Rabu, Februari 4, 2026

Mantan Kepala CIA Bicara Soal Dilema Moral Menjadi Intelijen: Menjadi Mata-Mata dan Tetap Katolik

CALIFORNIA, Pena Katolik – James Olson, mantan Kepala Kontraintelijen CIA, menjadi salah satu pembicara dalam ajang tahunan Legatus’ The Summit, Santa Barbara, California, 31 Januari 2026. Ia bercerita tentang dilema moral dalam dunia spionase dan bagaimana hal itu dapat selaras dengan iman Katolik.

Olson, yang pernah bertugas di Uni Soviet, Austria, dan Meksiko. Ia menegaskan, meski pekerjaan intelijen penuh dengan kebohongan dan penyamaran, hal itu tetap bisa dijalani secara konsisten dan menjadi seorang beriman Katolik.

“Anda bisa menjadi Katolik yang baik, sekaligus menjadi mata-mata yang baik,” ujarnya.

Olson menceritakan, ia dan istrinya, Meredith, yang juga agen CIA, harus “hidup dalam kebohongan” demi keselamatan. Mereka berbohong, bahkan kepada anak-anak mereka sendiri.

Olson menekankan, dunia intelijen berperan vital dalam menjaga stabilitas dunia. Sebagai contoh, CIA berperan dalam Krisis Rudal Kuba 1962. Data-data dari lembaga telik sandi itu membantu Presiden John F. Kennedy menghindari perang nuklir.

Dilema Moral dan Dukungan Gereja

Olson mengakui, adanya dilema moral dalam praktik spionase: berbohong, mencuri, hingga memanipulasi. Namun, ia merujuk pada ajaran St. Thomas Aquinas tentang pembelaan negara. Olson mengutip Orang Kudus Dominikan itu, bahwa seseorang secara moral bisa dibenarkan dalam tindakan pembunuhan, ketika itu dilakukan dalam rangka bela negara.

St. Thomas Aquinas dalam Summa Theologiae (II-II, q.40) mengajarkan bahwa perang dan tindakan membunuh bisa dibenarkan secara moral bila dilakukan dalam konteks membela negara, dengan syarat-syarat tertentu. Ia merumuskan prinsip yang dikenal sebagai Just War Theory (Teori Perang Adil).

Olson juga menyebut kisah Rahab dalam Kitab Yosua yang membantu mata-mata Israel sebagai pembenaran moral atas tindakan intelijen.

Olson mengenang masa 1980-an ketika sejumlah agen Rusia yang bekerja sama dengan CIA dikhianati oleh Aldrich Ames dan Robert Hanssen, dua agen CIA yang direkrut KGB.

“Itu momen terburuk dalam karier saya. Saya marah luar biasa,” katanya.

Kini, menurut Olson, intelijen tetap esensial untuk melindungi rakyat dan memastikan para pemimpin membuat keputusan berdasarkan informasi akurat. Menurutnya, badan intelijen harus terus merekrut orang-orang berkarakter baik dan memiliki pedoman jelas tentang batas moral yang boleh ditempuh.

“Kita harus tahu sejauh mana kita bisa melangkah,” tegasnya.

Dalam forum The Summit, bebih dari 600 pemimpin bisnis Katolik berkumpul di The Ritz-Carlton Bacara, Santa Barbara. Selain Olson, ada pembicara lain yang juga diundang.

Komentar

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini