VATIKAN, Pena Katolik— Paus Leo XIV menyampaikan apresiasi mendalam kepada Gereja Katolik di Tiongkok atas kesetiaan mereka menjaga persekutuan (komunio) dengan Takhta Suci Roma. Pesan tersebut disampaikan melalui tayangan video dalam konferensi bertajuk “The Universal Face of the Church in China” yang digelar di Universitas Pontifikal Urbaniana, Roma, Italia pada Kamis, 5 November 2026.
Pertemuan tersebut diselenggarakan untuk memperingati 100 tahun penahbisan enam uskup pertama asal Tiongkok pada tahun 1926 oleh Paus Pius XI, sekaligus menjadi ruang refleksi atas dinamika relasi Vatican-Tiongkok saat ini.
Konferensi penting ini dihadiri oleh sejumlah tokoh kunci Gereja Katolik, antara lain Sekretaris Negara Vatikan Kardinal, Pietro Parolin; Dekan Kolegium Kardinal, Kardinal Kardinal Luis Antonio Tagle; Uskup Hong Kong, Kardinal Stephen Chow Sau-yan, SJ; serta Uskup Haimen, Mgr. Ignazio Ding Zuyao.
Persekutuan dengan Petrus
Dalam pesannya, Paus Leo XIV menyoroti sejarah panjang kesetiaan umat Katolik Tiongkok kepada kepausan. Mengutip pernyataan Paus Benediktus XVI, ia menegaskan bahwa umat Katolik di Tiongkok senantiasa memiliki “para gembala sah yang tetap menjaga keutuhan suksesi apostolik.”
“Tidak ada gembala dalam Gereja yang dapat mengklaim misi tersebut sebagai miliknya sendiri. Sebaliknya, ia menerima dan menjalankannya dalam persekutuan dengan penerus Petrus dan bersama seluruh penerus para rasul lainnya, yakni para uskup,” ujar Paus Leo XIV.
Mengenang peristiwa bersejarah seabad lalu, ketika enam imam melintasi belahan dunia dari Shanghai menuju Roma, Paus Leo XIV menyatakan bahwa perjalanan tersebut dilakukan untuk menjadi saksi bagi persekutuan yang bersumber dari iman para rasul. Mengutip Paus Benediktus XV, Paus Leo XIV menekankan bahwa karya misioner Gereja murni lahir dari misi untuk bersaksi tentang Kristus dalam kasih.
Vatikan-Tiongkok
Takhta Suci dan Tiongkok tidak memiliki hubungan diplomatik resmi sejak tahun 1921. Namun, para masa Paus Fransiskus, vatikan membuat kesepakatan sementara Sino-Vatikan, yang salah satunya berisi tentang kesepakatan dalam penunjukan uskup. Kesepakatan yang ditandatangani pada 2018 telah beberapa kali diperbarui.
Menanggapi hal tersebut di sela-sela konferensi, Kardinal Pietro Parolin mengakui bahwa kesepakatan yang ada saat ini memang belum sempurna.
“Semua kesepakatan itu tidak ada yang sempurna, termasuk kesepakatan dengan Tiongkok. Namun, jalurnya sudah terbuka. Jadi kita terus melangkah maju berusaha menyempurnakan apa yang belum sempurna,” ujar Kardinal Parolin.
Sementara itu, Kardinal Stephen Chow Sau-yan, SJ menyoroti stigma dan kecurigaan yang masih sering dihadapi umat Katolik di Tiongkok akibat kekhawatiran pemerintah lokal akan pengaruh asing.
“Kami bertanya-tanya mengapa Gereja kita di Tiongkok selama bertahun-tahun masih saja dipandang sebagai Gereja asing. Saya mengira kekhawatiran utama di Tiongkok adalah jangan sampai agama digunakan sebagai alat intervensi asing.”
Di sisi lain, beberapa hierarki Gereja Tiongkok menyuarakan dukungan terhadap kebijakan “Sinisikasi” — sebuah upaya pemerintah untuk menyesuaikan lembaga keagamaan dengan agenda nasional.
Uskup Agung Beijing, Mgr. Joseph Li Shan, menyatakan bahwa “Sinisikasi Katolisitas” bukanlah bentuk penyimpangan dari tradisi Katolik. Langkah ini adalah sebuah ekspresi katolisitas yang otentik.
Pandangan senada disampaikan oleh Uskup Haimen, Mgr. Ignazio Ding Zuyao, yang ditahbiskan pada Oktober lalu di bawah skema kesepakatan Vatikan-Tiongkok. Ia menegaskan bahwa Langkah ini adalah ekspresi alami dari iman batiniah dan bentuk pelaksanaan yang setia atas perintah Kristus.
“Berikanlah kepada Kaisar apa yang menjadi hak Kaisar dan kepada Allah apa yang menjadi hak Allah,’ ujarnya.
