OSSROM125128_Articolo

Dengan tipu daya dan rayuan, iblis yang nampak sopan dan bersahabat bisa membawa kita dalam keduniawian. “Kalau iblis tidak mampu menghancurkan dengan kejahatan, peperangan atau ketidakadilan, dia akan melakukannya dengan cara halus, secara bertahap membawa orang masuk dalam semangat dunia, membuat mereka merasa tidak ada yang salah.”

Renungan yang disampaikan Paus Fransiskus dalam Misa pagi, di Casa Santa Marta, Vatikan, 12 Oktober 2018, itu berdasarkan bacaan Injil hari itu tentang Yesus mengusir setan yang kembali dengan roh-roh jahat lainnya untuk menguasai rumah yang pernah ditinggalkannya.

Ketika menguasai hati seseorang, kata Paus, iblis menjadikannya sebagai rumahnya, tak mau pergi, serta berupaya menghancurkan dan membahayakan orang itu bahkan secara fisik.

Paus menjelaskan bahwa perjuangan antara yang baik dan yang jahat dalam diri manusia sesungguhnya adalah perjuangan Allah melawan ular, Yesus melawan iblis.

Seraya memperingatkan bahwa tujuan dan panggilan setan adalah “menghancurkan karya Tuhan,” Paus Fransiskus mengatakan bahwa ketika iblis tidak dapat merusak “dengan bertatap muka” karena Tuhan adalah kekuatan lebih besar yang membela manusia, maka dia, yang licik dan “lebih pintar dari rubah,” berupaya mencari cara untuk mendapatkan kembali orang itu.

Dengan berfokus pada episode Injil Luk. 11:15-26 di mana setan kembali setelah diusir, Paus mengatakan dia dengan sangat sopan mengatakan bahwa dia kembali meski sebenarnya dia diusir. Mendapati rumah itu “bersih tersapu dan rapi teratur,” dia membawa beberapa roh lain yang lebih buruk darinya, dan mereka masuk dan menjadikannya tempat tinggal mereka, dan kondisi orang itu menjadi lebih buruk dari sebelumnya.

Paus mengatakan iblis membuat kita merasa nyaman sebagai orang Kristen, umat Katolik yang mengikuti Misa dan berdoa. Kami memang punya cacat, dosa-dosa, tetapi semuanya tampak teratur. Dengan bertingkah seperti orang sopan, iblis berupaya menemukan titik lemah dan mengetuk pintu dengan berkata, “Maaf? Bisakah saya masuk?” dan membunyikan bel. Paus mengatakan iblis-iblis ini lebih buruk daripada yang pertama, karena Anda tidak menyadari mereka ada di rumah. Mereka adalah roh duniawi, roh dunia.

Paus mengatakan bahwa iblis secara langsung menghancurkan kejahatan, perang atau ketidakadilan atau melakukan dengan sopan dan diplomatis seperti yang Yesus jelaskan. Dengan bekerja diam-diam, mereka berteman dan membujuk Anda dengan cara biasa-biasa saja, sehingga Anda “tidak menentang” keduniawian.

Maka, Bapa Suci mendorong umat Kristen untuk berjaga-jaga agar tidak jatuh “ke dalam keadaan yang biasa-biasa saja ini, ke dalam roh dunia ini,”  yang “merusak kita dari dalam.” Paus mengatakan dia lebih takut pada iblis-iblis ini daripada yang pertama.

Paus mengatakan, ketika seseorang meminta seorang pengusir setan untuk orang yang kerasukan setan, dia tidak khawatir, tetapi dia khawatir kalau orang membuka pintu mereka kepada setan-setan yang sopan yang membujuk mereka dari dalam sebagai teman.

Bapa Suci berkata, dia sering bertanya pada diri sendiri apakah lebih baik memiliki dosa yang jelas atau hidup dalam roh dunia.

Menurut Paus , semangat keduniawian termasuk membawa iblis yang berperilaku baik. Dalam hal ini Paus mengingat doa-doa Yesus pada Perjamuan Terakhir: “Jagalah mereka dari roh dunia” seraya meminta murid-murid-Nya untuk “berjaga-jagalah dan tenang.”

Maka Paus mendesak orang Kristen untuk berjaga-jaga dan tenang menghadapi setan-setan sopan yang ingin masuk rumah bagaikan tamu pernikahan. “Kewaspadaan umat Kristiani,” kata Paus adalah pesan Yesus, yang bertanya apa yang terjadi di dalam hati, mengapa saya biasa-biasa saja, mengapa saya tidak menentang, berapa banyak orang “santun” tinggal di rumah tanpa bayar sewa? (PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan laporan Robin Gomes dari Vatican News) Foto Vatican Media

1 komentar

Tinggalkan Pesan