Uskup Kalookan Mgr Pablo Virgilio David merayakan Misa dalam Konferensi Filipina tentang Evangelisasi Baru di UST di Manila, 19 Juli 2018. ROY LAGARDE
Uskup Kalookan Mgr Pablo Virgilio David merayakan Misa dalam Konferensi Filipina tentang Evangelisasi Baru di UST di Manila, 19 Juli 2018. ROY LAGARDE

Wakil Ketua Konferensi Waligereja Filipina Uskup Kalookan Mgr Pablo Virgilio David mengecam pernyataan Presiden Rodrigo Duterte bahwa dia tidak peduli dengan hak asasi manusia (HAM) karena dia menolak mundur dari perang berdarah melawan narkoba.

Menurut Mgr David, pernyataan presiden itu berarti pembunuhan akan terus berlanjut dan lebih banyak nyawa akan hilang di sepanjang jalan. “Peringatannya menakutkan. Itu berarti kita harus menyiapkan diri melihat lebih banyak pembunuhan,” kata uskup itu.

Dalam pidato kenegaraan ketiga di depan parlemen Filipina, 23 Juli 2018, Duterte mengatakan bahwa perjuangan pemerintahannya melawan perdagangan obat-obatan terlarang masih jauh dari selesai. Sebaliknya, menurut dia, pembunuhan akan berlangsung “tanpa henti dan mengerikan” seperti di hari pembunuhan itu dimulai dua tahun lalu.

Memukul balik kritik terhadap dirinya, Duterte berkata, “yang kalian kuatirkan adalah HAM, yang saya kuatirkan adalah kehidupan manusia.”

Pernyataan itu, demikian penyesalan Mgr David, menyiratkan bahwa korban pembunuhan terkait narkoba bukanlah kehidupan manusia, sesuatu yang “Gereja tidak pernah bisa setujui.” Uskup itu pun menegaskan, “Pernyataan itu tidak masuk akal tetapi tidak terlalu mengejutkan karena telah dinyatakan dengan jelas pada beberapa kesempatan.”

Dijelaskan, bagi Gereja pecandu narkoba adalah “orang sakit.” Penggunaan narkoba, lanjut Mgr David, “bukanlah kejahatan yang pantas dibunuh. Yang dibutuhkan orang dengan gangguan penggunaan zat seperti itu adalah rehabilitasi dan kami di Gereja bersedia membantu upaya ini.”

“Ya, gunakan kekuatan hukum sepenuhnya, tuntut para pelanggar, penjarakan para penjual dan pemasok narkoba, tetapi selamatkan para pengguna; jangan bunuh mereka! Selain itu, kita tidak bisa lagi merehabilitasi orang yang sudah mati, kan?” lanjut uskup itu.

Mgr David mengatakan mereka akan setuju dengan kampanye Duterte melawan obat-obatan terlarang hanya jika diarahkan terhadap individu yang benar, khususnya pemasok besar narkoba.

“Kenapa pasokan obat terlarang tetap stabil kendati sudah terjadi semua pembunuhan itu?” tanya Mgr David. “Apakah tidak jelas bahwa para pecandu dan pedagang kecil serta penjual narkoba bukanlah akar penyebab masalah narkoba? Tidakkah jelas bahwa mereka juga adalah korban, dan bahwa mereka juga perlu diselamatkan, bukan dibunuh?”

“Pertarungan melawan obat-obatan terlarang memang harus tanpa henti dilaksanakan, tetapi pembunuhan-pembunuhan – baik oleh polisi atau oleh petugas bertopeng – harus dihentikan! Ini akan tetap menjadi permohonan kami yang keras dan tanpa henti,” kata Mgr David.(pcp berdasarkan laporan CBCPNews)

Artikel Terkait:

Keluarga Dominikan Filipina akan puasa melawan pembunuhan akibat perang melawan narkoba

Para Uskup Filipina khawatir perang lawan narkoba tewaskan 81 orang dalam empat hari

Para uskup Filipina ajak umat berdoa mengaku dosa beramal untuk masa-masa sulit

Umat Katolik Filipina berdemo menentang ancaman terhadap kehidupan

Gereja mendesak pertobatan atas pembunuhan yang merajalela di Filipina

Tinggalkan Pesan