Uskup Manado Mgr Rolly Untu MSC membagikan bantuan di Gereja Stasi Sidera. Foto: Komsos Keuskupan Manado
Uskup Manado Mgr Rolly Untu MSC membagikan bantuan di Gereja Stasi Sidera. Foto: Komsos Keuskupan Manado

“Di masa darurat bencana tahap kedua ini, saya meminta supaya bantuan kemanusiaan dan karya para relawan harus terus dilanjutkan secara intensif, kerja sama dengan banyak pihak harus terus dibangun dan diupayakan demi kepentingan masyarakat terdampak bencana.”

Uskup Manado Mgr Rolly Untu MSC menegaskan hal itu dari Manado, 13 Oktober 2018, setelah kembali dari kunjungan ke Palu, Sulawesi Tengah, yang masuk dalam wilayah Keuskupan Manado, 11 dan 12 Oktober, menyusul gempa bumi, tsunami dan likuifaksi (semburan lumpur) yang terjadi di Kota Palu, Kabupaten Sigi dan Kabupaten Donggala, 28 September.

Keuskupan Manado, kata Mgr Rolly dalam pernyataan tentang “Penanganan Bencana Palu dan Sekitarnya,” seperti dilaporkan oleh Komsos Keuskupan Manado lewat halaman Facebook, memberi perhatian kepada umat dan masyarakat terdampak bencana dengan bekerja sama dengan semua pihak lain yang bersedia membantu.

Dalam Tahap Kedua Tanggap Darurat, tegas uskup, tim relawan akan fokus memberi bantuan berupa makanan dan minuman, family kit atau pakaian serta kebutuhan keluarga, hygiene kit atau sabun dan perlengkapan mandi, serta shelter kit atau tenda.

Sesudah Tahap Tanggap Darurat, lanjut Uskup Manado, “kita akan mempersiapkan tahap rehabilitasi dengan mengupayakan tempat tinggal sementara, mengusahakan tersedianya fasilitas air bersih, memberdayakan umat dan masyarakat di bidang ekonomi, menguatkan kapasitas pelayanan kemanusiaan dan menggelar usaha-usaha trauma healing.”

Mgr Rolly menyatakan duka mendalam atas mereka yang menjadi korban, senasib-sepenanggungan dengan mereka yang terdampak bencana, mendukung usaha-usaha para relawan, berterima kasih kepada mereka yang sudah dan akan terus membantu dan mengajak seluruh umat dan masyarakat untuk mengungkapkan solidaritas kita kepada mereka yang menderita.

Bencana itu, “sungguh membuat ribuan orang meninggal dunia, puluhan ribu orang kehilangan tempat tinggal dan puluhan ribu rumah dan gedung hancur,” tulis Mgr Rolly yang dalam kunjungan itu melihat kerusakan di mana-mana.

Mgr Rolly pertama-tama berkunjung ke Gereja Katolik Santo Paulus. “Ada dapur umum. Gereja baru yang sedang dalam tahap penyelesaian masih berdiri kokoh walau ada kerusakan kecil. Gereja digunakan sebagai tempat berlindung, tidur, dan berdoa. Pastoran masih bisa dipakai walaupun ada retak di bagian kamar,” tulis uskup.

Di Stasi Sidera dan Jonooge, Kabupaten Sigi, uskup melihat umat terkumpul di halaman rumah ketua stasi. “Gereja Sidera yang sedang dibangun terkena musibah jatuhnya dinding atas bagian depan dan belakang. Kemudian kami membagikan makanan kepada masyarakat Jonooge yang tinggal di tenda-tenda,” kata uskup.

Dalam perjalanan ke Desa Jonooge, uskup melihat tenda-tenda di tanah kosong maupun di halaman gedung atau rumah, serta jalan yang terbelah dan hilang, rumah dan bangunan yang hancur, patah, miring, retak, serta persawahan yang berubah menjadi perkebunan jagung karena pergeseran oleh likuifaksi. Di Petobo, uskup melihat sekitar 700-an rumah tenggelam ditutup oleh lumpur, jalan turun dua meter dan di Pantai Talise, yang terkena dampak tsunami, uskup melihat kehancuran di mana-mana.

Ketika tiba di Kompleks Gereja dan Pastoran Santa Maria Palu, Mgr Rolly melihat banyak pastor, suster, frater, dewan pastoral, relawan dari dalam dan luar negeri, serta menyaksikan aula tempat penampungan dan distribusi bantuan.

“Ada lubang di bagian depan aula akibat dinding atas roboh, demikian juga plafon di atas panggung jatuh. Gereja yang raksasa itu masih berdiri kokoh meski ada kancingan-kancingan kawat di bawah atap terlepas. Salib besar di dinding altar masih tergantung pada tempatnya meski marmer-marmer di sekitarnya banyak yang berjatuhan merusak kursi di panti imam,” cerita uskup dalam pernyataan yang dibagikan oleh Komsos Keuskupan Manado itu.

Mgr Rolly menyaksikan solidaritas dan semangat umat yang membuka dapur umum untuk umat dan masyarakat agama lain, yang berdoa rosario dan yang merayakan Ekaristi. “Pukul 20.30, semua tim berkumpul di bawah koordinasi Ketua PSE Keuskupan Manado Pastor Joy Derry Pr untuk melaporkan dan mengevaluasi layanan hari itu serta mempersiapkan pelayanan untuk hari berikut.

Uskup melaporkan, sejak 28 September , Pastor Joy Derry yang juga penanggung jawab Caritas Keuskupan Manado menjalin komunikasi dengan Karina, Caritas Makassar, dan paroki-paroki di Kevikepan Palu, untuk merespon Bencana Palu, dan keesokan harinya uskup bersama Ketua Komsos dan Ketua PSE menyampaikan bela rasa dan solider kepada para korban, dan mengajak umat Katolik dan masyarakat untuk menyatakan kepedulian melalui rekening keuskupan.

“Saya sangat berterima kasih kepada semua pihak, umat, masyarakat, keuskupan-keuskupan, tarekat-tarekat dan seluruh komunitas nasional dan internasional yang sudah memberi bantuan konkret. Sampai 11 Oktober 2018, sumbangan yang terkumpul 2.712.023.268 rupiah. Sungguh bentuk dukungan dan solidaritas luar biasa,” tegas Mgr Rolly.

Juga dilaporkan, PSE Keuskupan telah membentuk pos pelayanan di Paroki Santa Maria Palu dan di Sentrum Agraris Lotta, Pineleng, Sulut, dan bekerja sama dengan Karitas Indonesia dan Karitas Makassar. “Posko di Lotta dikoordinir oleh staf Komisi PSE Divisi Kebencanaan dibantu suster-suster DSY, frater-frater diosesan dan Misionaris Hati Kudus Pineleng, Kaum Bapak Katolik Kevikepan Manado dan umat Keuskupan Manado,” jelas uskup.

Bantuan bahan makanan untuk Pos Pelayanan Santa Maria, lanjut uskup, didukung penuh oleh pastores dan umat paroki-paroki sekitar Palu. “Paroki Kota Raya, Beteleme, Tentena, dan Tolai menjadi pemasok logistik baik yang dikumpulkan umat maupun yang dibiayai oleh dana bantuan bencana Keuskupan Manado,” kaya uskup seraya menambahkan bahwa para pastor paroki di Kevikepan Palu membantu mengumpulkan relawan, bahkan terjun langsung menjadi relawan.

Pelayanan kemanusiaan dari Posko Santa Maria Palu, sesuai catatan Mgr Rolly, melibatkan pastor dan umat paroki di Kevikepan Palu, Karina, keuskupan-keuskupan lain (yang membantu tenaga, dana dan logistic), JPIC OFM, Camilian International, Catholic Relief Service, Caritas Jerman Indonesia, dan ERCB.

Tim kesehatan, lanjut uskup, datang dari Suster Puteri Kasih, ALMA puteri, RGS, Vincentians, Suster JMJ dari RS Gunung Maria, RS Budi Mulia, dan RS Budi Setia, dokter dan perawat dari Palu, Kelompok Bakti Kasih Kemanusiaan (KBKK) dan Perdhaki.

Posko Santa Maria mencatat sudah melayani lebih dari 2000 kepala keluarga Katolik dan non-Katolik, serta 668 pasien. “Pelayanan ini masih berlangsung dan sekarang sedang menjangkau daerah yang sama sekali belum mendapat bantuan, seperti wilayah Kulawi,” jelas uskup.

Menyadari banyak umat dari Palu mengungsi ke rumah-rumah keluarga di Manado dan sekitarnya, Mgr Rolly menegaskan, “Saya mohon supaya paroki-paroki di mana ada keluarga-keluarga ini untuk memberi perhatian dan solidaritas. Seandainya paroki membutuhkan dukungan bantuan dana dan logistik dari posko keuskupan, silahkan mengirimkan permintaan ke Komisi PSE Divisi Kebencanaan dan keuskupan akan menyalurkannya lewat paroki.”(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan laporan Komsos Keuskupan Manado)

Foto Komsos Keuskupan Manadi di Stasi Jannoge.
Foto Komsos Keuskupan Manadi di Stasi Jannoge.
Gereja Katolik Janooge. Foto Komsos Keuskupan Manado
Gereja Katolik Janooge. Foto Komsos Keuskupan Manado
Posko Santa Maria, Palu. Foto Komsos Keuskupan Manado
Posko Santa Maria, Palu. Foto Komsos Keuskupan Manado
Mgr Rolly Untu MSC menyalami para korban dan memberi bantuan. Foto Komsos Keuskupan Manado
Mgr Rolly Untu MSC menyalami para korban dan memberi bantuan. Foto Komsos Keuskupan Manado

Tinggalkan Pesan