Rabu, Februari 25, 2026

Bacaan dan Renungan Sabtu, 28 Februari 2026, Hari Biasa Pekan Prapaskah I (ungu)

Bacaan I – Ul. 26:16-19

“Pada hari ini TUHAN, Allahmu, memerintahkan engkau melakukan ketetapan dan peraturan ini; lakukanlah semuanya itu dengan setia, dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu.

Engkau telah menerima janji dari pada TUHAN pada hari ini, bahwa Ia akan menjadi Allahmu, dan engkaupun akan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada ketetapan, perintah serta peraturan-Nya, dan mendengarkan suara-Nya.

Dan TUHAN telah menerima janji dari padamu pada hari ini, bahwa engkau akan menjadi umat kesayangan-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepadamu, dan bahwa engkau akan berpegang pada segala perintah-Nya, dan Iapun akan mengangkat engkau di atas segala bangsa yang telah dijadikan-Nya, untuk menjadi terpuji, ternama dan terhormat. Maka engkau akan menjadi umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu, seperti yang dijanjikan-Nya.”

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur Kepada Allah

Mzm. 119:1-2,4-5,7-8

  • Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat TUHAN.
  • Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati, Engkau sendiri telah menyampaikan titah-titah-Mu, supaya dipegang dengan sungguh-sungguh. Sekiranya hidupku tentu untuk berpegang pada ketetapan-Mu!
  • Aku akan bersyukur kepada-Mu dengan hati jujur, apabila aku belajar hukum-hukum-Mu yang adil. Aku akan berpegang pada ketetapan-ketetapan-Mu, janganlah tinggalkan aku sama sekali.

Bacaa Injil – Mat. 5:43-48

Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.

Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?

Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian?

Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.”

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

***

Menjungkir Logika

Yesus memberikan pengajaran yang menjungkirbalikkan logika duniawi mengenai kasih. Jika dunia mengajarkan kita untuk mengasihi sahabat dan membenci musuh, Yesus justru menetapkan standar kekudusan yang jauh lebih tinggi dengan perintah untuk mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka yang menganiaya kita. Ajaran ini bukanlah sekadar anjuran moral, melainkan sebuah panggilan untuk meneladani hakikat Allah sendiri. Kasih yang kristiani tidak boleh bersifat eksklusif atau hanya diberikan kepada mereka yang berbuat baik kepada kita, karena kasih yang demikian tidak memiliki nilai lebih di mata Tuhan.

Yesus mengingatkan kita bahwa Bapa di surga menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik, serta menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Kemurahan hati Allah bersifat universal dan tidak bersyarat. Dengan mengasihi musuh, kita menunjukkan jati diri kita sebagai anak-anak Bapa yang telah menerima kasih dan pengampunan terlebih dahulu saat kita sendiri masih berdosa. Hal ini menantang kita untuk keluar dari zona nyaman emosional dan mulai melihat orang yang tidak menyukai kita bukan sebagai lawan yang harus dikalahkan, melainkan sebagai sesama yang juga membutuhkan rahmat Tuhan.

Panggilan untuk menjadi sempurna seperti Bapa di surga yang sempurna merupakan puncak dari khotbah ini. Kesempurnaan yang dimaksud bukanlah ketiadaan kesalahan secara teknis, melainkan keutuhan kasih yang tidak pilih kasih. Kita diajak untuk memiliki hati yang luas, yang mampu menampung mereka yang sulit untuk dicintai. Sering kali kita merasa mustahil untuk melakukan ini dengan kekuatan sendiri, namun Yesus menunjukkan bahwa melalui doa bagi mereka yang memusuhi kita, hati kita perlahan-lahan diubah untuk melihat dunia melalui sudut pandang ilahi.

Mengasihi musuh berarti memutuskan rantai kebencian agar tidak berlanjut. Ketika kita membalas kejahatan dengan kebaikan, kita sedang menghadirkan Kerajaan Surga di tengah dunia yang sering kali penuh dengan dendam. Marilah kita memohon rahmat agar mampu melampaui batas-batas kasih manusiawi kita yang sempit, sehingga hidup kita benar-benar mencerminkan wajah Bapa yang mahapengampun dan mahapenyayang bagi setiap orang tanpa terkecuali.

Doa Penutup

Bapa yang Mahabaik, kami bersyukur atas kasih-Mu yang tanpa batas, yang tetap menyinari hidup kami meskipun kami sering terjatuh dalam dosa. Ajarlah kami untuk memiliki hati yang luas seperti hati-Mu, agar kami mampu mengasihi bukan hanya mereka yang baik kepada kami, tetapi juga mereka yang memusuhi atau menyakiti kami. Berilah kami kekuatan Roh Kudus untuk mendoakan kesejahteraan bagi sesama kami yang sulit untuk kami terima. Semoga dengan bantuan rahmat-Mu, kami dapat menjadi saksi kasih-Mu yang sejati dan tumbuh menjadi anak-anak-Mu yang membawa damai di mana pun kami berada. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.

***

Santa Antonia, Abbas

Antonia adalah seorang ibu Rumah tangga yang saleh. Sepeninggal suaminya, ia memutuskan untuk mengabdikan sisa hidupnya kepada Tuhan dengan menjalani kehidupan sebagai seorang biarawati.

Kemudian dengan bantuan Santo Yohanes Kapistrano, ia mendirikan sebuah biara Claris yang lebih tegas aturannya di Firenze, Italia. Ia sendiri menjadi pemimpin biara itu, hingga kematiannya pada tahun 1472.

Santo Hilarius, Paus

Hilarius berasal dari Sardinia. Ia terpilih menjadi Paus menggantikan Paus Leo I (440 461) pada tanggal 19 November 461. Sebelum menjadi Paus, Hilarius melayani umat sebagai diakon selama masa kepemimpinan Paus Leo I. Ketika diadakan Konsili di Efesus pada tahun 449 untuk membicarakan tindakan ekskomunikasi atas diri Eutyches, seorang penyebar ajaran sesat, Hilarius di utus sebagai wakil Paus Leo I

Selama kepemimpinannya sebagai Paus, Hilarius mengawasi pembangunan beberapa gedung Gereja di Roma. Salah satunya adalah Oratorium yang dipersembahkan kepada santo Yohanes Penginjil. Selain itu, ia juga berusaha menyelesaikan berbagai masalah yang terjadi dalam tubuh gereja sendiri. Dalam kerangka itu, ia memimpin sebuah sinode di Roma pada tanggal 19 November 462 untuk membicarakan berbagai masalah yang ada di dalam gereja di Gaul, Prancis. Selanjutnya pada tanggal 19 November 465, ia mengadakan lagi sebuah sinode untuk membicarakan hal pengangkatan dan kuasa yuridiksi para uskup Spanyol.

Hilarius meninggal dunia pada tanggal 29 Februari 468 dan dimakamkan di Gereja Santo Laurentius di Roma.

Komentar

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini