JAKARTA, Pena Katolik – Sejak hari pertama terpilih sebagai Paus pada 13 Maret 2013, Jorge Mario Bergoglio—yang kemudian mengambil nama Fransiskus—telah menunjukkan bahwa ia akan mengguncang dunia, termasuk dalam isu perubahan iklim. Nama “Fransiskus” yang ia pilih adalah panggilan spiritual yang merujuk pada Santo Fransiskus dari Assisi, pelindung alam dan kaum miskin. Seperti Santo Fransiskus yang mendengar suara Yesus untuk “memperbaiki rumah-Nya yang hampir runtuh,” Paus Fransiskus seolah mendengar pesan serupa: bukan hanya Gereja, tetapi juga bumi yang sedang sakit parah.
Dalam dekade kepemimpinannya, Paus Fransiskus telah mewariskan banyak hal—dari pembelaannya terhadap pengungsi hingga upaya memperluas jangkauan Gereja. Namun, dari sudut pandang lingkungan hidup, warisan terbesarnya mungkin adalah seruan moral untuk menyelamatkan bumi. Ia menjadikan isu iklim sebagai bagian integral dari ajaran Gereja Katolik, bukan hanya urusan para ilmuwan atau aktivis.
Puncaknya adalah publikasi ensiklik Laudato Si’: Tentang Kepedulian terhadap Rumah Kita Bersama pada 18 Juni 2015. Dokumen sepanjang 184 halaman ini bukan hanya refleksi spiritual, tetapi juga analisis ilmiah dan seruan moral yang kuat. Paus Fransiskus mengkritik konsumerisme, pembangunan yang tidak bertanggung jawab, dan memperingatkan dampak serius dari pemanasan global. Ia menegaskan bahwa keadilan sosial tidak bisa dilepaskan dari keadilan ekologis.
Dalam konteks Gereja Katolik Indonesia, Laudato Si’ seharusnya menjadi panggilan profetik. Kita hidup di negeri yang kaya akan keanekaragaman hayati, tetapi juga rentan terhadap bencana ekologis: banjir, kebakaran hutan, krisis air, dan kerusakan lingkungan akibat eksploitasi sumber daya. Seruan Paus Fransiskus agar Gereja “berjalan bersama” dalam merawat bumi adalah ajakan yang sangat relevan bagi umat Katolik Indonesia.
Namun, tantangannya nyata. Di tengah semangat Laudato Si’, Gereja universal masih bergulat dengan transparansi keuangan, investasi yang tidak sejalan dengan etika ekologis, dan pengaruh moral yang mulai memudar dalam negosiasi iklim global. Bahkan di Vatikan, komitmen menuju emisi nol pada 2050 dianggap simbolis karena skala negara-kota yang kecil.
Paus telah menyerukan agar lembaga-lembaga Katolik di seluruh dunia menarik investasi dari industri bahan bakar fosil. Sayangnya, tidak semua menanggapi. Di Indonesia, kita perlu bertanya: apakah lembaga Gereja kita sudah mulai mengaudit jejak karbonnya? Apakah paroki-paroki sudah mulai mengintegrasikan pendidikan ekologi dalam katekese dan liturgi? Apakah kita sudah mulai menanam pohon, mengurangi plastik, dan mendukung kebijakan publik yang berpihak pada keadilan iklim?
Gerakan Laudato Si’ kini telah berkembang menjadi jaringan global dengan hampir 1.000 organisasi dan paroki di 150 negara. Ini menunjukkan bahwa pesan Paus Fransiskus tidak mati, tetapi terus hidup dalam aksi nyata. Di Indonesia, kita memiliki potensi besar untuk menjadi bagian dari gerakan ini—dengan semangat gotong royong, kearifan lokal, dan spiritualitas ekologis yang sudah tertanam dalam budaya kita.
Merawat bumi adalah panggilan iman. Seperti kata Paus Fransiskus, “Kepedulian terhadap iklim dan bumi kini menjadi bagian dari ajaran Gereja.” Maka, marilah kita menjadikan Laudato Si’ bukan hanya dokumen, tetapi gerakan hidup yang mengubah cara kita berdoa, bekerja, dan bermisi. Karena rumah kita bersama—bumi ini—sedang menunggu uluran tangan kasih dari umat Allah.




