Foto: Dokumentasi Lion Air
Foto: Dokumentasi Lion Air

Paus Fransiskus menyatakan kesedihan bagi para korban dari pesawat Indonesia yang jatuh ke laut hari Senin, 29 Oktober 2018, dengan membawa 189 orang tak lama setelah lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, menuju Pangkalpinang.

“Mendengar dengan sedih kecelakaan pesawat baru-baru ini di Jakarta, Paus Fransiskus menyampaikan belasungkawa kepada semua orang yang terkena dampak tragedi ini,” demikian telegram belasungkawa yang ditandatangani atas nama Sri Paus oleh Menteri Negara Vatikan, Kardinal Pietro Parolin, demikian laporan Robin Gomes dari Vatican News.

“Dia memastikan akan berdoa bagi semua yang meninggal dan bagi yang berdukacita atas kehilangan mereka. Yang Mulia memohon kekuatan dan kedamaian dari Allah Yang Mahakuasa untuk bangsa (Indonesia) dan semua yang terlibat dalam upaya penyelamatan dan pemulihan,” tulis kardinal itu dalam pesan kepada Duta Vatikan untuk Indonesia Uskup Agung Piero Pioppo.

Menurut informasi, penerbangan Lion Air JT610 menuju ke Pangkalpinang, Pulau Bangka, itu kehilangan kontak dengan pejabat di darat tak lama setelah pilotnya meminta untuk kembali ke pangkalan sekitar 13 menit setelah tinggal landas.

Seorang pejabat transportasi mengatakan, pesawat itu meminta untuk segera kembali setelah lepas landas dari Jakarta sekitar pukul 06.20. Kondisi cuaca normal tetapi pesawat merek baru Boeing 737 MAX 8 itu mengalami masalah teknis pada penerbangan sebelumnya.

Sebuah kapal tunda yang sedang meninggalkan pelabuhan Jakarta melihat jatuhnya pesawat itu. Namun, tidak nampak tanda-tanda ada yang selamat.

Dari jumlah orang di dalam pesawat itu, menurut Lion Air, ada satu anak dan dua bayi, serta delapan awak. Juga dikatakan ada sekitar 20 staf Kementerian Keuangan di antara penumpang.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menginstruksikan kepada Komite Keselamatan Transportasi untuk melakukan penyelidikan terhadap penyebab jatuhnya pesawat itu dan serta “mohon doa dan dukungan dari semua.”

Bahkan di malam hari, Presiden Jokowi memerintahkan tim pencari pesawat Lion Air JT 610 yang jatuh di perairan Karawang itu, untuk terus bekerja selama 24 jam, hingga malam hari, agar mempercepat pencarian badan pesawat yang hingga kini belum ditemukan.

Deputi Operasi Badan SAR Nasional (Basarnas) Mayjen Nugroho Budi Wiryanto mengatakan, sekitar 300 orang termasuk tentara, polisi, dan nelayan setempat terlibat dalam pencarian dan sejauh ini tidak menemukan mayat, hanya KTP, barang-barang pribadi dan puing pesawat dari lokasi kecelakaan, sekitar 15 km di lepas pantai.

Berdasarkan data Posko Basarnas di Pelabuhan JICT 2, Tanjung Priok, tulis Kompas 29 Oktober pukul 21.25, setidaknya ada enam tanda identitas yang sudah ditemukan. Pertama, KRI Cobra pukul 18.29 membawa dompet atas nama Michelle Virginia dan Mariam Ulfa. Kapal itu juga membawa bagian tubuh, sepatu abu-abu, sepatu hitam, sepatu anak-anak nomor tujuh, serpihan pesawat, dan tas cokelat berwarna satu.

Pukul 18.35, lanjutnya, KNP 365 tiba di pelabuhan membawa identitas atas nama Denny Maulana serta dua dompet atas nama Vita D dan Faisaleh Harhara. Ditemukan pula bagian tubuh, sepatu anak-anak, sepatu dewasa, dan serpihan pesawat.

Pukul 18.40, kembali datang RIB KDPASKA membawa satu dompet dan identitas atas nama Niko Yoga M, satu tas, satu life jacket, serpihan pesawat, dan empat bagian tubuh. Hingga pukul 20.45, setidaknya ada 29 kapal penyelamatan yang berlayar ke perairan Tanjung Karawang. Kapal-kapal ini terus bersandar di Pelabuhan JICT 2 Tanjung Priok untuk menyerahkan hasil temuan mereka.(PEN@ Katolik/paul c pati)

Tinggalkan Pesan