Selama lebih dari satu setengah abad, sebuah kota kecil di kaki pegunungan Pyrenees, Prancis, telah menjadi episentrum harapan bagi jutaan jiwa. Lourdes adalah simbol perjumpaan antara yang ilahi dan yang insani.
Sejak penampakan pertama Bunda Maria kepada Bernadette Soubirous pada 11 Februari 1858, arus peziarah tak pernah surut. Mereka datang membawa beban tubuh yang rapuh, berendam dalam mata air suci, dan melambungkan doa dengan satu kerinduan: sebuah mukjizat.
Namun, di balik hiruk-pikuk devosi dan ribuan klaim kesembuhan yang terdengar setiap tahunnya, terdapat sebuah kenyataan yang mengejutkan bagi banyak orang. Dari jutaan peziarah yang mencari kesembuhan selama 167 tahun terakhir, hanya ada 72 mukjizat yang secara resmi diakui dan diverifikasi oleh Gereja Katolik.
Angka yang kecil ini bukan menunjukkan minimnya kuasa Tuhan, melainkan menjadi bukti betapa ketat dan telitinya Gereja dalam memisahkan antara sugesti emosional dengan campur tangan ilahi yang nyata.
Filter Kebenaran
Sejak awal mula penampakan, klaim tentang kesembuhan ajaib bermunculan bagai jamur di musim hujan. Banyak orang mengaku sembuh seketika setelah meminum atau membasuh diri dengan air dari Gua Massabielle. Gereja menyadari bahwa tanpa pengawasan yang ketat, klaim-klaim ini bisa menjadi bumerang yang merusak kredibilitas iman jika ternyata kesembuhan tersebut bersifat sementara atau dapat dijelaskan secara medis.
Atas dasar itulah, Biro Medis Lourdes (Bureau des Constatations Médicales) didirikan. Pada tahun 1883, Dr. Georges-Fernand Dunot de Saint-Maclou menetapkan biro ini secara permanen atas permintaan Romo Rémi Sempé, Rektor Pertama Basilika Lourdes. Tujuannya sangat jelas: memastikan tidak ada seorang pun yang meninggalkan Lourdes dengan keyakinan telah “sembuh” tanpa melalui penilaian medis yang kolektif, sistematis, dan jujur.
Biro ini bertransformasi dari sekadar konsultasi musim panas menjadi institusi permanen yang menjaga integritas Lourdes. Para ilmuwan medis di biro ini harus berhadapan dengan fakta bahwa sering kali penyakit yang dikira sembuh ternyata muncul kembali, atau kesembuhan tersebut sebenarnya merupakan hasil dari proses biologis yang bisa dijelaskan secara sains. Di sinilah sains dan iman tidak saling bertolak belakang, melainkan bekerja sama untuk mencari kebenaran yang paling murni.
Apa Itu Mukjizat?
Dalam mendefinisikan mukjizat, Gereja Katolik bersandar pada pemikiran Santo Thomas Aquinas. Sang pujangga Gereja ini menjelaskan mukjizat sebagai “hal-hal yang dilakukan oleh kuasa ilahi di luar tatanan yang umumnya diikuti dalam segala sesuatu.” Secara praktis, ini berarti sebuah mukjizat harus memiliki bukti kuat bahwa kesembuhan tersebut melampaui hukum alam.
Untuk dinyatakan sebagai mukjizat medis di Lourdes, sebuah kasus harus memenuhi kriteria yang sangat berat: pertama, penyakit tersebut harus terdiagnosis secara medis sebagai penyakit serius atau tidak tersembuhkan. Kedua, kesembuhan terjadi secara mendadak dan seketika. Ketiga, kesembuhan tersebut harus bersifat permanen (tidak kambuh kembali). keempat, tidak ada penjelasan medis atau ilmiah yang masuk akal atas kesembuhan tersebut.
Ribuan laporan telah diteliti selama puluhan tahun, namun hingga akhir abad ke-20, jumlah yang lolos verifikasi tetap sangat terbatas. Hal ini menunjukkan bahwa Gereja tidak terburu-buru dalam memberi label “ajaib” pada sebuah peristiwa.
Bernadette Moriau dan Antonietta Raco
Meskipun prosesnya panjang dan melelahkan, mukjizat tetap terjadi di zaman modern. Salah satu kasus yang menggetarkan dunia terjadi pada tahun 2018. Uskup Jacques Benoit-Gonnin dari keuskupan Beauvais mengumumkan kesembuhan suster Bernardette Moriau sebagai mukjizat ke-70. Suster Bernadette telah menderita kelumpuhan selama hampir 40 tahun akibat sindrom cauda equina. Namun, setelah berziarah ke Lourdes pada tahun 2008, ia mengalami kesembuhan total yang tidak dapat dijelaskan oleh tim medis mana pun.
Tak berhenti di situ, pencatatan sejarah mukjizat terus berlanjut. Kasus terbaru yang dikonfirmasi pada tahun 2025 adalah kesembuhan Antonietta Raco, seorang wanita asal Italia. Antonietta menderita penyakit parah dan mengalami kesembuhan ajaib saat berziarah ke Lourdes pada tahun 2009. Setelah melalui proses observasi medis selama 16 tahun untuk memastikan tidak ada kekambuhan dan tidak ada penjelasan ilmiah, otoritas Gereja akhirnya menetapkannya sebagai mukjizat ke-72.
Penting untuk dicatat bahwa angka 72 ini hanyalah kasus yang terpapar dan terverifikasi oleh otoritas. Diyakini ada banyak kesembuhan lain yang tidak dilaporkan atau tidak didokumentasikan, namun tetap menjadi berkat pribadi bagi para peziarah.
Kesembuhan Fisik dan Rohani
Mengapa Tuhan hanya memberikan 72 mukjizat fisik yang terverifikasi di tengah jutaan orang yang memohon? Materi ini mengingatkan kita pada sebuah kebenaran spiritual yang dalam: Mukjizat hanya terjadi jika hal itu sesuai dengan rencana ilahi-Nya. Tuhan bukanlah “mesin penjual otomatis” yang memberikan kesembuhan setiap kali kita membasuh diri.
Bagi jutaan peziarah lainnya yang pulang tanpa kesembuhan fisik, Lourdes tetap memberikan “mukjizat” dalam bentuk lain. Ada mukjizat penerimaan hati, mukjizat kedamaian batin, dan mukjizat kekuatan untuk memanggul salib penderitaan. Banyak orang yang datang dengan kursi roda tetap pulang dengan kursi roda, namun dengan jiwa yang telah “berdiri tegak” karena menemukan penghiburan dari Bunda Maria.
Lourdes tetap menjadi mercusuar iman bagi dunia modern. Keberadaan Biro Medis Lourdes menunjukkan bahwa iman Katolik tidak takut pada sains; sebaliknya, ia merangkul sains untuk membuktikan bahwa kuasa Tuhan memang nyata dan melampaui segala hukum alam yang kita pahami. 72 mukjizat tersebut adalah tanda kecil dari kasih Allah yang besar, yang mengingatkan kita bahwa bagi Dia, tidak ada yang mustahil.



