Minggu, Maret 22, 2026

Bacaan dan Renungan Sabtu, 28 Maret 2026, Hari Biasa Pekan Prapaskah V (ungu)

Bacaan I – Yeh. 37:21-28

Katakanlah kepadanya: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Sungguh, Aku menjemput orang Israel dari tengah bangsa-bangsa, ke mana mereka pergi; Aku akan mengumpulkan mereka dari segala penjuru dan akan membawa mereka ke tanah mereka.

Aku akan menjadikan mereka satu bangsa di tanah mereka, di atas gunung-gunung Israel, dan satu raja memerintah mereka seluruhnya; mereka tidak lagi menjadi dua bangsa dan tidak lagi terbagi menjadi dua kerajaan.

Mereka tidak lagi menajiskan dirinya dengan berhala-berhalanya atau dewa-dewa mereka yang menjijikkan atau dengan semua pelanggaran mereka. Tetapi Aku akan melepaskan mereka dari segala penyelewengan mereka, dengan mana mereka berbuat dosa, dan mentahirkan mereka, sehingga mereka akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahnya.

Maka hamba-Ku Daud akan menjadi rajanya, dan mereka semuanya akan mempunyai satu gembala. Mereka akan hidup menurut peraturan-peraturan-Ku dan melakukan ketetapan-ketetapan-Ku dengan setia.

Mereka akan tinggal di tanah yang Kuberikan kepada hamba-Ku Yakub, di mana nenek moyang mereka tinggal, ya, mereka, anak-anak mereka maupun cucu cicit mereka akan tinggal di sana untuk selama-lamanya dan hamba-Ku Daud menjadi raja mereka untuk selama-lamanya.

Aku akan mengadakan perjanjian damai dengan mereka, dan itu akan menjadi perjanjian yang kekal dengan mereka. Aku akan memberkati mereka dan membuat mereka banyak dan memberikan tempat kudus-Ku di tengah-tengah mereka untuk selama-lamanya.

Tempat kediaman-Kupun akan ada pada mereka dan Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku.

Maka bangsa-bangsa akan mengetahui bahwa Aku, TUHAN, menguduskan Israel, pada waktu tempat kudus-Ku berada di tengah-tengah mereka untuk selama-lamanya.”

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur Kepada Allah

MT Yer. 31:10,11-12ab,13

  • Dengarlah firman TUHAN, hai bangsa-bangsa, beritahukanlah itu di tanah-tanah pesisir yang jauh, katakanlah: Dia yang telah menyerakkan Israel akan mengumpulkannya kembali, dan menjaganya seperti gembala terhadap kawanan dombanya!
  • Sebab TUHAN telah membebaskan Yakub, telah menebusnya dari tangan orang yang lebih kuat dari padanya.
  • Mereka akan datang bersorak-sorak di atas bukit Sion, muka mereka akan berseri-seri karena kebajikan TUHAN, karena gandum, anggur dan minyak, karena anak-anak kambing domba dan lembu sapi; hidup mereka akan seperti taman yang diairi baik-baik, mereka tidak akan kembali lagi merana.
  • Pada waktu itu anak-anak dara akan bersukaria menari beramai-ramai, orang-orang muda dan orang-orang tua akan bergembira. Aku akan mengubah perkabungan mereka menjadi kegirangan, akan menghibur mereka dan menyukakan mereka sesudah kedukaan mereka.

Bacaan Injil – Yoh. 11:45-56

Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya.

Tetapi ada yang pergi kepada orang-orang Farisi dan menceriterakan kepada mereka, apa yang telah dibuat Yesus itu.

Lalu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi memanggil Mahkamah Agama untuk berkumpul dan mereka berkata: “Apakah yang harus kita buat? Sebab orang itu membuat banyak mujizat.

Apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepada-Nya dan orang-orang Roma akan datang dan akan merampas tempat suci kita serta bangsa kita.”

Tetapi seorang di antara mereka, yaitu Kayafas, Imam Besar pada tahun itu, berkata kepada mereka: “Kamu tidak tahu apa-apa, dan kamu tidak insaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa.”

Hal itu dikatakannya bukan dari dirinya sendiri, tetapi sebagai Imam Besar pada tahun itu ia bernubuat, bahwa Yesus akan mati untuk bangsa itu, dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai.

Mulai dari hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia. Karena itu Yesus tidak tampil lagi di muka umum di antara orang-orang Yahudi, Ia berangkat dari situ ke daerah dekat padang gurun, ke sebuah kota yang bernama Efraim, dan di situ Ia tinggal bersama-sama murid-murid-Nya.

Pada waktu itu hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat dan banyak orang dari negeri itu berangkat ke Yerusalem untuk menyucikan diri sebelum Paskah itu. Mereka mencari Yesus dan sambil berdiri di dalam Bait Allah, mereka berkata seorang kepada yang lain: “Bagaimana pendapatmu? Akan datang jugakah Ia ke pesta?”

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

***

Berkorban Demi Keamanan atau Menyerah pada Kebenaran?

Kisah hari ini merupakan sebuah ironi yang tajam dalam sejarah keselamatan. Setelah Yesus melakukan mukjizat yang paling luar biasa—membangkitkan Lazarus dari kematian—reaksi yang muncul justru terbelah secara ekstrem. Di satu sisi, banyak orang menjadi percaya kepada-Nya, namun di sisi lain, para imam kepala dan orang-orang Farisi justru merasa terancam. Kepanikan melanda dewan agama (Mahkamah Agama). Mereka tidak menyangkal mukjizat-Nya, namun mereka lebih takut pada konsekuensi politisnya: “Jika kita biarkan Dia, semua orang akan percaya kepada-Nya, lalu orang-orang Roma akan datang dan merampas tempat suci kita serta bangsa kita.”

Di tengah ketakutan kolektif itu, Kayafas, Imam Besar pada tahun itu, melontarkan sebuah pernyataan yang secara tragis menjadi nubuat: “Lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita daripada seluruh bangsa kita ini binasa.” Kayafas berbicara dari sudut pandang politis yang dingin dan kalkulatif. Baginya, nyawa Yesus hanyalah sebuah harga yang layak dibayar demi menjaga status quo dan stabilitas keamanan bangsa dari ancaman Romawi. Ia tidak menyadari bahwa melalui niat jahat manusia, Allah sedang menganyam rencana keselamatan yang jauh lebih besar, yaitu kematian Kristus untuk mengumpulkan anak-anak Allah yang tercerai-berai.

Sikap para pemimpin agama ini menjadi cermin bagi kita. Seringkali, kita pun terjebak dalam dilema yang sama. Kita mungkin menyadari kebenaran Tuhan, namun kita merasa kebenaran itu “mengancam” kenyamanan hidup kita, posisi kita, atau keamanan kita. Kita seringkali lebih memilih untuk mengurbankan integritas iman demi rasa aman yang semu. Kita menjadi seperti para pemimpin itu: lebih takut pada kehilangan “tempat suci” duniawi kita daripada takut kehilangan hadirat Tuhan yang nyata di depan mata.

Injil mencatat bahwa sejak hari itu mereka sepakat untuk membunuh Yesus. Yesus pun tidak lagi berjalan dengan leluasa, melainkan mengundurkan diri ke daerah dekat padang gurun. Di akhir perikop, orang-orang di Bait Allah mulai mencari-cari Dia menjelang Paskah. Mereka bertanya-tanya apakah Ia akan datang. Paskah yang tadinya adalah perayaan pembebasan dari Mesir, kini menjadi panggung bagi pembebasan sejati melalui pengurbanan Sang Anak Domba. Kita diajak untuk tidak menjadi seperti mereka yang mencari Yesus hanya untuk memuaskan rasa ingin tahu atau untuk menjatuhkan-Nya, melainkan mencari Dia dengan hati yang siap untuk diubah oleh kebenaran-Nya, meskipun kebenaran itu menuntut kita untuk meninggalkan zona nyaman kita.

Doa Penutup

Allah Bapa yang Mahabijaksana, ampunilah kami jika seringkali kami lebih mencintai keamanan duniawi dan kedudukan kami daripada setia pada kebenaran-Mu. Seperti Kayafas yang bernubuat tanpa menyadari rencana-Mu, bantulah kami untuk menyadari bahwa setiap peristiwa dalam hidup kami berada dalam kendali tangan-Mu yang pengasih.

Berilah kami keberanian untuk tetap memihak pada keadilan dan kasih, meskipun hal itu membuat kami harus menanggung risiko. Semoga pengurbanan Putra-Mu yang mengumpulkan kami semua menjadi satu kawanan, senantiasa menyatukan hati kami yang seringkali tercerai-berai oleh kepentingan diri sendiri. Bimbinglah kami menuju Paskah sejati dengan hati yang murni. Amin.

***

Santo Doroteus dari Gaza, Pengaku Iman

Selagi dalam pendidikan Doroteus bosan dengan segala macam pelajaran di sekolah. Lebih baik aku memegang ular daripada membolak balik buku pelajaran, katanya. Tetapi lama kelamaan ia merobah sikapnya yang konyol itu dan berjuang menghilangkannya. Hasilnya ialah ia kemudian menjadi orang yang amat rajin dan suka belajar dan membaca.

Semangat baru ini kemudian menghantar dia kedalam kehidupan membiara pada tahun 530 di sebuah biara di Palestina. Kepada rekan- rekannya ia mengatakan: Jika kita dapat mengalahkan perasaan bosan dan segan belajar sehigga kita menjadi orang yang suka belajar, maka tentunya kita juga dapat mengalahkan hawa nafsu dan menjadi orang yang Kudus.

Kata- kata ini menunjuk pada tekadnya yang keras membaja untuk mencapai kesempurnaan hidup lewat cara hidup membiara. Salah satu caranya adalah senantiasa bersikap terus terang, dan terbuka hati dan pikiran kepada atasan dan rekan- rekannya. Dengan cara ini ia memperoleh ketenangan batin dan semangat dalam menjalani cara hidup membiara. Dalam bukunya ia menulis: Barangsiapa rajin berdoa dan bermati- raga serta berusaha sungguh- sungguh menguasai kehendaknya, ia akan mencapai ketenteraman batin yang membahagiakan.

Dorotues mencapai kemajuan pesat dalam hidup rahaninya dan kemudian mendirikan dan memimpin sebuah biara pertapaan di Gaza. Ia berusaha memajukan pertapaannya dengan menjalankan pekerjaan- pekerjaannya dengan baik dan menciptakan persaudaraan antar para rahib. Ia selalu berlaku ramah kepada rekan- rekannya. Tahun- tahun terakhir hidupnya, ia mengalami banyak masalah. Godaan dan penyakit merupakan percobaan besar baginya.

Namun ia tetap riang. Kepada rekan- rekannya ia mengatakan: Tidaklah sukar mencari dan menemukan sebab  musabab dari semua itu. Baiklah kalau kita mempercayakan diri kepada Tuhan sebab Ia tahu apa yang penting dan berguna bagi kita. Tulisan- tulisan rohaninya sangat bagus, sehingga pada abad ke 17 tulisan- tulisan itu diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis dan Inggris.

Bagi Doroteus, kesucian tidaklah sama dengan mengejakan mukzijat- mukzijat dan / atau menjalankan puasa dan tapa. Semuanya itu memang baik dan berguna, kesucian itu suatu tindakan menyangkal diri sendiri dan menundukkan kehendak pribadi kepada kehendak Tuhan atau menhendaki semata- mata apa yang dikehendaki oleh Tuhan, demi cinta kasih akan Dia. Dengan berusaha mencapai tujuan inilah, maka Doroteus akhirnya menjadi orang Kudus.

Komentar

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini