ARIZONA, Pena Katolik – Sejarah baru ditorehkan oleh seorang imam Yesuit asal Indonesia, Romo Christoforus Bayu Risanto, S.J., Ph.D. kini resmi tercatat dalam katalog benda langit dunia. International Astronomical Union (IAU) melalui Working Group for Small Body Nomenclature (WGSBN) menetapkan nama (752403) Bayurisanto = 2015 PZ₁₁₄ sebagai nama sebuah asteroid, sebagai bentuk penghargaan ilmiah internasional. Pemberian nama ini WGSBN Bulletin pada 14 Januari 2026.
Bayu lahir di Bogor pada Januari 1981. Ia menempuh pendidikan di Seminari Menengah St. Petrus Kanisius, Magelang, sebelum bergabung dengan Serikat Yesus pada tahun 2000. Ditahbiskan menjadi imam pada 2012, ia kemudian mengucapkan Kaul Akhir sebagai Jesuit pada 15 Agustus 2025. Romo Bayu adalah alumni STF Driyarkara Jakarta tahun 2007.
Selain mendalami filsafat dan teologi, Romo Bayu menekuni ilmu atmosfer hingga meraih gelar doktor (Ph.D.) dari University of Arizona pada 2021. Keahliannya meliputi prediksi cuaca numerik, asimilasi data, dan pemodelan curah hujan. Ia juga memiliki pengalaman internasional, mulai dari mengajar di Mikronesia hingga terlibat dalam riset cuaca di Meksiko dan Arab Saudi.
Sejak Juli 2024, Romo Bayu bergabung sebagai peneliti di Observatorium Vatikan (Specola Vaticana) yang berlokasi di Arizona, Amerika Serikat, menjadikannya orang Indonesia pertama yang bekerja di lembaga riset astronomi bergengsi tersebut.
Bekerja di Observatorium Vatikan, Romo Bayu bekerja di bawah kepemimpinan Romo Anthony D’Souza, S.J. yang para 19 September 2025 menggantikan Bruder Guy Consolmagno SJ yang sudah memimpin lembaga ini selama 10 tahun sejak 2015 to 2025.
Asteroid Bayurisanto
Asteroid (752403) Bayurisanto, sebelumnya bernomor sementara 2015 PZ₁₁₄, berada di Sabuk Utama Asteroid antara orbit Mars dan Jupiter. Orbitnya stabil dan tidak termasuk kategori objek berbahaya bagi Bumi. Penamaan ini merupakan bentuk penghormatan internasional yang langka, sekaligus pengakuan atas kontribusi Romo Bayu dalam dunia sains dan Gereja.
Penghargaan ini bukan hanya tentang sains dan bintang-bintang, tetapi juga tentang kesetiaan pada panggilan, ketekunan dalam belajar, dan iman yang berani berdialog dengan ilmu pengetahuan. Dari formasi seminari hingga riset atmosfer global, Romo Bayu menunjukkan bahwa panggilan seorang imam bisa membawa langkah jauh—bahkan sampai ke langit—tanpa meninggalkan bumi tempat ia diutus.
Asteroid Bayurisanto kini menjadi simbol bahwa iman dan ilmu pengetahuan dapat berjalan bersama, dan bahwa seorang imam Indonesia mampu memberi jejak abadi di jagat raya.
Profil
- Kelahiran: Januari 1981, Bogor, Indonesia.
- Pendidikan Menengah: Seminari Menengah St. Petrus Kanisius, Magelang (masuk 1996 – lulus 2000).
- Kehidupan Membiara: Bergabung dengan Serikat Yesus (SJ) pada tahun 2000. Ditahbiskan menjadi imam pada tahun 2012 dan mengucapkan Kaul Akhir sebagai Jesuit pada 15 Agustus 2025.
- S1 Filsafat (2007): Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta. Skripsinya membahas konsep waktu dalam fisika Newton dan Einstein.
- S2 Teologi (2012): Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
- S2 Ilmu Atmosfer (2016): Creighton University, Amerika Serikat.
- S3 (Ph.D.) Ilmu Atmosfer & Penginderaan Jauh (2021): University of Arizona, Amerika Serikat.
- Keahlian: Prediksi Cuaca Numerik (Numerical Weather Prediction – NWP), asimilasi data, dan pemodelan curah hujan pada medan kompleks.
- Pengalaman Internasional: Pernah mengajar di Mikronesia (2007–2009) dan terlibat dalam proyek riset cuaca di Meksiko (didukung UNAM) serta Arab Saudi (didukung KAUST).
- Posisi Saat Ini: Peneliti di Vatican Observatory (sejak Juli 2024), berbasis di Castel Gandolfo, Italia, dan Tucson, Arizona.




