112th-CBCP-Plenary-01222016
Foto dari web cbcpnews

Terguncang dengan gugatan pelecehan seksual yang dilakukan klerus dalam Gereja Katolik khususnya di Amerika Serikat, para uskup di Filipina mengungkapkan “rasa sakit dan malu” atas kejahatan-kejahatan itu, seraya menjanjikan aksi dan tidak ada penyembunyian atas tindakan kriminal semacam itu.

Konferensi Waligereja Filipina (CBCP) telah bersumpah bahwa klerus yang mencabuli gadis-gadis dan anak-anak kecil akan ditangani dengan tepat.

Ketua CBCP Uskup Agung Davao Mgr Romulo Valles mengatakan “situasi menyakitkan” itu memanggil para uskup untuk “meninjau kembali” hukum Gereja universal dan lokal tentang pelecehan seksual.

“… Dan dengan tekad dan komitmen baru menerapkannya dan tidak menutupinya,” kata Mgr Valles dalam pernyataan pastoral yang dikeluarkan 31 Agustus 2018.

Dalam suratnya di tahun 2016, CBCP telah memastikan kerjasama dengan otoritas sipil untuk mengatasi pelanggaran yang dilakukan klerus yang telah mencoreng wajah Gereja di seluruh dunia.

Para uskup mengatakan bertekad untuk memastikan bahwa Gereja adalah lingkungan yang aman bagi semua umat Katolik, terutama anak-anak, dan menjamin perhatian yang layak bagi para korban dan keluarga mereka.

Pernyataan berjudul “Seruan pastoral tentang perhatian dan perlindungan pastoral bagi anak-anak di bawah umur,” itu dimaksudkan untuk memandu keuskupan-keuskupan berdasarkan pendekatan global namun sejalan dengan hukum pidana lokal.

Seraya menyerukan seruan Paus Fransiskus, kepala CBCP juga meminta Gereja berdoa dan berpuasa di tengah pengungkapan rahasia pelanggaran yang dilakukan klerus.

“Situasi ini juga memanggil kami kepada sesuatu yang penting. Situasi itu mengingatkan kita untuk datang kepada Tuhan dalam doa,” lanjut Mgr Valles.

“Ini sesuatu yang dapat kita adakan dan lakukan di keuskupan-keuskupan dan paroki-paroki kita, di komunitas-komunitas agama kita, dan dalam KBG-KBG (Komunitas Basis Gerejani) kita,” kata Mgr Valles.(Roy Lagarde dari cbcpnews)

Tinggalkan Pesan