NABIRE, Pena Katolik – Dua puluh lima tahun komunitas Santa Theresia Karadiri II: merawat iman, membangun persaudaraan, menyiapkan masa depan.
Sekitar sepuluh orang berkumpul di Gereja Ekumene Karadiri II, Nabire, pada November 1998. Dipimpin Ruben Pigai, mereka mendaraskan Bapa Kami dan Salam Maria. Dari pertemuan sederhana itu, benih sebuah komunitas iman mulai tumbuh.
Sebulan kemudian, Frater Ignatius Aria Dewanto, SJ, datang melayani atas perutusan Pastor Wolfgang Bock, SJ. Pada 14 Maret 1999, Pastor Wolfgang mempersembahkan Misa perdana. Selanjutnya, pada 1 Oktober 2001, ia menetapkan kelompok tersebut sebagai Komunitas Basis Santa Theresia Kanak-Kanak Yesus.
Perjalanan itu terus berlanjut hingga komunitas resmi menjadi stasi pada 14 Mei 2025.
Pada Kamis, 1 Oktober 2026, umat merayakan 25 tahun sejak pembentukan komunitas basis melalui Ekaristi syukur. Perayaan dipimpin Pastor Johanes Sudrijanta, SJ, Dekan Teluk Cenderawasih, bersama P. V. Budi Nahiba, Pr, Pastor Paroki Santo Yosep Nabire Barat; P. Stefanus Yogi, Pr, Rektor Tahun Orientasi Rohani (TOR) Regio Papua; serta P. Hendrikus Hendy, Pr, Pembina TOR.
Kini, sekitar 30 kepala keluarga meneruskan perjalanan iman tersebut. Di sekitar mereka, Karadiri sedang berkembang menjadi kawasan pusat pemerintahan Provinsi Papua Tengah. Pertumbuhan ini membuka peluang pekerjaan, pendidikan, dan usaha, sekaligus menghadirkan tantangan dalam kehidupan masyarakat yang semakin beragam.
Dalam homilinya, Pastor Sudrijanta menegaskan bahwa Gereja harus menjadi tempat orang belajar berdamai sebelum belajar berkonflik. Perdamaian perlu dirawat setiap hari: dalam keluarga, dalam cara berbicara, dalam menyelesaikan perbedaan, serta dalam hubungan antara masyarakat asli dan pendatang.
Ia mengajak umat membangun komunitas yang terbuka, tempat setiap orang diterima dengan hormat, tanpa membedakan suku, asal-usul, maupun keadaan ekonomi. Dengan demikian, kehadiran Gereja menjadi sumber persaudaraan bagi masyarakat.
Pandangan umat juga diarahkan kepada 25 tahun berikutnya. Setelah perjalanan yang menghasilkan tanah dan bangunan, Pastor Sudrijanta mengajak komunitas semakin tekun membentuk manusia yang beriman, berintegritas, kompeten, dan berbelarasa.
Dari Karadiri diharapkan tumbuh panggilan imamat dan hidup membiara, juga guru, tenaga kesehatan, pemimpin yang jujur, serta berbagai pribadi yang mengabdikan kemampuan bagi sesama. Harapan itu berakar dalam keluarga, tempat anak pertama kali belajar kasih, tanggung jawab, doa, dan pengampunan.
Kisah Karadiri memberi semangat kepada siapa pun yang sedang merintis pelayanan. Ada orang yang memulai dengan doa, ada yang datang melayani, dan ada yang setia meneruskan. Melalui kesediaan mereka, iman menemukan tempat untuk bertumbuh.
Misi itu berlanjut setiap kali seorang anak dibimbing, sebuah keluarga dikuatkan, seorang pendatang disambut, dan persaudaraan dipulihkan.
Dahulu, sekitar sepuluh orang memulai dengan dua doa. Hari ini, perjalanan mereka mengingatkan kita: jangan takut memulai pelayanan yang kecil. Kasih yang dirawat dengan setia dapat menjadi harapan bagi generasi berikutnya.
