IMG_8475

Dosa adalah pemberontakan spiritual yang terungkap dalam tubuh. Jadi tubuh itu bukan jahat, melainkan menjadi sarana nikmat, sarana kekuatan, sarana persaingan, sarana iri, sarana kekuasaan dan lain sebagainya, kata abdis dari para suster kontemplatif seraya menunjukkan adanya ketidakpuasan dalam tubuh manusia.

Padahal yang sebenarnya, kata suster itu, ketidakpuasan dalam diri itu adalah kerinduan akan Allah. Ketidakpuasan dalam diri manusia ada macam-macam, misalnya ketidakpuasan terhadap makanan, pakaian, karier, minuman keras, kekayaan, kekuasaan, jabatan, dan posisi. “Jiwa kita yang rindu akan Tuhan, tapi karena tidak tahu apa yang dibutuhkan, terjadilah kekacauan dalam tubuh,” jelas Suster Martha Elisabeth Driscoll OCSO di Pertapaan Bunda Pemersatu Gedono, Salatiga.

Delapan suster yunior dari beberapa komunitas Kongregasi Suster-Suster Santo Dominikus (OP) datang ke Biara Ordo Cisterciensis Strictioris Observantiae (OCSO/Trapis) itu untuk mengikuti program Bina Yunior OP, 19-21 Februari 2015. Pertemuan Bina Yunior Para Suster OP diadakan tiga kali dalam setahun di tempat yang berbeda-beda dengan pendamping berbeda-beda pula.

Dengan bimbingan abdis itu, delapan suster itu memperdalam pengetahuan dan penghayatan akan kaul kemurnian dengan membahas tentang teologi tubuh. Mereka didampingi juga oleh Suster Dominika OP dan Suster Christiana OP.

Menurut Suster Martha OSCO yang digelari Abdis Gedono itu, tidak ada hidup spiritual yang terpisah dari hidup jasmani. “Jiwa berada di dalam tubuh kita untuk menjiwainya. Jiwa dan raga begitu menyatu sehingga sulit sekali menentukan batasan antara keduanya. Jiwa hanya tampak melalui tubuh dan tubuh menginteriorisasikan semua tindakan dan pengalaman sampai menjadi jiwa,” ungkap abdis itu.

Namun ditegaskan bahwa kita adalah tubuh Kristus. “Maka tubuh harus dihormati sebagai kehadiran sakral diri saya dan kehadiran Tuhan di dalam saya. Kita memberi tubuh kita kepada Tuhan artinya memberi semua tenaga, kemampuan fisik dan intelektual, semua emosi, pikiran dan perasaan, serta semua waktu dan kehadiran pribadi kita,” lanjut Suster Martha.

Juga dijelaskan bahwa yang paling konkret dalam hidup adalah tubuh. “Kita mengungkapkan diri dan menyerahkan diri melalui tubuh, melalui tindakan-tindakan konkret. Hidup spiritual bukan sesuatu yang abstrak, terpisah dari hidup manusia. Kita bukan malaikat dan tidak akan menjadi malaikat. Tubuh tidak melawan jiwa, yang material tidak melawan yang rohani.”

Memang diakui bahwa manusia seringkali berpikir bahwa tubuh memberatkan jiwa dan menghambat hidup spiritual, bahwa yang jahat berasal dari tubuh sedangkan roh itu baik dan hanya menginginkan yang baik. “Bayangan semacam itu masih merupakan ‘dualisme’. Itu bukan pandangan kristiani. Kodrat manusia adalah tubuh yang dijiwai oleh kesadaran akan diri sendiri dan kemampuan untuk memilih dengan bebas,” jelas abdis itu.

Di sela-sela pertemuan bina yunior itu, delapan suster itu juga belajar tentang jurnalisme yang disampaikan oleh Paul C Pati, seorang wartawan senior yang juga mengelola media online PEN@ Katolik dan Majalah Arue milik Keluarga Dominikan di Indonesia. Kursus itu diberikan untuk membantu para suster mensukseskan Tahun Hidup Bakti lewat media cetak dan media online.

Kedelapan suster itu telah kembali ke komunitasnya masing-masing seraya mengenang dorongan Abdis Gedono: “Muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” (Suster Averina OP)

IMG_8455

Tinggalkan Pesan