VATIKAN, Pena Katolik — Kesucian para kudus, baik dari Gereja Perdana, maupun saksi iman masa kini, harus didasarkan pada kesaksian yang otentik dan terpercaya. Hal tersebut ditegaskan oleh Paus Leo XIV saat menyapa para peserta Konferensi “Holiness in History” yang diselenggarakan oleh Dikasteri untuk Penggelaran Kudus di Institut Patristik Pontifikal Augustinianum, Roma, Italia.
Paus mengatakan, sejarah dunia tidak dapat dipisahkan dari sejarah para santo. Paus Leo menjelaskan bahwa penggunaan metode historis dalam proses kanonisasi bertujuan menghasilkan historiografi atau penulisan sejarah belaka.
“Sejarah dunia tanpa para santo akan jauh lebih miskin; artinya, kurang manusiawi,” kata Leo dalam pidatonya.
Penyelidikan sejarah ini bertujuan untuk menyingkap teladan hidup, spiritualitas, serta reputasi kesucian dari para calon kudus. Paus menegaskan bahwa penyelidikan sejarah juga harus memperhitungkan bagaimana evolusi sejarah dan budaya memengaruhi konsep kesucian itu sendiri. Namun, hal ini bukan berarti hakekat kesucian berubah seiring berjalannya waktu, melainkan menunjukkan bagaimana menafsirkan pengalaman hidup tertentu melalui kacamata Injil.
Di akhir amanatnya, Paus Leo mengajak untuk merenungkan bagaimana kehadiran dan kesaksian para kudus telah mengubah jalan sejarah. Hal itu terjadi karena para kudus menjawab panggilan Allah dalam situasi zamannya masing-masing, dengan menyatukan iman dan sejarah serta mempersembahkan hidup mereka untuk membangun Kerajaan Allah.
“Kesaksian para kudus mengingatkan kita akan daya Paskah yang inovatif dan transformatif. Mereka menunjukkan kepada kita sebuah sejarah yang dibentuk oleh iman,” tutur Paus Leo XIV.
