IMG_9461

Provinsial Dominikan (Ordo Pewarta) Provinsi Filipina Pastor Napoleon Sipalay Jr OP berada di Paroki Redemptor Mundi, Surabaya, untuk menghadiri pentahbisan Pastor Mingdry Hanafi Tjipto OP, 13 Oktober 2017. Dalam Misa Tahbisan Imam yang dipimpin Uskup Surabaya Mgr Vincentius Sutikno Wisaksono itu, Pastor Sipalay dan Pastor Adrian Adiredjo OP sebagai kepala Paroki Redemptor Mundi bertindak sebagai konselebran.

Setelah Misa dan makan malam, Paul C Pati dari PEN@ Katolik dan Arue bertemu dengan Pastor Sipalay untuk wawancara mengenai perayaan itu, jumlah imam Dominikan Indonesia, karya-karya Dominikan di Indonesia, penugasan Pastor Mingdry, dan hubungan dengan para suster Dominikan dan Dominikan awam.

Apa kesan Pastor tentang perayaan tahbisan Pastor Mingdry ini?

Saya sangat bahagia dan terinspirasi melihat pertumbuhan Dominikan di tempat ini yang tidak hanya ditandai dengan tahbisan imam baru, tapi dengan berbagai usaha bersama Keluarga Dominikan (para imam, frater, suster dan awam) dengan uskup dan para pastor lain, yang menunjukkan bagaimana sebenarnya hidup menggereja itu. Kami, Dominikan, tidak sendiri, tapi bersama dengan semua orang yang bekerja sama dengan kita. Saya pikir, inilah gambaran yang sangat bagus tentang membangun Gereja, terutama di sini di Surabaya.

Tapi hanya empat orang Indonesia yang ditahbiskan imam untuk Provinsi Filipina selama lebih dari satu dekade!

Sebenarnya Ordo Dominikan tidak mengejar jumlah atau kuantitas tapi kualitas pelayanan yang bisa kita berikan untuk Gereja. Ya, jika kita hanya mengejar jumlah, kita bisa menahbiskan banyak imam dalam setahun. Pelayanan kita sebagai Dominikan untuk Gereja adalah pelayanan doktrinal. Jadi sejak awal kita harus mempersiapkan para frater untuk terlibat dalam peran pewartaan ajaran Gereja atau membantu berteologi, dan para frater harus dipersiapkan lewat studi dan kualifikasi.

Maka, banyak frater belum ditahbiskan sampai mereka menyelesaikan pendidikannya. Itu persyaratan minimum. Tapi, setelah tahbisan Pastor Mingdry ada banyak frater dari Indonesia yang akan ditahbiskan.

Sekali lagi, karena mengejar pelayanan doktrinal untuk Gereja, kita harus mempersiapkan para frater. Jadi, meski baru empat imam Dominikan asal Indonesia yang ditahbiskan satu dekade, setidaknya mereka adalah Dominikan.

Bagaimana dengan karya-karya Dominikan di dua rumah Dominikan di Indonesia?

Ketika datang di Pontianak, kami diminta untuk hadir menangani dialog antaragama dan formasi seminari. Namun, saya kira saat ini permintaannya untuk terlibat dalam evangelisasi melalui pendidikan. Uskup menantang kami bukan hanya bekerja sama dengan keuskupan tetapi juga dengan pemangku kepentingan lain, kongregasi lain dan umat awam untuk nanti mendirikan universitas Katolik untuk Kalimantan. Dan di sini, di Surabaya, kami diminta membantu Paroki Redemptor Mundi dan formasi para calon imam di seminari.

Pendidikan memang merupakan salah satu prioritas Provinsi Dominikan Filipina. Saya berharap karunia yang kami miliki di Filipina bisa kami bawa ke sini juga. Tapi lebih dari sekedar sekolah, seminari atau paroki, tantangan bagi kami adalah bagaimana menggunakan karunia sebagai Dominikan untuk membantu orang benar-benar mengenal Tuhan dan dengan mengenal Tuhan, mereka menjadi lebih dekat dengan-Nya. Kita memiliki diktum: “Semakin tahu, semakin mencintai. Semakin mengenal Tuhan, semakin mencintai Tuhan.”

Namun, Uskup Agung Pontianak dan Uskup Surabaya mengatakan keuskupan mereka membutuhkan lebih banyak imam!

Tantangan ini sangat penting. Saya kira, kita harus mengikuti apa yang Tuhan katakan, “Mintalah kepada Tuhan yang mempunyai panenan, untuk mengirimkan pekerja-pekerja dalam panenan-Nya.” Tetapi lebih dari sekedar berdoa, kita harus melakukan bagian kita, melakukan promosi panggilan, bukan hanya pergi menemui orang-orang, tetapi peduli dengan kaum muda di tempat kita berada, melakukan pelayanan pastoral bagi kaum muda, dan mendorong mereka untuk melihat indahnya mendedikasikan diri kepada Tuhan dan indahnya kehidupan religius.

Pelayanan Dominikan  bukan hanya dalam kehidupan religius tetapi menjadi presbyter, pemimpin perayaan Ekaristi dan pelayanan sakramen-sakramen. Saya sendiri tidak yakin bahwa panggilan itu hanya sedikit. Ada banyak orang yang bermurah hati. Yang kita perlukan adalah menciptakan suasana dan pengalaman akan Tuhan dan panggilan Tuhan mudah-mudahan membawa mereka ke dalam pelayanan, tidak hanya untuk Dominikan tetapi untuk Gereja. Kita harus mempromosikan panggilan terutama panggilan imamat, tidak hanya sebagai Dominikan tapi imam diosesan dan imam kongregasi lain.

Di mana Pastor akan menempatkan Pastor Mingdry?

Mindry akan menjalani program untuk tahbisan baru. Tahun pertama selalu dekat rumah formasi. Di Indonesia rumah formasi ada di Surabaya. Tapi saya dengar dari formatornya bahwa dia harus menyelesaikan beberapa program yang belum diselesaikan. Jadi dia harus menyelesaikannya dulu sebelum ditugaskan di sini. Tapi apa pun ini, tugas pertamanya di Surabaya dan kedua di tempat misi. Karena Pontianak ditugaskan untuk misionaris, dia akan menjalani tahun kedua di sana selama satu atau dua tahun. Setelah bertugas di tempat misi ia akan mendapat tugas lain dan dikirim di mana diperlukan. Tapi saya kira Surabaya lebih membutuhkannya, karena di sini ada paroki dan ada permintaan uskup untuk mengurus universitas.

Saya dengar, banyak calon imam Dominikan di Indonesia tumbuh berkat campur tangan para Suster Dominikan!

Harus simbiosis. Saya percaya ke mana pun mereka pergi untuk mempromosikan panggilan, mereka mempromosikan Keluarga Dominikan, tidak hanya untuk menjadi imam tetapi menjadi suster apostolik bahkan Dominikan awam. Tapi ke depan, semoga kita bisa mempromosikan aspek lain dari Keluarga Dominikan yang belum ada di Indonesia, yakni suster kontemplatif. Kelompok ini tidak pernah berhenti berdoa untuk kita, tidak pernah berhenti memohon kepada Tuhan untuk mengirim lebih banyak pekerja ke panenan. Saya berharap nanti bisa melihat mereka di sini.

Dominikan awam juga berada di bawah Provinsi Filipina. Bagaimana Pastor melihat Dominikan Awam di Indonesia?

Mereka tidak hanya sangat kreatif tapi sangat pantas untuk memenuhi panggilan mereka. Satu kelompok pernah datang untuk meminta agar mereka menjadi bagian Keluarga Dominikan, padahal di tempat  mereka di Jakarta tidak imam Dominikan. Ada juga kelompok Dominikan Awam di beberapa tempat di Indonesia, di mana imam Dominikan tidak ada tetapi ada Suster Dominikan.

Para Dominikan Awam harus didorong untuk benar-benar menemukan peran mereka di pelayanan kita. Saya berharap mereka bisa menjadi kolaborator aktif. Di sini di paroki ini sangat jelas peran mereka dalam banyak aspek. Saya juga melihat di Pontianak mereka berkolaborasi dengan kehadiran para imam di sana. Tapi, lebih dari sekadar partisipasi liturgis atau ritual pengucapan kaul, hendaknya mereka lebih aktif dalam pelayanan Dominikan yang nyata, dalam pelayanan pendidikan, pelayanan dalam evangelisasi melalui aspek yang berbeda di masa depan, media misalnya. Karena, mereka bukanlah tambahan dalam Ordo Pewarta, mereka juga pewarta, mereka harus bersuara di Gereja, tidak seperti kita yang berkhotbah lewat mimbar, karena mereka awam, tapi bersuara dengan cara berbeda. Mereka bukan pekerja tambahan tapi mitra.***

IMG_9293IMG_9299IMG_9378IMG_9349

Tinggalkan Pesan