Di tengah perjalanan iman sebagai peziarah pengharapan, seni menjadi cerminan jiwa, sebuah bahasa universal yang menyentuh hati, mengundang refleksi, dan membangkitkan inspirasi. Dalam semangat Tahun Yubilium 2025, Gereja Katedral Hati Kudus Yesus – Surabaya dengan bangga menghadirkan pameran seni “Bishop’s Love Affair”, sebuah galeri yang mengajak kita untuk merenungkan kasih dalam terang Kristus melalui karya-karya seni Monsinyur Agustinus Tri Budi Utomo.
Tema “Diligere Sicut Christus Dilexit”—Mencintai Seperti Kristus Telah Mencintai—bukan sekadar ungkapan iman, tetapi juga sebuah panggilan. Pameran ini mengundang setiap pengunjung untuk masuk ke dalam perjalanan rohani yang mendalam, di mana seni menjadi jendela bagi pengalaman iman, pengorbanan, dan harapan.

Mengasihi Lewat Seni
Sebagai seorang gembala, Monsinyur Didik tidak hanya membimbing umat dengan kata-kata dan tindakan, tetapi juga dengan sapuan kuas yang penuh makna. Lukisan-lukisan yang ditampilkan dalam Bishop’s Love Affair bukan sekadar karya artistik, tetapi juga sebuah refleksi spiritual—perjalanan batin seorang pemimpin yang merasakan, menghayati, dan membagikan kasih Allah kepada umat-Nya.
Setiap goresan warna dan setiap simbol dalam lukisan-lukisan ini berbicara tentang pengorbanan dan harapan, tentang kasih yang melampaui batas, tentang iman yang tak tergoyahkan. Seni ini bukan hanya untuk dilihat, tetapi untuk dirasakan, direnungkan, dan dihidupi.
Selain lukisan-lukisan tersebut, pameran ini juga menampilkan Coat of Arms (Lambang Kepemimpinan) Bapa Uskup, yang bukan sekadar simbol heraldik, tetapi juga sebuah deklarasi spiritual. Setiap elemen dalam logo tersebut mengandung pesan tentang arah, panggilan, dan komitmen pelayanan dalam menggembalakan umat Keuskupan Surabaya.

Mengapa Pameran Ini Penting?
Penyelenggara menghadirkan pameran ini bukan hanya untuk menampilkan keindahan seni, tetapi juga untuk menyampaikan pesan yang lebih dalam:
Menyadari bahwa kasih adalah panggilan utama setiap orang beriman: Kasih bukan sekadar emosi, melainkan sebuah komitmen, sebuah perjalanan yang mengubah hati. Kristus telah menunjukkan kasih sejati-Nya—kasih yang tidak mencari keuntungan, tetapi memberi sepenuhnya.
Menghubungkan seni dengan spiritualitas: Seni adalah ekspresi jiwa, dan dalam konteks ini, seni menjadi sarana pewartaan iman. Setiap lukisan dalam pameran ini bukan sekadar gambar, tetapi sebuah doa yang digoreskan dalam warna.
Menjadikan refleksi ini sebagai panggilan untuk bertindak: Kristus mengasihi dengan kesetiaan, pengorbanan, dan kehadiran-Nya yang penuh pengharapan. Melalui pameran ini, umat diajak untuk meneladani kasih Kristus dalam kehidupan sehari-hari—dalam keluarga, dalam komunitas, dalam pelayanan kepada sesama.

Terbuka untuk Semua
Bishop’s Love Affair bukan sekadar pameran seni, tetapi sebuah perjalanan batin. Setiap orang—baik umat Katolik maupun masyarakat luas—diundang untuk datang dan mengalami kasih Tuhan dalam bentuk yang berbeda.
Ini adalah kesempatan untuk merenungkan kasih Kristus yang tanpa batas, untuk memahami lebih dalam bagaimana seorang gembala menghidupi imannya dalam seni, dan untuk menemukan inspirasi bagi perjalanan iman masing-masing.