Foto berdasarkan Bernadette Felix - Google+
Paus Fransiskus meletakkan mawar putih di tepi kolam Ground Zero di New York. Foto berdasarkan Bernadette Felix – Google+

Dalam menghadapi terorisme yang terjadi tanggal  11 September, Santo Paus Yohanes Paulus II, Paus emeritus Benediktus XVI, dan Paus Fransiskus semua mengingatkan dunia untuk mengupayakan jalan damai dan cinta, yang mengalahkan semua bentuk kebencian dan kekerasan.

Pada hari ulang tahun ke-17 serangan 11 September 2001 di World Trade Center di New York, Devin Watkins dari Vatican News, mengajak melihat perkataan dan tindakan dari ketiga Paus itu ketika menghadapi kengerian 11 September.

Paus Santo Yohanes Paulus II: 2001

Hari itu hari Selasa. Paus Yohanes Paulus II (JPII) menyaksikan peristiwa-peristiwa yang disiarkan langsung di televisi. Sekretaris persnya kemudian menceritakan bagaimana JPII berusaha menghubungi Presiden AS George W Bush melalui telepon untuk menyatakan kedekatannya dengan rakyat Amerika. Tetapi presiden tidak dapat dijangkau dan berada di lokasi yang aman untuk alasan keamanan. Sebagai gantinya, Paus mengirim telegram yang mencela “serangan tidak manusiawi” itu dan memastikan doanya di masa-masa sulit itu.

Keesokan harinya, hari Rabu, Paus Yohanes Paulus II mengadakan Audiensi Umum mingguan di bawah tekanan penderitaan batin. 11 September, kata Paus, “adalah hari yang kelam dalam sejarah manusia, serangan yang mengerikan terhadap martabat manusia.” Paus menambahkan: “Hati manusia adalah sebuah neraka. Dari situ, kadang-kadang, muncul tindakan keganasan yang teramat buruk.”

Paus emeritus Benediktus XVI: 2008

Tanggal 20 April 2008, Paus Benediktus XVI melakukan kunjungan kepausan pertama ke Ground Zero di New York. Untuk menghormati para korban, Paus memilih untuk tidak memberikan pidato. Sebaliknya, Paus berdoa.

Di bawah langit kelabu, obo (alat musik double reed jenis woodwind) memainkan nada sedih ketika Paus turun ke monumen yang belum selesai untuk menatap ke dalam kolam. “Ya Allah, karena besarnya tragedi ini, kami mencari cahaya dan bimbingan-Mu karena di saat kami menghadapi peristiwa-peristiwa mengerikan seperti itu.”

Paus Benediktus kemudian menyalakan lilin untuk mengenang para korban yang meninggal di New York, Washington D.C., dan di penerbangan United Airlines 93 yang jatuh di Pennsylvania.

Paus Fransiskus: 2015

Tujuh tahun kemudian, Paus Fransiskus mengikuti jejak pendahulunya, dengan mengunjungi monumen Ground Zero yang telah selesai tanggal 25 September 2015. Hanya suara air mengalir yang dapat didengar ketika Bapa Suci meletakkan mawar putih di tepi kolam.

Di lokasi simbolis itu, Paus Fransiskus mengadakan pertemuan antaragama, dan menyerukan semua agama untuk bersama-sama meningkatkan perdamaian.

“Tempat kematian ini menjadi tempat kehidupan juga,” kata Paus. Ini “sebuah himne untuk kemenangan kehidupan atas para nabi kehancuran dan kematian, untuk kebaikan atas kejahatan, untuk rekonsiliasi dan persatuan atas kebencian dan perpecahan.”(PEN@ Katolik/pcp berdasarkan Vatican News)

1 komentar

Tinggalkan Pesan