cq5dam.thumbnail.cropped.750.422 (8)

Paus Fransiskus bertemu dengan Jaringan Legislator Katolik Internasional (ICLN) dalam konferensi tahunan ke-9 mereka, seraya mengatakan kepada mereka bahwa posisi mereka sebagai orang Katolik dengan peran otoritatif adalah untuk menyebarkan undang-undang yang berdasarkan ajaran Gereja guna membantu umat Katolik dan umat dari minoritas dari agama-agama lain yang teraniaya di seluruh dunia.

Dalam pertemuan itu, seperti dilaporkan oleh Francesca Merlo dari Vatican News, Bapa Suci menyatakan bahwa tema kebebasan beragama dan suara hati, yang menjadi pusat renungan dalam pertemuan ICLN 2018, itu “sangat penting dan aktual.”

Paus Fransiskus mengingatkan para anggota ICLN tentang salah satu dokumen terpenting Konsili Vatikan II, yang diterbitkan 7 Desember 1965, yakni Deklarasi Dignitatis Humanae, yang masih relevan saat ini. Paus mengatakan, saat itu para Para Bapa Konsili membahas kekhawatiran yang muncul di sekitar rejim-rejim yang berusaha “memaksa warga negara mempraktekkan agama mereka dan membuat hidup menjadi sulit dan berbahaya bagi komunitas-komunitas agama,” meskipun kebebasan agama diakui dalam konstitusi mereka.

Bapa Suci kemudian berbicara tentang bagaimana Dignitatis Humanae dapat diterapkan pada penganiayaan agama saat ini – dengan menyatakan bahwa, sayangnya, fenomena ini masih berlanjut di beberapa negara. Situasi itu sebenarnya memberatkan umat Katolik dan kelompok minoritas agama lain yang berpusat di daerah yang terkena dampak fundamentalisme, kata Paus.

Paus Fransiskus menyatakan bahwa kebebasan beragama saat ini harus “secara sadar menghadapi dua hal yang sama-sama mengancam dan menentang ideologi: relativisme sekuler dan radikalisme agama – dalam realitas radikalisme pseudo-agama.”

Paus mengatakan kepada para anggota ICLN bahwa, meskipun mereka semua memainkan peran berbeda di negara mereka masing-masing, kesamaan mereka adalah niat baik untuk melayani Kerajaan Allah dengan komitmen politik yang jujur.

“Jauh dari perasaan atau tampil sebagai pahlawan atau korban, politisi Katolik dipanggil, pertama dan terutama, seperti setiap orang yang dibaptis, untuk berupaya menjadi saksi – melalui kerendahan hati dan keberanian – dan untuk mengusulkan undang-undang konsisten yang berdasarkan pandangan Katolik tentang kemanusiaan dan masyarakat, dan selalu berusaha bekerja sama dengan semua orang yang memiliki pandangan yang sama seperti ini,” kata Paus.

ICLN adalah asosiasi legislator, perwakilan pemerintah, ahli dan otoritas sipil dan politik. Pertemuan tahunan mereka mencakup audiensi dengan Bapa Suci guna meningkatkan pembinaan dan pendidikan mereka. Mereka bertemu dengan tujuan untuk mencapai dan menyebarkan visi bersama tentang tema yang diusulkan, berdasarkan ajaran Gereja, sesuai peran mereka sebagai individu di pemerintahan dan institusi lain di negara mereka.

Tahun ini menandai pertemuan tahunan ke-9 ICLN dengan judul “The ICLN Religious Freedom Summit” (pertemuan puncak kebebasan beragama ICLN). Tema ini didedikasikan untuk merenungkan perhatian yang diberikan Gereja dalam beberapa tahun terakhir terhadap orang Katolik yang dianiaya di seluruh dunia dan untuk mengembangkan prakarsa-prakarsa masa depan dalam situasi di mana, “ada harapan,” kata Presiden ICLN, Prof Dr Christiaan Alting von Geusau.(pcp berdasarkan Vatican News)

1 komentar

Tinggalkan Pesan