ROMA, Pena Katolik – Pastor Gabriele Amorth, eksorsis legendaris dari Keuskupan Roma, menutup masa hidupnya pada usia 90 tahun dengan sebuah “wasiat spiritual” yang penting bagi umat Kristiani. Di tengah dua kutub ekstrem—mereka yang tidak percaya keberadaan iblis dan mereka yang justru terobsesi melihat iblis di mana-mana—Pastor Amorth mengembalikan perspektif kita pada kebenaran yang mendasar. Tuhan jauh lebih indah dan jauh lebih memikat daripada iblis.
Menurut Pastor Amorth, jebakan iblis yang paling mematikan bukanlah penampakan yang mengerikan, melainkan sebuah kebohongan halus yang ditanamkan sejak kejatuhan Adam dan Hawa: rasa takut kepada Tuhan.
Ketakutan ini menghalangi kita untuk merasa dicintai sebagai anak. Iblis ingin kita percaya bahwa Tuhan tidak mencintai kita. Tanpa kesadaran akan kasih Bapa, hukum agama hanya akan menjadi beban yang berat dan membosankan. Inilah yang disebutnya sebagai “keburukan dari segala keburukan,” yaitu tidak mengenal Bapa.
Kasih Senjata Utama
Kita adalah anak-anak Allah, dan itulah kabar baik yang seharusnya terpancar dari diri setiap orang Kristiani. Pastor Amorth menekankan bahwa penginjilan tidak akan berhasil tanpa pancaran kasih Tuhan. Seseorang tidak bisa menyebarkan api iman jika ia hanya sekadar “beragama” secara formalitas tanpa bersandar di hati Yesus.
Meskipun benar bahwa iblis itu ada dan dapat merasuki manusia, jumlah kasus seperti itu sangat terbatas. Fokus utama kita seharusnya bukanlah pada kekuatan Lucifer, melainkan pada kebaikan Ilahi.
“Jika ada satu cara pasti untuk menjauhkan kita dari pengaruh iblis, itu adalah dengan membiarkan diri kita terpikat oleh kebaikan dan keindahan yang terpancar dari Tuhan, Bapa kita,” ujar Pastor Amorth.
Pastor Amorth sendiri mengambil “Jalan Kerajaan” dengan meneladani Bunda Maria dan menempatkan dirinya di bawah perlindungan sang Perawan Suci. Bagi iblis, kerendahan hati Maria adalah kekalahan yang tak tertahankan. Sepanjang hidup-Nya hingga di puncak Golgota, Kristus menunjukkan cara menang melawan Setan: dengan berserah total kepada kasih Bapa.
“Kita dipanggil untuk ikut serta dalam pertempuran ini, bukan dengan membalas pukulan dengan pukulan kepada sesama manusia, tetapi dengan kesaksian damai akan kebenaran,” ujarnya.
St. Paulus mengingatkan umat di Roma bahwa perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, melainkan melawan roh-roh jahat. Oleh karena itu, cara memutus rantai kejahatan adalah dengan mengalahkan kejahatan dengan kebaikan, karena balas dendam hanya akan memperburuk rantai tersebut.
Benteng Pertahanan: Kerendahan Hati dan Sakramen
Jebakan iblis yang paling berbahaya di zaman modern adalah suam-suam kuku, ketidakpedulian, dan mati rasa spiritual. Untuk menghindarinya, Pastor Amorth mengingatkan kembali “obat” yang telah dikenal selama dua ribu tahun. Pertama, kerendahan hati dan iman dengan mengakui bahwa semua kekuatan berasal dari Tuhan.
Kedua, Doa Rosario menjadi senjata spiritual yang sangat ditakuti oleh kegelapan. Melalui doa ini, Pastor Amorth mengatakan bahwa setan sangat takut pada Bunda Matia, setiap Salam Maria yang terucap, adalah seperti pukulan mematikan untuk setan.
Ketiga, Sakramen Ekaristi menjadi pertahanan selanjutnya, menghadiri Misa Kudus dan secara rutin menerima Sakramen Rekonsiliasi (Pengakuan Dosa). Keempat, karya kasih dan menghidupi Injil melalui amal dan pengampunan kepada musuh.
Pesan Pastor Amorth sangat jelas: Jangan biarkan iblis menjadi pusat perhatianmu. Jadikanlah Tuhan dan keindahan-Nya sebagai pusat hidupmu. Dengan bersandar pada kasih Bapa dan perlindungan Bunda Maria, kita tidak lagi bertindak sebagai hamba yang ketakutan, melainkan sebagai anak-anak pemenang di tangan Tuhan.



