Mgr Anton Subianto Bunjamin

Wawancara dengan Uskup Bandung Mgr Antonius Subianto Bunjamin

Keluarga menjadi tantangan bagi Gereja Keuskupan Bandung, khususnya bagaimana menghadapi pastoral keluarga yang berbenturan dengan hukum (baca: aturan Gereja). “Hukum harus ditegakkan, tetapi belas kasih melampaui hukum. Maka saya mengajak para imam untuk menjalankan reksa pastoral yang berbelas kasih, daripada sekedar menerapkan aturan administrasi,” kata Uskup Bandung Mgr Antonius Subianto Bunjamin.

Paus Fransiskus juga mengatakan bahwa administrasi penting tetapi jauh lebih penting adalah belas kasih. “Misalnya, sangat jelas dalam Gereja Katolik bahwa orang yang perkawinan Katoliknya pecah atau mendapat masalah tidak boleh menyambut komuni. Itu hukum. Tetapi bagaimana kalau ada orang yang sungguh-sungguh membutuhkan komuni, belas kasih?”

Paus Fransiskus menghadapi masalah ini dalam Sinode Para Uskup 2015. Menjawab persoalan itu, Paus menjawab, “Siapakah saya ini sehingga saya harus mengadili orang itu?” Maka, tegas Mgr Subianto, “Saya juga demikian. Siapakah saya ini maka saya harus mengadili orang yang kebetulan mendapat masalah dalam perkawinan. Maka kita harus melebihi hukum!”

Berikut jawaban Mgr Subianto atas pertanyaan Paul C Pati dari PEN@ Katolik dalam dalam konferensi pers selesai menutup Sinode Keuskupan Bandung di Katedral Bandung, 22 November 2015.

PEN@ Katolik: Mgr Subianto telah menetapkan tahun 2016-2017-2018 sebagai Tahun Keluarga. Mengapa mesti tiga tahun?

Mgr Antonius Subianto Bunjamin: Lima tahun lalu, arah pastoral Keuskupan Bandung hanya satu setiap tahun: kelompok basis, keluarga dan panggilan, liturgi, solidaritas sosial, kemasyarakatan. Ternyata, baru mau mulai atau sedang merencanakan sudah evaluasi. Maka itu tidak efektif.

Maka mari kira garap tahun khusus dengan fokus keluarga dimulai dengan Tahun Yubileum Belas Kasih atau Kerahiman yang akan dibuka tanggal 8 Desember 2015. Keuskupan ini akan menjalankan Tahun Belas Kasih dengan fokus keluarga. Bagaimana memberikan belas kasih kepada semua keluarga, teristimewa yang membutuhkan belas kasih dan tak tersapah.

Dalam SAGKI 2015 ada sharing-sharing pengalaman umat tentang suka cita keluarga dan tentang perjuangan dan tantangan mempertahankan keutuhan keluarga. Ada juga sharing dari orang yang tidak bisa mempertahankan keluarga, yang sudah merasa bersalah, disudutkan, dan tidak boleh menerima komuni juga. Anak-anaknya juga merasa tersingkir.

Justru Gereja harus merangkul orang seperti ini. Maka, marilah para imam dan para petugas pastoral membantu mereka. Namun yang lebih penting bagaimana keluarga yang utuh menggembalakan atau saling menjaga jangan sampai ada pertanyaan seperti yang ditanyakan Allah kepada Kain, “Di manakah saudaramu?” Ya, keluarga-keluarga yang utuh dipanggil untuk menjadi penjaga bagi keluarga-keluarga yang mungkin mengalami permasalahan.

Langkah-langkah pastoral apa yang Mgr rencanakan untuk tiga tahun ini?

Pertama, para gembala dan petugas pastoral perlu mendapat bekal dan pengayaan dalam pengetahuan teologi tentang keluarga, hukum Gereja tentang keluarga, dan pastoral tentang keluarga yang terpadu dan berjenjang mulai dari persiapan perkawinan sampai pasca perkawinan, termasuk pertolongan pada keluarga-keluarga yang menghadapi kesulitan.

Maka, kami sudah memesan beberapa buku terkait yang akan dibagikan kepada para imam tanggal 2 Desember 2015 sebagai bagian dari ongoing-formation. Setelah itu akan diadakan pembicaraan dengan komisi keluarga dalam tiga tahun ini apa yang bisa dilakukan untuk keluarga-keluarga, termasuk kunjungan keluarga.

Namun, jangan dipikirkan bahwa ini hanya merupakan kegiatan uskup dan para imam, ini sungguh merupakan kegiatan Gereja. Harapan besar, umat sendiri terlibat. Para pastor paroki sebagai gembala umat sangat didengarkan. Umat mau tidak mau mengandalkan imam, maka imam pun perlu mendapatkan pengetahuan yang pas dan pantas berkaitan dengan reksa pastoral, supaya sungguh kehendak Allah yang diwujudkan, dan keprihatinan pastoral dari Paus Fransiskus sungguh dilaksanakan.

Kalau mau disebut pertobatan, maka pertobatan pastoral dimulai dari siapa?

Dari pimpinan Gereja, dari uskup dari imamnya, dari tokoh-tokoh umat di paroki, dari keluarga-keluarga. Itu ajakan Sri Paus juga, mari bertobat mulai dari kita sendiri. Pertobatan pastoral secara menyeluruh dari para petugas pastoralnya, dari keluarga-keluarga, juga bentuk lembaganya mengalami pertobatan.

Bagaimana Mgr melihat Sinode Keuskupan Bandung 2015?

Saya sendiri sebetulnya kaget dengan 37 hasil itu. Kemarin malam saya renungkan satu persatu. Sangat berat! Tetapi itulah panggilan Allah melalui Roh Kudus, yang kita undang dalam sinode ini untuk bekerja di keuskupan ini.

Bagian pemuda saja, kalau satu itu mau digarap, luar biasa. Regenerasi yang terstruktur, misalnya. Bagaimana mewujudkannya, apa materinya, apa lembaganya, apa kegiatannya, siapa pelaksananya? Bagaimana kita bisa mempunyai program, kalau tidak ada yang full time? Ini tantangan berat!

Persoalan keluarga itu konkret. Persoalan dengan umat beragama lain itu konkret. Persoalan dengan budaya lain itu konkret. Itu dialami semua. Saya yakin, meski hanya 16 topik dengan 37 kebijakan pastoral, itu mencakup semua, bahkan orang hidup dan orang mati dibicarakan, anak sekolah, anak muda sampai orangtua. Dibicarakan semua, mulai dari orang yang miskin dan berkebutuhan khusus, hingga orang mapan. Luar biasa.

Sinode ini dibiarkan mengalir. Mungkin orang lain menertawakan hasil sinodenya, karena serius-seriusan, pra sinode pertama menghasilkan lineamenta atau garis besar sinode, pra sinode kedua menghasilkan instrumentum laboris atau kertas keja sinode, dan sinode mengeluarkan hasilnya, 37 kebijakan pastoral. Pola itu biasa dipakai dalam pola sinode di Roma, sinode yang resmi.

Mgr bukan saja menetapkan 37 kebijakan tetapi juga Sinode Orang Muda 2016 dan Tahun Keluarga 2016 sampai 2018. Apakah Mgr masih punya waktu?

Saya punya pikiran bahwa Gereja Keuskupan Bandung bukan punya saya. Gereja Keuskupan Bandung adalah Gereja Tuhan, maka Tuhan yang memiliki Gereja itu, Dialah yang akan mengerjakannya. Jangan sampai terjebak bahwa sayalah yang mengerjakan dan tanpa saya tidak terjadi. Tidak! Gereja ini milik Tuhan, Tuhan yang mengerjakan. Sekalipun hari ini saya dipanggil kembali oleh Tuhan, saya yakin Gereja ini akan berlangsung, karena Tuhan yang mengerjakan.

Apalagi, Dewan Karya Pastoral sudah berjalan. Yang dihasilkan dalam sinode adalah hasil mereka juga. Itu yang luar biasa. Saya hanya menggembalakan, melihat, ikut berbicara, dan memberi masukan, tetapi hasilnya dari mereka.

Jadi, saya merasa harus selalu ada waktu. Yang penting Tuhan telah memanggil saya. Kalau Tuhan memanggil saya, maka Tuhan juga akan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Ia yang memulai, Ia pula yang akan menyelesaikan.

Tapi Mgr telah diangkat sebagai Sekretaris Jenderal KWI!

Menjadi Sekjen KWI itu tidak pernah saya pikir. Saya baru setahun menjadi uskup. Pikiran saya waktu itu adalah menjadi ketua komisi kepemudaan atau ketua komisi pendidikan. Itu yang ada dalam pikiran saya ketika orang-orang mulai bicara. Tetapi kalau ini yang Tuhan hendaki, maka Tuhan pula yang akan menyelesaikan.

Ketika saya diminta oleh Sri Paus melalui Nuntio untuk menjadi uskup, saya hanya menjawab bahwa saya ini hamba Gereja, ketika Gereja membutuhkan saya, saya akan menyediakan waktu. Kalau Paus meminta saya, saya akan melaksanakan.

Tapi kita harus percaya kepada Roh Kudus, karena Dialah yang akan mengerjakan karya Allah dalam Gereja. Selama sinode, tim doa yang saya andalkan, yang sering orang lupakan, bekerja luar biasa. Mereka berdoa memohon kehadiran Roh Kudus.

Sebelum sinode, para fasilitator dan ketua-ketua bidang juga merasa tidak ada keseragaman dalam presentasi, tetapi ternyata hasilnya luar biasa, presentasinya sama. Yang bekerja adalah Roh Kudus.

Kemarin, harusnya voting selesai, tapi ternyata ada tiga hal tertinggal dan semuanya penting, maka tadi pagi kita melakukan voting untuk itu. Pertama berkaitan dengan pelayanan kepada orang mati dan berduka; kedua, pelayanan kepada orang miskin dan berkebutuhan khusus; ketiga, pemberdayaan dan reorientasi pada pelayanan publik yang sudah ada. Itu karya Roh Kudus.

Bagaimana Mgr yakin bahwa semua program dan kebijakan itu akan berjalan sesuai moto Mgr, Ut Diligatis Invicem?

Pertama, kita harus berdialog. Dewan Karya Pastoral dan Dewan Pastoral Paroki bukan pegawai. Itu rekan kerja, teman pastoral. Maka wajah dan bentuk karyanya pun akan lain-lain. Terserah paroki dan terserah lingkungan, kita hanya memberi arah. Jangan sampai kita menjadi Gereja yang dikejar-kejar target, kegiatan atau perencanaan, jangan! Tetapi, bagaimana terus-menerus menghadirkan wajah Allah. Itu jauh lebih penting daripada target.

Saya percaya, Allah suka keteraturan, maka Ia akan bantu rencana-rencana kita dan mewujudkan karya keselamatan melalui rencana dan program yang teratur. Di samping itu, kita percaya bahwa Allah juga bekerja di luar hal-hal yang teratur.***

Tinggalkan Pesan