Senin, Februari 2, 2026

Perdamaian Sejati Tidak Lahir dari Senjata

Pena Katolik, Vatikan | Dalam Pesannya untuk Hari Perdamaian Dunia 2026, Paus Leo XIV mengangkat keprihatinan mendalam atas dunia yang kian dikuasai rasa takut, perlombaan senjata, dan ancaman konflik bersenjata.

Di tengah meningkatnya ketegangan global, Paus kembali menegaskan sikap Gereja yang menolak logika pencegahan berbasis kekuatan militer, serta menyerukan jalan lain: perlucutan senjata, dialog yang jujur, dan pertobatan hati sebagai fondasi perdamaian yang sejati dan bertahan lama.

Pesan perdana Paus Leo XIV untuk peringatan 1 Januari ini berangkat dari salam Kristus yang bangkit, “Damai sejahtera bagimu.” Salam tersebut, tulis Paus, bukan sekadar ungkapan pengharapan, melainkan daya yang mengubah hidup mereka yang menerimanya. Perdamaian Kristen bukanlah sikap pasif, tetapi sebuah keberanian moral yang secara tegas menolak kekerasan dan logika dominasi.

Ketakutan yang Menguasai Dunia

Paus menyoroti bagaimana ketakutan kini menjadi mata uang utama dalam relasi antarbangsa. Ketika perdamaian tidak lagi dihidupi sebagai nilai konkret, perang mulai dipersepsikan sebagai sesuatu yang wajar, bahkan perlu. Dalam konteks inilah, berbagai negara membenarkan peningkatan anggaran militer sebagai respons atas ancaman eksternal.

Menurut Paus, doktrin pencegahan—terutama yang bertumpu pada senjata nuklir—dibangun bukan di atas hukum, keadilan, dan kepercayaan, melainkan atas rasa takut dan ancaman kekerasan. Pendekatan ini, tegasnya, tidak membawa rasa aman, melainkan justru menambah ketidakstabilan global.

Mengutip Santo Yohanes XXIII, Paus Leo XIV mengingatkan bahwa umat manusia hidup dalam bayang-bayang kecemasan terus-menerus, menyadari bahwa senjata pemusnah massal telah tersedia dan perang dapat pecah kapan saja akibat situasi yang tak terduga. Ia juga menyinggung realitas konkret: pada tahun 2024 saja, belanja militer dunia meningkat hampir 10 persen, mencapai sekitar 2,7 triliun dolar AS—sumber daya besar yang dialihkan untuk kehancuran, bukan pembangunan manusia.

Ketika Perang Dianggap Biasa

Pesan tersebut juga menyoroti perubahan sikap politik dan budaya global, di mana kesiapan berperang dianggap rasional, sementara upaya perlucutan senjata dicap naif. Ketika perdamaian tidak lagi dirawat, agresivitas merembes ke ruang privat dan publik, memengaruhi cara manusia berelasi satu sama lain dan melemahkan diplomasi serta hukum internasional.

Paus turut mengingatkan bahaya penggunaan teknologi mutakhir, termasuk kecerdasan buatan, dalam pengambilan keputusan militer. Ketika mesin mulai menentukan hidup dan mati, sementara kepentingan ekonomi mendorong persenjataan kembali, prinsip-prinsip dasar humanisme—baik secara hukum maupun filsafat—terancam dikhianati.

Jalan Injil: Tanpa Kekerasan

Menegaskan kembali inti Injil, Paus Leo XIV menyatakan bahwa perdamaian Kristus yang bangkit adalah perdamaian tanpa senjata. Jalan Yesus adalah jalan tanpa kekerasan, yang dijalani di tengah realitas sejarah, politik, dan sosial yang konkret. Bahkan para murid pun pernah diingatkan: “Sarungkan pedangmu.”

Paus mengajak umat Kristiani untuk dengan jujur mengakui keterlibatan masa lalu dalam kekerasan dan memilih kesaksian kenabian di masa kini. Di dunia yang memuja kekuatan dan dominasi, kebaikan hati justru menjadi bentuk kekuatan yang melucuti. Ia merefleksikan misteri Inkarnasi: Allah memilih hadir sebagai seorang anak kecil, memperlihatkan bahwa kelemahlembutan adalah jalan keselamatan.

Perlucutan Senjata yang Menyentuh Hati

Mengutip kembali ajaran Santo Yohanes XXIII, Paus menegaskan bahwa perlucutan senjata tidak cukup berhenti pada penghapusan persenjataan fisik. Tanpa perubahan batin manusia—tanpa perlucutan senjata hati dan pikiran—perlombaan senjata tidak akan pernah berakhir.

Akar ketakutan harus disembuhkan melalui pembaruan cara berpikir dan sikap batin, menggantikan kecurigaan dengan kepercayaan. Perdamaian sejati, tulis Paus, tidak dibangun atas keseimbangan senjata, melainkan atas saling percaya.

Dalam konteks ini, agama-agama dipanggil untuk menjadi ruang perdamaian, bukan alat pembenaran kekerasan. Iman harus mendorong dialog, keadilan, dan pengampunan, bukan permusuhan.

Tanggung Jawab Moral dan Politik

Paus Leo XIV juga menegaskan peran penting otoritas publik. Ia menyerukan pembaruan komitmen terhadap diplomasi, mediasi, dan hukum internasional, seraya menyayangkan melemahnya perjanjian global dan lembaga-lembaga supranasional.

Perdamaian, tegas Paus, bukanlah utopia. Ia adalah pilihan nyata—baik secara pribadi, sosial, maupun politik. Menggema dengan peringatan Paus Fransiskus, Paus Leo XIV menolak narasi yang menggambarkan kekerasan sebagai sesuatu yang tak terhindarkan, karena narasi semacam itu kerap menjadi alat dominasi.

Berjalan dalam Harapan

Pesan tersebut ditutup dengan nada penuh harapan, terinspirasi oleh nubuat Kitab Suci tentang senjata yang diubah menjadi alat kehidupan. Dalam semangat Yubileum Harapan, Paus mengajak umat manusia untuk memulai dari dalam: melucuti hati, pikiran, dan cara hidup.

Perdamaian, tulis Paus, sudah ada dan rindu berdiam dalam diri manusia. Tugas kita bukan menciptakannya, melainkan menerimanya—dan membiarkannya mengubah serta melucuti segala pertahanan batin yang menghalangi kasih. Sumber: Vatikan News. (Sam)

Komentar

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini