Sekitar 25.000 orang muda yang sedang mempersiapkan perkawinan bertemu dengan Paus Fransiskus dalam audiensi khusus Hari Santo Valentinus, 14 Februari 2014. Sebelum Paus datang, acara yang diselenggarakan oleh Dewan Kepausan untuk Keluarga itu dipenuhi musik dan tarian.
Setelah pengantar dari presiden dewan itu, Uskup Agung Vincenzo Paglia, beberapa pasangan mengajukan pertanyaan kepada Paus tentang tantangan pasangan Kristen dalam perjalanan menuju pernikahan, demikian laporan Junno Arocho Esteves dari Kota Vatikan seperti dilaporkan oleh Zenit.org.
Pasangan Nicolas Pecino dan Marie Alexa Gaggero dari Gibraltar bertanya kepada Bapa Suci tentang kesulitan komitmen untuk sisa hidup mereka. âBanyak orang merasa tantangan hidup bersama untuk selamanya itu indah, mempesona, namun banyak permintaannya, hampir mustahil. Kami minta nasihat Anda tentang hal ini untuk mencerahkan kami,â pinta mereka.
Bapa Suci mengatakan, dalam dunia yang serba cepat saat ini, banyak pasangan takut membuat pilihan pasti dalam hidup mereka sehingga mereka âtetap bersama sampai cinta ini berakhir.â Ditegaskan, âcinta lebih dari sekedar perasaan atau keadaan psikofisik, melainkan hubungan yang tumbuh seperti pembangunan rumah.â
âSama seperti kasih Allah yang stabil dan selamanya, maka kita menginginkan agar cinta yang merupakan dasar dari keluarga itu juga stabil dan selamanya. Jangan biarkan diri kita dikalahkan oleh âbudaya sekali pakai langsung buangâ,â kata Bapa Suci.
Paus mengatakan kepada pasangan-pasangan yang berkumpul itu bahwa kuatir akan âselamanyaâ disembuhkan dari hari ke hari melalui kehidupan doa. Dalam Doa Bapa Kami, kata Paus, âkita mengatakan âBerikanlah kami rezeki pada hari ini. Pasangan yang menikah bisa belajar berdoa seperti ini, âTuhan berikanlah kami cinta hari iniâ karena cinta setiap hari adalah roti bagi pasangan-pasangan yang menikah,â kata Paus.
Pasangan Italia, Stefano Campoli dan Valentina Mirabella, bertanya kepada Paus tentang âgayaâ hidup rohani yang harus dijalani para pasangan. Mengulangi apa yang pernah ditekankan dalam pertemuan dengan keluarga-keluarga di akhir tahun lalu, Bapa Suci mengatakan bahwa hidup bersama adalah seni yang dapat diringkas dalam tiga kata: permisi, terima kasih dan maafkan saya.
âPermisi adalah adalah permintaan lembut untuk masuk ke dalam kehidupan seseorang dengan hormat dan perhatian,â kata Paus seraya menambahkan bahwa meminta permisi berarti mengetahui cara masuk ke dalam kehidupan orang lain dengan sopan. âSopan santun melestarikan cinta,â ,â tegas Paus seraya menegaskan bahwa âdalam keluarga dan dunia yang banyak berisi kekerasan dan kecongkakan yang lebih dibutuhkan adalah sopan santun.â
Paus berusia 77 tahun itu juga mengatakan bahwa âterima kasihâ bukan hanya cara sopan dalam berbicara tapi sebuah tanda syukur. âMaafkan saya,â kata Paus, memungkinkan kita untuk mengenal dan belajar dari kesalahan.
âKita semua tahu bahwa tidak ada keluarga yang sempurna, tidak ada juga suami yang sempurna atau istri yang sempurna,â kata Paus. âKita pun tidak akan berbicara tentang ibu mertua yang sempurna,â kata Paus bercanda.
âYesus mengenal kita dengan baik dan mengajarkan sebuah rahasia: jangan pernah mengakhiri hari tanpa meminta maaf, tanpa mengembalikan perdamaian di dalam rumah kita, keluarga kita.â
Pertanyaan terakhir yang ditanyakan oleh Miriam dan Marco, pasangan dari Toscana, Italia bagian tengah, adalah tentang cara yang terbaik dalam merayakan Sakramen Pernikahan. Mengakhiri dialog dengan pasangan-pasangan itu, Bapa Suci mengatakan, meskipun pernikahan itu adalah pesta, pentinglah menyoroti apa yang paling penting.
âAda yang menguatirkan tanda-tanda eksterior, perjamuan makan, foto-foto, gaun dan bunga.â Meskipun semua itu penting untuk pesta, mereka hanya berguna kalau dipakai untuk menunjukkan alasan yang benar untuk kegembiraan mereka yakni berkat Allah atas cinta mereka.
âBuatlah sedemikian rupa sehingga, laksana anggur di Kana, tanda-tanda eksterior pada pesta kalian mengungkapkan hadirnya Tuhan dan mengingatkan kalian dan semua yang hadir tentang asal mula dan alasan sukacita kalian,â kata Paus.(pcp)***
