, Pemantik Mimpi, Workshop, Forum Penegasan Komitmen dan Rencana Tindak Lanjut. Sendratari mewarnai opening di hari pertama, festival dolanan anak dan gelar budaya di hari kedua dan sendratari berjudul “Klawung” yang dimainkan oleh FKT Kulon Progo di hari ketiga.

Puncak Srawung itu ditempatkan pula dalam rangka 90 Peringatan Hari Soempah Pemoeda. Maka, pada tanggal 28 Oktober dilaksanakan Langkah Pemuda berupa deklarasi dan tekad kerja sama pasca-Srawung di empat kota atau wilayah yakni Semarang, Surakarta, Yogyakarta dan Kedu-Magelang).(PEN@ Katolik/paul c pati)

Mgr Rubiyatmoko membuka Garuda Pancasila. Foto Romo Wito
Mgr Rubiyatmoko membuka Garuda Pancasila. Foto Romo Wito
Srawung 3
Foto Romo Wito

IMG-20181028-WA0018 (2)

 

Tinggalkan Pesan