XINXIANG, Pena Katolik – Gereja Katolik di Tiongkok menyaksikan sebuah peristiwa bersejarah: penahbisan episkopal Mgr. Francis Li Jianlin sebagai Prefektur Apostolik Xinxiang, Provinsi Henan. Ia ditunjuk Paus Leo XIV pada 11 Agustus 2025. Penunjukan ini berlangsung dalam kerangka Perjanjian Sementara antara Takhta Suci dan Republik Rakyat Tiongkok, serta menyusul diterimanya pengunduran diri dari Mgr. Joseph Zhang Weizhu.
Mgr. Li Jianlin lahir pada 9 Juli 1974 di kota Huixian, Provinsi Henan, dari sebuah keluarga Katolik yang taat. Sejak muda, ia menapaki jalan panggilan imamat dengan penuh dedikasi. Antara September 1990 hingga Juni 1999, ia menjalani masa formasi dan discernment di dua seminari: Zhengding dan Yixian, Provinsi Hebei.
Pada 23 Juli 1999, ia menerima tahbisan imamat dari Mgr. Nicola Shi Jingxian (Prefektur Apostolik Xinxiang). Setelah itu, ia langsung melayani sebagai Pastor Paroki di Qinyang selama satu tahun.
Sejak tahun 2000, Pastor Li Jianlin dipercaya untuk mendampingi pembinaan para seminaris dan religius di wilayah yurisdiksi Xinxiang. Dedikasi ini menunjukkan komitmennya terhadap pembinaan generasi baru Gereja. Kemudian, sejak 2011, ia mengemban tugas sebagai Pastor Paroki di Jiaozuo, sebuah pelayanan yang ia jalani dengan penuh kesetiaan hingga saat penunjukannya sebagai Uskup.
Penahbisan episkopal pada Desember 2025 menandai tonggak baru dalam perjalanan hidup Francis Li Jianlin. Momen ini menjadi simbol penting bagi Gereja Katolik di Tiongkok. Dengan pengangkatan ini, Gereja setempat memperoleh seorang gembala baru yang berakar kuat dalam tradisi iman, berpengalaman dalam pembinaan rohani, dan siap menuntun umat di Prefektur Apostolik Xinxiang menuju masa depan yang penuh harapan.
Sementara itu, Mgr. Zhang, yang diterima pengunduran dirinya, ia sebelumnya ditahbiskan secara diam-diam dengan persetujuan Vatikan tahun 1991. Selama ini, ia tidak pernah diakui oleh Beijing dan ditahan tanpa akses komunikasi sejak penangkapannya pada Mei 2021.
Mgr. Zhang dan beberapa pastor serta seminaris ditahan karena mereka diduga melanggar peraturan yang mewajibkan para klerus untuk mendaftar ke negara. Setelah tahanan lain dibebaskan, namun Mgr. Zhang masih belum diketahui.
Setelah Vatikan menyatakan pengunduran diri Mgr. Zhang, tak lama kemudian, otoritas Tiongkok secara resmi mengakuinya sebagai uskup. Takhta Suci lalu pada menyambut baik “pengakuan sipil” ini dan menyatakan bahwa perkembangan ini menandai “langkah penting” dalam dialog yang sedang berlangsung dengan Beijing.
“Langkah ini merupakan hasil dialog antara Takhta Suci dan otoritas Tiongkok dan merupakan langkah baru dan penting dalam perjalanan komunal pembatasan gerejawi,” ujar juru bicara Vatikan, Matteo Bruni.



