VATIKAN, Pena Katolik— Paus Leo XIV melakukan pembicaraan melalui telepon dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy pada hari Senin, 19 Oktober 2026. Pembicaraan ini berlangsung hanya beberapa hari setelah Bapa Suci melakukan percakapan serupa dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Dalam dialog tersebut, Paus menyoroti krisis kemanusiaan di wilayah Kherson. Ia menegaskan kembali komitmen penuh Takhta Suci terhadap dialog dan perdamaian.
Sebelumnya, dalam sambungan telepon pada hari Kamis, 15 Oktober 2026, bersama Presiden Putin, Paus Leo XIV mengajukan permohonan gencatan senjata demi alasan kemanusiaan di Oleshky, sebuah kota di wilayah Kherson, Ukraina, yang terus menghadapi krisis kemanusiaan berkepanjangan. Namun, menurut pernyataan resmi Kremlin yang dirilis pasca-percakapan tersebut, pihak Moskow justru melimpahkan tuduhan atas kondisi krisis tersebut kepada pihak Kyiv.
Inisiatif gencatan senjata kemanusiaan itu kembali menjadi topik utama dalam percakapan telepon antara Paus Leo XIV dan Presiden Zelenskyy pada hari Senin.
Berdasarkan keterangan resmi dari Kantor Berita Takhta Suci, Bapa Suci mengajukan permohonan gencatan senjata kemanusiaan yang telah disampaikannya kepada Presiden Federasi Rusia.
Paus menyampaikan harapannya agar kerja sama antara kedua belah pihak dapat memungkinkan penyaluran bantuan makanan dan medis, serta evakuasi warga sipil secara sukarela dan aman. Bapa Suci juga menegaskan kembali komitmen Takhta Suci untuk mempromosikan dialog dan perdamaian.
Inisiatif Diplomatik
Percakapan telepon dengan Presiden Ukraina ini menandai langkah lanjutan dari serangkaian upaya diplomatik yang melibatkan Kyiv, Moskow, dan Takhta Suci. Langkah diplomasi ini diawali oleh kunjungan Kardinal Matteo Zuppi, utusan khusus Paus, yang melakukan perjalanan terlebih dahulu ke Kyiv dan dilanjutkan ke Moskow.
Dalam kunjungan Kardinal Zuppi ke Ukraina pada bulan Juni lalu, ia ditanya apakah Paus bersedia memberikan advokasi bantuan kemanusiaan bagi penduduk di Kherson dan Oleshky. Paus Leo XIV menyetujui hal tersebut. Selama perjalanannya ke Moskow pada 28–30 September 2026 lalu, Kardinal Zuppi menyampaikan kesediaan Bapa Suci untuk mengintervensi isu kemanusiaan ini.
Sekretaris Negara Vatikan, Kardinal Pietro Parolin, menjelaskan bahwa percakapan telepon dengan Putin berakar dari keinginan kuat Paus akan tercapainya dialog.
“Bapa Suci-lah yang mengambil inisiatif untuk membela nasib kota yang terkepung ini,” ujar Kardinal Parolin kepada para wartawan pada hari Jumat, 16 Oktober 2026.
Sumber-sumber dari Rusia mencatat bahwa Presiden Putin memiliki ketertarikan khusus untuk mengadakan percakapan kedua bersama Paus, menyusul komunikasi pertama mereka yang berlangsung pada Juni 2025.
Percakapan pada hari Senin tersebut menjadi komunikasi via telepon ketiga antara Paus Leo XIV dan Presiden Zelenskyy sejak dimulainya masa kepausannya. Selain percakapan telepon, kedua pemimpin tersebut juga telah bertemu secara langsung sebanyak tiga kali.
