Sabtu, Februari 7, 2026

Bacaan dan Renungan Sabtu 27 Desember 2025, Pesta St. Yohanes, Rasul, Penulis Injil (Putih)

Bacaan I – 1Yoh. 1:1-4

Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup? Itulah yang kami tuliskan kepada kamu.

Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan yang telah dinyatakan kepada kami.

Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus.

Dan semuanya ini kami tuliskan kepada kamu, supaya sukacita kami menjadi sempurna.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur Kepada Allah

Mzm. 97:1-2,5-6,11-12

Refrain: Bersukacitalah karena Tuhan hai orang-orang benar

  • TUHAN adalah Raja! Biarlah bumi bersorak-sorak, biarlah banyak pulau bersukacita! Awan dan kekelaman ada sekeliling Dia, keadilan dan hukum adalah tumpuan takhta-Nya.
  • Gunung-gunung luluh seperti lilin di hadapan TUHAN, di hadapan Tuhan seluruh bumi. Langit memberitakan keadilan-Nya, dan segala bangsa melihat kemuliaan-Nya.
  • Terang sudah terbit bagi orang benar, dan sukacita bagi orang-orang yang tulus hati. Bersukacitalah karena TUHAN, hai orang-orang benar, dan nyanyikanlah syukur bagi nama-Nya yang kudus.

Bait Pengantar Injil: ALeluya, Aleluya, Aleluya

Ayat (oleh solis): Allah, Tuhan kami, Engkau kami puji dan kami muliakan, kepada-Mu paduan para rasul bersyukur.

Bacaan Injil – Yoh. 20:2-8.

Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka: “Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan.”

Maka berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu ke kubur. Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat dari pada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur.

Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kapan terletak di tanah; akan tetapi ia tidak masuk ke dalam. Maka datanglah Simon Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kapan terletak di tanah, sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kapan itu, tetapi agak di samping di tempat yang lain dan sudah tergulung.

Maka masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya.

Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus.

***

Kubur Kosong

Maria Magdalena mendapati kubur kosong, lalu bergegas memberitahu Petrus dan murid yang dikasihi Yesus. Keduanya berlari menuju kubur. Murid yang dikasihi tiba lebih dahulu, tetapi tidak masuk. Petrus masuk dan melihat kain kafan serta pelipatan kain peluh. Kemudian murid yang dikasihi masuk, melihat, dan percaya.

Kisah ini menyingkapkan dinamika iman yang sangat manusiawi. Ada kebingungan, ada keraguan, ada kecepatan dan keterlambatan, tetapi akhirnya ada iman yang tumbuh. Kubur kosong bukan sekadar tanda kehilangan, melainkan tanda awal dari misteri kebangkitan. Murid yang dikasihi Yesus melihat dan percaya, meski belum sepenuhnya memahami Kitab Suci. Iman sering kali dimulai dari pengalaman sederhana: melihat tanda, merasakan keheningan, lalu perlahan menyadari karya Allah.

Renungan ini mengajak kita untuk meneladani sikap para murid. Pertama, keberanian Maria Magdalena yang mencari Yesus meski dalam kesedihan. Ia menjadi saksi pertama kebangkitan karena cintanya yang tulus. Kedua, ketekunan Petrus yang masuk ke dalam kubur, meski mungkin masih diliputi keraguan. Ketiga, iman murid yang dikasihi yang melihat dan percaya. Ketiganya menunjukkan bahwa iman tumbuh dalam perjalanan, melalui pengalaman, dan dalam kesetiaan mencari Tuhan.

Dalam kehidupan kita, sering kali kita menghadapi “kubur kosong”: situasi yang membingungkan, kehilangan, atau ketidakpastian. Namun, justru di sana Allah menyingkapkan karya-Nya. Kubur kosong menjadi tanda bahwa kematian bukan akhir, melainkan pintu menuju kehidupan baru. Kita diajak untuk melihat dengan mata iman, percaya meski belum sepenuhnya memahami, dan tetap setia mencari Kristus yang bangkit.

Maka, mari kita belajar dari Maria, Petrus, dan murid yang dikasihi: mencari Yesus dengan cinta, masuk ke dalam misteri dengan keberanian, dan percaya dengan hati yang terbuka. Dengan demikian, kita pun menjadi saksi kebangkitan yang membawa harapan bagi dunia.

Doa Penutup

Tuhan Yesus yang bangkit, Engkau menyingkapkan misteri kehidupan melalui kubur kosong. Ajarlah kami untuk mencari Engkau dengan cinta, masuk ke dalam misteri dengan keberanian, dan percaya meski belum sepenuhnya memahami. Teguhkan iman kami agar selalu melihat tanda-tanda kebangkitan dalam hidup sehari-hari. Jadikan kami saksi harapan dan sukacita, sehingga dunia merasakan kuasa kebangkitan-Mu yang membawa kehidupan baru. Amin.

***

Santo Yohanes, Rasul dan Pengarang Injil

Santo Yohanes Rasul, anak Zebedeuz (Mrk 1:19 dst) berasal dari Betsaida, sebuah dusun nelayan di pantai tasik Genesareth. Ia sendiri seorang nelayan Galilea. Ayahnya Zebedeus, seorang nelayan yang tergolong berkecukupan. Ibunya Salome tergolong wanita pelayan dan pengiring setia Yesus, bahkan sampai ke bulit Kalvari dan kubur Yesus.

Bersama dengan saudaranya Yakobus dan Petrus, Yohanes termasuk kelompok rasul inti dalam bilangan keduabelasan; ia bahkan disebut sebagai murid kesayangan Yesus (Yoh 21:20). Mereka bertiga (Yohanes, Yakobus dan Petrus) adalah saksi peristiwa pembangkitan puteri Yairus (Mrk 5:37 dst); saksi peristiwa perubahan rupa Yesus di gunung Tabor (Mrk 9:2 dst) dan saksi peristiwa sakratul maut dan doa Yesus di taman Getzemani (Mrk 14:33). Bersama Andreas, Yohanes adalah murid Yohanes Pemandi (Yoh 1:40). Yohanes Pemandi-lah yang menyuruh mereka berdua pergi kepada Yesus dan bertanya: “Rabbi, di manakah Engkau tinggal? (Yoh 1:36-39).

Putera-putera Zebedeus itu terbilang kasar. oleh karena itu mereka dijuluki ‘putera-putera guntur’. Bersama Yakobus kakaknya, Yohanes meminta kepada Yesus dengan perantaraan ibunya, agar mereka boleh duduk di sisi kanan-kiri Yesus di dalam kerajaan-Nya nanti. Keduanya pun berani berjanji akan meminum piala sengsara untuk memperoleh hal yang dipintanya itu; tetapi Yesus menjawab bahwa hal itu adalah urusan Bapa-Nya di surga (Mrk 10:35-41).

Nama Yohanes tidak disebutkan di dalam Injil ke-4. Hanya di dalam bab 21, yang secara umum dianggap sebagai tambahan dari waktu kemudian, ditemukan ungkapan “para putera Zebedeus.” Demikian pula ungkapan yang mengatakan “murid yang dicintai Yesus” (ay. 20) baru muncul pada bab 13. Di dalam jemaat purba, Yohanes menempati satu kedudukan sebagai pemimpin (Kis 3-8). Paulus menjuluki dia sebagai “tiang agung/sokoguru Gereja” (Gal 2:9). Di dalam daftar keduabelasan rasul, kedudukannya langsung berada di belakang Petrus. Di dalam tradisi yang lebih muda, ia dikenal sebagai penulis Kitab Wahyu dan Surat-surat pertama sampai Ketiga Yohanes. Menurut Wahyu 1:9 ia tinggal di pulau Patmos. Ireneus menulis bahwa Yohanes tinggal dan wafat di Efesus.

Yohanes adalah murid Yesus yang paling setia, bahkan berani mengikuti Yesus sampai ke gunung Kalvari dan mendampingi Bunda Maria sampai di bawah kaki salib Yesus. Di bawah kaki salib itulah ia diserahi tugas oleh Yesus menjadi pengawal Bunda Maria (Yoh 19:27). Sejak Pentekosta ia bekerja bersama dengan Petrus, baik di Yerusalem maupun di Samaria untuk mencurahkan Roh Kudus kepada orang-orang yang baru dipermandikan.

Kira-kira pada tahun 60 ia pergi ke Asia Kecil dan menjadi Maha uskup di kota Efese. Dalam Kitab Wahyu diterangkannya bahwa la dibuang ke pulau Patmos karena agama dan ajarannya. Sepulangnya ke Efese ia mengarang Injilnya. Dari buah karangannya kita dapat mengatakan bahwa Yohanes adalah seorang teolog yang karangan-karangannya berisi refleksi dan ajaran teologis yang mendalam tentang Yesus dan karya perutusan-Nya.

Pada tahun-tahun terakhir hidupnya, kotbah Yohanes hanyalah berupa wejangan-wejangan singkat yang sama saja: “Anak-anakku, cobalah kamu saling mencintai.” Atas pertanyaan orang-orang serani, mengapa ajarannya selalu yang sama saja, ia menjawab: “Sebab itulah perintah Tuhan yang utama dan jikalau kamu melakukannya, sudah cukuplah yang kamu perbuat.” Santo Yohanes adalah Rasul terakhir yang meninggal dunia kira-kira pada tahun 100 pada masa pemerintahan Kaisar Trayanus.

Komentar

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini