Panggilan

Sebanyak 23 kelompok ordo dan tarekat serta seminari di Keuskupan Agung Pontianak (KAP) merayakan hari Minggu Doa Panggilan se-Dunia ke-55 dengan live in selama tiga hari, 20-22 April 2018, di keluarga-keluarga dalam Paroki Keluarga Kudus Kota Baru KAP.

Kelompok yang ikut live in yang diprakarsai Seksi Kerasulan Keluarga dan Panggilan Paroki Kota Baru itu adalah Seminari Tinggi Antonino Ventimiglia, CM, Putri Kasih, Alma, SMFA, CSE, Putri Karmel, OP, OFMCap, OSCap, MTB, MSC, CP Putra dan Putri, SFD, KFS, OSA, OSM, MSA, SDC, PRR dan SFIC.

Tujuan live in untuk “memperkenalkan kepada umat, khususnya OMK, tentang berbagai ordo, tarekat, dan kongregasi yang berkarya di KAP, kekayaan panggilan dalam Gereja Katolik, dan mengajak OMK mau menjawab panggilan menjadi imam, bruder dan suster,” kata koordinator seksi itu, Hermanus Herman, kepada PEN@ Katolik.

Lima orang dari setiap ordo atau kongregasi ikut dalam live in bertema “Zaman Now … Masih Mau Berjubah?” dengan hastag #Mendengarkan, Menegaskan, Menghidupi Panggilan# itu. “Kami disambut begitu hangat dan penuh haru. Salah satu keluarga yang kami kunjungi mengatakan, ‘Ini peristiwa langka. Jarang-jarang ada suster, bruder, frater berkunjung ke rumah’,” lanjut Suster Romana SFIC.

Selain memperkenalkan ordo atau tarekat serta sharing pengalaman hidup membiara dan tanya jawab dalam pertemuan bersama umat di lingkungan, yang melibatkan Biak, Rekat, OMK dan umat, peserta juga mengunjungi umat yang sakit, lansia atau jompo, yang bermasalah dan jarang ke gereja.

Dalam kunjungan itu, kata Suster Immaculata SFIC mengatakan kepada media ini, ada anggota keluarga mengatakan, “Menjadi anugerah luar biasa bagi kami setelah dikunjungi suster, bruder maupun frater,” dan ada pula yang mengatakan, “Kaum berjubah ini sungguh membawa berkat bagi keluarga kami.”

Dalam Misa Hari Minggu Doa Panggilan di Gereja Kota Baru, 22 April 2018, yang dipimpin Kepala Paroki Pastor Yulianus Astanto Adi CM bersama enam imam konselebran sebagai puncak aksi panggilan itu, Pastor Andreas Kurniawan OP yang menyampaikan homili mengatakan bahwa tidak mudah mendengarkan suara Tuhan di zaman serba canggih ini.

“Banyak suara lebih menarik terdengar melalui aneka medsos seperti smartphone, sehingga suara Tuhan yang lembut menyapa tidak terdengar lagi,” kata Pastor Andrei yang mengajak umat membangun relasi mendalam dengan Sang Gembala yang baik dan berdoa agar semakin banyak kaum muda bersedia menjawab panggilan Tuhan sebagai imam, bruder maupun suster.

Menurut data, KAP memiliki 97 imam, 317 suster, 48 bruder dan 415.239 umat. “Boleh dihitung secara kasar, satu pastor harus melayani sekitar 4.281 umat. Kita butuh banyak pastor yang bisa menghadirkan Kristus dalam rupa Komuni Kudus sebagai jaminan untuk memperoleh keselamatan, memperoleh hidup yang kekal, sebab Yesus bersabda, Akulah Roti Hidup,” lanjut imam Dominikan itu.

Pastor Astanto berterima kasih atas kehadiran para imam, bruder, frater dan suster yang memberi warna tersendiri di hati umat melalui live in dan aksi panggilan di parokinya dan menghimbau seluruh umat agar lebih tekun berdoa dan merelakan anak-anaknya untuk menjadi imam, bruder dan suster.

Setelah Misa, umat mengunjungi stan-stan panggilan dari berbagai ordo atau kongregasi serta menyaksikan pentas seni oleh para imam, bruder, frater dan suster. “Dulu paham saya, menjadi suster itu hidupnya hanya berdoa, ternyata mereka boleh menampilkan kreasi dan bakat melalui tarian dan lagu,” kata seorang anggota OMK.

Selain makan siang di stan-stan makanan yang disediakan tiap lingkungan, peserta menyaksikan Talk Show Panggilan di halaman gereja, yang dikemas oleh panitia dengan melibatkan OMK. Talk show itu menampilkan Pastor Kebry CM dan Frater Iko Pr sebagai MC dan Pastor John Wahyudi OFMCap, Frater Pio CSE, Suster Erika SDC, dan Suster Margareta OSA sebagai nara sumber.

Pastor John, yang tertarik menjadi imam Kapusin karena jubah coklat dan persaudaraan yang begitu kental dikalangan pengikut Santo Fransiskus Assisi, mengatakan bahwa “panggilan itu misteri dan tidak ada kata terlambat untuk menjawab panggilan-Nya.

Menurut Suster Erika, pertanyaan “Who Am I?” membuat dia berani memutuskan untuk tidak menikah dan menjadi biarawati, karena “saya ingin menjadi berkat bagi orang lain, berani meninggalkan segala-galanya untuk memperoleh segala-galanya.”

Ketertarikan Frater Pio untuk menjadi biarawan tertanam sejak kecil. Dia memilih CSE karena suka dengan cara hidup para rahib Benediktin. “Jangan takut melangkah jika sudah ada panggilan, beranilah mengatakan ‘ya’ karena panggilan itu sekuat jawaban. Semakin berani saya mengatakan ‘ya’ maka saya akan semakin kuat setiap hari,” pesannya kepada OMK.

Suster Margareta mengatakan, dia menjadi biarawati OSA karena pernah diasuh oleh para suster OSA di asrama. “Saya punya keinginan kuat menjadi suster, karena di kampungku belum ada yang jadi imam, bruder dan suster,” tegasnya.

Talk show ditutup dengan doa dan berkat. Sebelum pulang seluruh imam, bruder, frater dan suster naik ke pentas dan menyanyikan “Pangilan Hidupku”.(Suster Maria Seba SFIC)

IMG_20180422_131928Panggilan4Panggilan6Panggilan3Panggilan7Panggilan1Panggilan2

Tinggalkan Pesan